Menonton Film “Manusia Jawa dan Tumbuhan”, Merawat Ingatan Sastrawan Iman Budhi Santosa

3 Min Read
Poster advertising the documentary 'Manusia Jawa dan Tumbuhan' featuring a person in a forest performing a martial arts pose; event details shown at the bottom in Indonesian text.
Poster pemutaran film dokumenter Iman Budhi Santosa. Foto: Istimewa

Mabur.co – Puisi Iman Budhi Santosa tidak pernah jauh dari akar. Jika penyair lain mengejar langit, Romo Iman, demikian ia biasa dipanggil, justru menunduk: menatap sawo kecik, tembuni, lempuyang, dan rumput ilalang.

Tafsir atas kedekatan itu kini dijahit menjadi film dokumenter puitik “Manusia Jawa dan Tumbuhan”. Pemutaran perdana dan diskusinya digelar Selasa, 29 September 2026, pukul 19.30 WIB di Auditorium IFI Yogyakarta, Jl. Sagan No.3.

Film pendek ini adalah apresiasi terhadap sepilihan puisi Iman Budhi Santosa dari masa ke masa. Diskusi dipandu Sukandar dari Penerbit Interlude bersama Tonny Trimarsanto dari Rumah Dokumenter sebagai pembahas.

Panitia menyebut kehadiran publik penonton diharapkan memperkaya tafsir masyarakat atas puisi-puisi tersebut, sekaligus menjadi wujud upaya mengenang bersama kontribusi Iman pada ranah sastra Indonesia, khususnya puisi.

Iman Budhi Santosa (1948-2020) Memang Unik

“Teks sastra yang ditulis Iman Budhi Santosa liris dengan bahasa sederhana. Namun, dalam kesederhanaan itu terkandung falsafah yang dalam. Selain itu, Iman banyak menulis tentang tanaman. Mungkin hal itu karena Penyair Jebolan PSK Malioboro ini pernah menjadi pegawai negeri sipil yang bertugas di bidang perkebunan,” kata Ganjar Harimansyah, salah seorang pengamat sastra Indonesia, dalam 100 hari wafatnya sang penyair.

Bahkan, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang mengenalnya kurang lebih 51 tahun menyebut, “Mas Iman itu guru kita bab alam dan tumbuhan. Mas Iman saya kira sudah mengelaborasi semua pengetahuan menjadi kebijaksanaan.”

“Buku ini menyadarkan kita bahwa manusia Jawa, khususnya wong cilik, punya hubungan khusus dengan tumbuh-tumbuhan. Bukan sekadar berkaitan dengan mata pencaharian, atau kesukaan dan klangenan, tetapi interaksi mereka dengan tumbuhan itu menjelma sebuah dunia tersendiri,” tulis Emha di CakNun.com mengulas karya Iman.

Dari buku-bukunya publik juga tahu betapa nama desa di Jawa diambil dari tumbuhan, misalnya Gondangrawe di Boyolali dari pohon Rawe, Randublatung di Blora dari Randu, hingga Sulang di Rembang.

Tonny Trimarsanto, yang membedah filmnya nanti, dalam catatannya menyebut Iman bukan antropolog, tapi mencatat Jawa dengan jeli.

Produksi film ini didanai oleh Dana Indonesiana, LPDP, dan Kementerian Kebudayaan RI melalui skema Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro 2025.

Jika berkenan hadir, silakan isi form: https://forms.gle/KquYN5KEyVrkKQdt6.

Karena mengenang Romo Iman, kata Sukandar, bukan sekadar membaca puisi, tapi kembali belajar menanam makna. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar