Tanpa Ubah Cita Rasa, Tum Ayam Khas Bali Bisa Diolah dengan Berbahan Kimpul

3 Min Read
Banana leaf pocket opened to reveal sticky rice with savory filling, garnished with cucumber and carrot rose on a wooden plate.
Tum ayam adalah hidangan tradisional khas Bali yang dibuat dari daging, ikan, atau ayam berbumbu yang dikukus dalam bungkus daun pisang. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Tum ayam adalah hidangan tradisional khas Bali yang dibuat dari daging, ikan, atau ayam berbumbu yang dikukus dalam bungkus daun pisang.

Bumbu khas seperti bawang, cabai, dan kemiri menciptakan cita rasa yang gurih dan kaya rempah. Proses pengukusan membuat tum lebih sehat karena tidak menggunakan minyak berlebih.

Makanan ini sering dijumpai dengan variasi bahan yang berbeda. Tum biasanya disajikan sebagai lauk pendamping nasi atau bagian dari hidangan tradisional.

Ikuti Lomba Masak Berbahan Kimpul

Ni Komang, peserta lomba olahan kimpul asal Bali, mengatakan, mengikuti lomba masak berbahan kimpul karena senang memasak.

“Dalam lomba ini saya membuat masakan tum khas dari Bali yang saya kombinasikan dengan kimpul,” ucapnya, Sabtu (26/9/2026).

Ni Komang menuturkan, baru pertama memasak berbahan kimpul.

“Saya memang suka dengan kimpul tapi belum pernah saya kombinasikan dengan masakan. Biasanya saya cuma beli kimpul terus dikukus dan direbus saja,” ucapnya.

Selama ini, tum ayam di Bali memang disajikan dalam bungkus daun pisang. Perpaduan rasa gurih dari santan, pedas dari cabai, serta aroma harum daun pisang menjadikan tum ayam sebagai sajian yang istimewa untuk menemani sepiring nasi putih hangat.

Makanan Tradisional Bali Diolah dengan Bahan Segar

Dalam bahasa Bali, kata “tum” berarti “dibungkus”. Merujuk pada teknik membungkus bahan makanan menggunakan daun pisang sebelum dimasak.

“Selain bernilai budaya, makanan tradisional Bali umumnya diolah menggunakan bahan-bahan segar dan alami. Memiliki kandungan lemak yang relatif rendah serta tidak menggunakan zat aditif pewarna maupun pengawet sehingga relatif aman untuk dikonsumsi,” ucapnya.

Close-up of a crumbly grayish dumpling with small orange bits inside a banana leaf wrapper.
Tum ayam khas Bali diolah berbahan kimpul. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Perbedaan Tum Ayam dan Pepes Ayam

Menurut Ni Komang, meskipun sama-sama hidangan berbahan dasar protein yang dibungkus dengan daun pisang dan dikukus, tum ayam dan pepes ayam memiliki perbedaan pada bumbu dasar yang digunakan.

“Pada umumnya, pepes ayam merupakan hidangan yang dikenal luas di Pulau Jawa, terutama Sunda. Bumbu yang digunakan untuk membuat pepes di antaranya adalah bawang, cabai, kunyit, serta tambahan daun kemangi, irisan tomat hijau, dan belimbing wuluh yang memberikan rasa segar pada pepes.

Sementara, tum ayam berasal dari Bali dan menggunakan bumbu rempah khas Bali, yaitu dasar genep yang kaya akan kencur, lengkuas, dan seringkali untuk menambah tekstur lembut serta rasa lebih gurih tum ayam ditambahkan sedikit santan,” ucapnya.

Teknik membungkus tum ayam dan pepes menurut Ni Komang juga berbeda. Tum ayam dibungkus dengan cara membentuk kerucut atau limas, mengumpulkan ujung daun pisang ke bagian atas lalu disemat dengan lidi (ditum).

“Sedangkan pepes hanya dibungkus memanjang atau dipipihkan seperti posisi membuat lontong, lalu kedua ujungnya disemat lidi atau dilipat rapi,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar