“Untuk perencananan jangka panjang pembangunan Kawasan Stasiun Lempuyangan, idealnya apa yang harus dilakukan Pak Embas?” Tim Mabur.co mengejar beberapa pertanyaan hampir di bagian akhir wawancara ini.
Karena sekarang sudah muncul perbedaan data, yang dibutuhkan bukan perdebatan di media sosial. Yang dibutuhkan adalah keterbukaan dokumen. Publik perlu mengetahui antara lain:
1. Daftar 13 rumah yang dibongkar, lengkap dengan alamat atau nomor masing-masing.
2. Status masing-masing rumah dalam database cagar budaya pemerintah.
3. Salinan atau dasar penetapan SK Wali Kota Yogyakarta No. 798/KEP/2009 dan objek yang tercantum di dalamnya.
4. Apakah rumah-rumah yang dibongkar merupakan objek yang sama dengan Perumahan PJKA yang tercantum dalam SK tersebut.
5. Dokumen kajian yang menjadi dasar keputusan terhadap rumah-rumah tersebut.
6. Rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya apabila pernah dilakukan kajian.
7. Pertimbangan pelestarian dalam desain pengembangan kawasan Stasiun Lempuyangan.
8. Langkah pengamanan terhadap dua rumah yang masih tersisa.
Baca juga: Lapisan Arkeologi yang Perlu Diperhatikan (Bagian 4)
Itulah cara menyelesaikan persoalan ini secara ilmiah. Bukan dengan tuduhan. Bukan pula dengan asumsi.
Baca Juga: Jika Memang Ada SK, Mana Batas Objek Cagar Budaya Rumah yang Dirobohkan? (Bagian 3)
Dua Rumah Tersisa
Sekarang masih ada dua rumah yang tersisa. Kondisinya membuat persoalan ini perlu disikapi dengan hati-hati. Jika pekerjaan galian berada sangat dekat dengan bangunan lama, maka kestabilan fondasi dan tanah di sekitarnya perlu diperiksa.
Baca Juga: Perumahan PJKA L. Sri Rahayu Handayani adalah Bangunan Cagar Budaya (Bagian 2)
Tidak perlu menunggu bangunan retak untuk kemudian bertanya siapa yang bertanggung jawab. Langkah paling masuk akal adalah memastikan kondisi struktur, membuat dokumentasi teknis, dan melakukan pengamanan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya risiko.
Baca Juga: Arkeolog-Budayawan Embas Menyoal Perobohan Bangunan Tua di Kawasan Stasiun Lempuyangan (Bagian 1)
Sejarah Tidak Hanya Ada di Museum
Ada kecenderungan untuk menganggap sejarah hanya berada di benda yang sudah diberi label. Padahal sejarah kota juga hidup dalam rumah-rumah yang pernah dihuni manusia biasa. Pegawai kereta api. Keluarganya. Anak-anak mereka. Orang-orang yang setiap hari bekerja di stasiun.
Mereka mungkin bukan tokoh besar yang namanya masuk buku sejarah. Tetapi kehidupan merekalah yang membuat sebuah kawasan menjadi kota. (Bersambung)
