Mabur.co – Belakangan ini media sosial diramaikan dengan kemunculan berbagai konten tentang kimpul, umbi lokal Indonesia yang mulai mencuri perhatian kalangan Generasi Z.
Bukan tanpa alasan, kimpul kini diolah menjadi beragam makanan, mulai dari dumpling ayam, mashed potato, keripik, stik kimpul, hingga camilan sehat yang dinilai cocok sebagai alternatif sumber karbohidrat.
Ibu Kimpul Indonesia sekaligus konten kreator, Suratini, mengatakan, awalnya membuat konten karena resah melihat pasar tradisional yang mulai sepi pembeli.
Namun, setelah beberapa waktu, membuat konten justru membuatnya kelelahan dan kehabisan ide.
“Saya kemudian memilih membagikan pengalaman keseharian, termasuk soal makanan yang sejak kecil sudah akrab. Akhirnya saya menuangkan keresahan tentang makanan. Dulu keluarga saya makan kok sekarang tersingkirkan banget,” ucapnya ditemui di selasar Masjid Kotagede, Sabtu (26/9/2026).

Suratini mengatakan, sejumlah makanan yang dahulu mudah ditemukan ketika dirinya masih kecil kini semakin sulit dijumpai.
Dari keresahan itulah ide-ide memasak kemudian bermunculan. Ia mencoba mengolah kembali pangan lokal yang pernah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya.
“Sebenarnya enggak hanya kimpul, tapi yang sering diangkat kimpul karena kimpul yang ada sepanjang tahun. Kalau umbi-umbian yang lain itu musiman,” ucapnya.
Suka Mengonsumsi Makanan Lokal
Menurut Suratini pula, sejak kecil, memang terbiasa mengonsumsi makanan lokal sesuai musim. Jagung, berbagai jenis umbi-umbian, hingga cantel atau sorgum menjadi bagian dari menu sehari-hari.
Kebiasaan tersebut membuatnya terbiasa mencari cara agar bahan pangan lokal dapat diolah menjadi berbagai makanan.
“Kimpul yang memiliki tekstur cenderung hambar, misalnya, bisa diolah menjadi beragam menu. Memang saya tidak bisa lepas dari makanan yang sudah saya makan dari zaman kecil. Keseharian saya memang senang masak, terus terutama kalau pagi itu sarapan saya makanan jadul-jadul, makanan ndeso itu. Saya sering membeli umbi-umbian, para pedagang di pasar maupun warung langganan,” ucapnya.
Makanan Lokal Tetap di Hati Masyarakat
Melalui konten-kontennya, Suratini ingin makanan tradisional dan pangan lokal tetap memiliki tempat di tengah perubahan selera masyarakat.
“Saya senang melihat generasi muda mulai mengenal kembali makanan yang dahulu biasa dikonsumsi orang tua maupun kakek-nenek mereka. Namun, tren tersebut jangan sampai hanya berhenti sebagai fenomena sesaat. Saya berharap pemerintah maupun pelaku usaha kuliner ikut mengambil peran dengan memberikan ruang lebih besar bagi pangan lokal.
Pengusaha kuliner, misalnya, dapat memasukkan menu berbahan umbi-umbian atau pangan lokal lainnya ke dalam daftar makanan yang mereka jual. Dengan begitu, keberlangsungan pangan lokal dapat ikut terjaga. Harusnya ada pihak yang punya kekuatan atau punya kapasitas untuk menyambut ini. Kalau enggak ya hanya jadi fomo saja,” katanya. ***
