Dunia Seni Yogya Berduka, Seniman Den Baguse Ngarso yang Populer lewat Serial TVRI ‘Mbangun Deso’ Tutup Usia

3 Min Read
Man with gray hair in a red floral shirt sits at a desk with a stack of papers in a bright room nearby yellow curtains.
Den Baguse Ngarso, karakter antagonis yang angkuh, haus jabatan, namun kerap mengundang tawa. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Bagi generasi 1990-an, serial sitkom Mbangun Deso yang ditayangkan TVRI Yogya tentu tak asing di telinga.

Salah satu tokoh yang paling membekas ialah Den Baguse Ngarso, berkarakter antagonis yang angkuh, haus jabatan, namun kerap mengundang tawa.

Di balik karakter itu, ada sosok Susilo Nugroho. Peran Den Baguse Ngarso yang dimainkannya selama bertahun-tahun membuat namanya dikenal luas.

Sejarah Pendidikan Susilo Nugroho

Susilo Nugroho tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang seni, khususnya teater. Ia menyelesaikan pendidikannya di SD Suryodiningratan II Yogyakarta (1971), SMP Pangudi Luhur I Yogyakarta (1974), dan SMA Kolese De Britto Yogyakarta (1977).

Kemudian ia melanjutkan studi di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta Jurusan Ekonomi (1982). Artinya, kemampuan dan kapasitas aktingnya tidak diperoleh di sekolah formal seni tapi diperoleh dari berbagai lembaga seni yaitu komunitas, kelompok, dan berbagai peran yang dipercayakan kepadanya.

Di ruang-ruang seni itulah, ia terus berproses dan berkembang mematangkan seni peran yang ditekuninya sejak duduk di bangku SMA.

Pada 1983, ia bersama dengan Heru Kesawa Murti, Jujuk Prabowo, Sepnu Heryanto dan Saptaria Handayaningsih mendirikan Teater Gandrik.

Dalam berbagai pementasan dengan kelompok teaternya tersebut, ia sering memainkan peran sentral. Ia juga aktif sebagai penulis naskah dan sutradara ketoprak di Kethoprak Tjonthong Yogyakarta.

Hingga kabar duka pun menyelimuti dunia seni dan budaya Yogyakarta, Susilo Nugroho, yang dikenal masyarakat dengan sebutan Den Baguse Ngarso tersebut, meninggal dunia di usia 67 tahun, Senin (21/9/2026) di rumahnya, Jalan Cuwiri, Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

Kesaksian Marwoto

Kerabat almarhum, Marwoto, saat dikonfirmasi membenarkan atas meninggalnya Susilo Nugroho. Jenazah selanjutnya akan dibawa ke Rumah Duka Arimatea, RS Bethesda Yogyakarta, di jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, untuk menjalani proses penyucian.

“Berpulangnya Susilo Nugroho menjadi kehilangan bagi dunia seni dan budaya di Yogyakarta,” ucapnya.

Marwoto mengenal Susilo Nugroho karena sering memainkan peran penting bersama komedian Cak Lonthong, Akbar, Wisben, dan lainnya dalam pementasan serial “Indonesia Kita” yang diprakarsai oleh Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, dan Agus Noor di Jakarta.

Ia juga pernah merambah dunia film, di antaranya pada 2009 berperan sebagai Heri yang dikreditkan sebagai Den Baguse Ngarso di film Preman in Love, sebagai Arifin dalam film Ayat-ayat Adinda yang dirilis 2015, dan pada 2024 ini sebagai Junaedi dalam film berjudul Ipar adalah Maut.

“Peran legendaris khas Susilo yang masih diingat masyarakat hingga sekarang terletak pada ekspresinya yang kemaki atau kemlinthi, sinisme, dan arogan, yang tahu semua hal. Atau terkadang sok keminter terhadap berbagai masalah sosial, politik, dan ekonomi,” ucapnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar