Ini Penyebab Wacinwa Punah dan Hilang dari Khazanah Seni Pertunjukan di Yogyakarta 

4 Min Read
Five intricately dressed marionette puppets on tall stilts stand against a white wall with red cloud drawings in a museum display.
Para tokoh dalam Wacinwa. (Foto: Kompas)

Mabur.co – Wayang Cina Jawa atau Wacinwa merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan unik yang lahir dari pertemuan budaya Tionghoa dan Jawa di Yogyakarta. 

Baca Juga: https://mabur.co/budaya/uniknya-wacinwa-wayang-dengan-dalang-tokoh-dan-lakon-orang-cina/

Namun sayang kesenian ini bisa dikatakan hampir hilang dan punah karena tidak pernah lagi dimainkan dalam panggung pertunjukan selama belasan bahkan puluhan tahun.

Menurut kajian Aneng Kiswantoro dari Jurusan Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dikutip mabur.co, Minggu (27/9/2026), Wacinwa mulai berkembang dan banyak dipentaskan hingga sekitar 1960-an. Namun, setelah penciptanya Gan Thwan Sing meninggal pada 1967, pertunjukan Wacinwa terhenti.

Ketiadaan tokoh yang meneruskan keahlian tersebut membuat Wacinwa tidak lagi memiliki kesinambungan sebagai seni pertunjukan.

Selama hampir setengah abad, tidak ada pementasan Wacinwa yang berlangsung secara rutin.

Persoalan Regenerasi atau Pewarisan Budaya

Kondisi itu menjadi salah satu penyebab utama Wacinwa nyaris hilang dari kehidupan seni pertunjukan. Ketika pertunjukan berhenti, proses pewarisan pengetahuan pedalangan, cerita dan teknik memainkan Wacinwa juga ikut terputus.

Selain persoalan regenerasi, Wacinwa memiliki karakter fisik yang membuatnya tidak mudah dipentaskan.

Kiswantoro menjelaskan, rata-rata tinggi wayang Wacinwa sekitar 35 sentimeter. Ukuran terbesar dapat mencapai sekitar 68 sentimeter sehingga jauh lebih kecil dibandingkan wayang kulit Jawa yang umumnya berukuran lebih besar.

Struktur tubuhnya juga berbeda. Kepala dan badan wayang dibuat terpisah dan dapat diganti sesuai konsep tokoh. Gapit hanya sampai bagian leher, sementara kepala dan badan disatukan dengan cara diikat atau dijahit.

Sebagian besar Wacinwa juga tidak memiliki palemahan seperti pada wayang kulit Jawa. Ukurannya yang relatif kecil membuat konstruksi tersebut tetap dapat digunakan, tetapi pada saat yang sama membuat wayang lebih sulit dipindahkan dan rentan mengalami kerusakan.

Persoalan lain muncul karena keterbatasan perangkat Wacinwa itu sendiri. Saat ini koleksi utama Wacinwa yang masih tersisa di Yogyakarta berada di Museum Sonobudoyo. Koleksi tersebut berjumlah 412 bagian, terdiri atas 283 wayang dan 139 kepala wayang.

Sementara itu, satu set lainnya diketahui berada dalam koleksi pribadi mendiang Dr. Walter Angst di Jerman.

Karena merupakan koleksi museum perangkat Wacinwa tidak dapat dipinjam dan digunakan untuk pertunjukan secara bebas.

Kondisi ini membuat sejumlah tawaran pementasan Wacinwa tidak selalu dapat dipenuhi karena harus mempertimbangkan keamanan benda koleksi.

Di satu sisi, penyimpanan di museum membantu menjaga wayang agar tetap lestari. Namun di sisi lain, keterbatasan penggunaan koleksi menjadi tantangan ketika Wacinwa ingin dihidupkan kembali sebagai seni pertunjukan.

Upaya untuk menghidupkan kembali Wacinwa sendiri beberapa kali dilakukan Museum Negeri Sonobudoyo bersama Dinas Kebudayaan DIY pada 2014.

Pameran Wacinwa pernah digelar pada 3-10 Oktober 2014. Pada 9 Oktober 2014, Wacinwa kembali dipentaskan.

Hampir Setengah Abad Wacinwa Tidak Tampil

Pertunjukan tersebut menjadi momentum penting karena berlangsung setelah hampir setengah abad Wacinwa tidak tampil di hadapan publik sejak meninggalnya Gan Thwan Sing pada 1967.

Respons masyarakat terhadap kebangkitan Wacinwa cukup positif. Pada 2015, muncul sejumlah tawaran pementasan, termasuk di Semarang, komunitas Tionghoa Peranakan Yogyakarta, dan dalam rangkaian Festival Ketandan.

Namun, tidak semua rencana dapat terlaksana karena adanya persoalan izin peminjaman koleksi. Pementasan Wacinwa dalam Festival Ketandan pada 5 Maret 2015 akhirnya dapat dilakukan setelah memperoleh izin penggunaan wayang dari Museum Sonobudoyo.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menghidupkan kembali Wacinwa bukan hanya persoalan menghadirkan dalang dan cerita, tetapi juga menyangkut ketersediaan wayang serta keamanan benda koleksi.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar