Mabur.co – Artsy Craft, sebuah start-up industri kreatif berfokus pada karya-karya seni pengawetan bunga yang unik dan penuh makna.
Produk-produk bunga awetan yang dihasilkan Artsy Craft tidak hanya sekadar dekorasi, tetapi juga merupakan kenang-kenangan sentimental yang dapat diingat selamanya.
Beralamat di Jl. Gondang Raya, Condong Catur, Depok, Sleman, Artsy Craft telah berkembang menjadi “pemimpin” dalam bidang kerajinan pengawetan bunga, dengan produk yang sudah menembus pasar internasional, termasuk Singapura dan Malaysia.
Tak Biarkan Bunga Layu
Bagi sebagian orang, bunga hanya dinikmati selama beberapa hari sebelum akhirnya layu dan dibuang. Namun di tangan Annisa Septipanindya Sari, bunga justru memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama.
Lewat Artsy Craft yang dikembangkan Annisa, ia mengubah bunga bekas menjadi karya fungsional, mulai dari asesori hingga perabot rumah yang tetap menyimpan kenangan bagi pemiliknya.

Annisa menuturkan, berawal dari kegemarannya terhadap bunga, ia melihat ada sesuatu yang sayang jika keindahannya hanya berhenti sebagai buket.
Dari rasa penasaran itulah ia mulai mencari cara agar bunga bisa bertahan lebih lama tanpa kehilangan bentuk dan warnanya.
“Aku memang suka banget sama bunga. Tapi kalau hanya dimanfaatkan di buket, bunga kan cepat layu. Dari situ mulai trial and error, baca banyak referensi dan jurnal, ternyata memang bunga bisa diawetkan,” ujarnya, saat ditemui di pameran Pertamina Smexpo di Pasar Ngasem, Sabtu (3/10/2026).
Annisa mengatakan, saat memulai usaha pada 2018, referensi mengenai teknik pengawetan bunga di Indonesia masih sangat terbatas.
Memahami Teknik yang Tepat
Ia harus mencari berbagai jurnal dan sumber dari luar negeri untuk memahami teknik yang tepat hingga akhirnya menemukan metode yang sesuai.
Pada awal merintis usaha, bahkan halaman buku Yellow Pages menjadi salah satu media yang digunakan karena dinilai efektif menyerap kelembapan bunga. Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga empat belas hari.
“Selama itu pula kondisi bunga harus terus dipantau agar tidak berjamur,” ucapnya.
Annisa mengatakan, selain metode manual, Artsy Craft menggunakan silika bubuk yang bekerja menyerap kelembapan sehingga bunga dapat mengering dengan tetap mempertahankan bentuknya.
“Bunganya kemudian kami lapisi menggunakan resin. Tujuannya supaya lebih awet dan tahan terhadap kelembapan, sehingga bisa bertahan jauh lebih lama,” katanya.
Annisa mengatakan pula, Artsy Craft menghadirkan beragam homeware seperti tatakan gelas, kotak tisu, jam dinding, binder, hingga asesori seperti kalung, gelang, cincin, anting, dan bros. Seluruhnya menggunakan bunga asli yang telah diawetkan.
“Selain produk siap jual, Artsy Craft banyak menerima pesanan khusus dari pelanggan yang ingin mengabadikan bunga dengan nilai emosional,” katanya.
Pelanggan Ingin Memori Abadi
Annisa menjelaskan, rata-rata pelanggan adalah perempuan. Banyak pelanggan yang ingin memorinya tetap ada.
Bunga dari wedding atau graduation akhirnya diawetkan menjadi jam, frame, atau karya lain yang bisa terus dilihat dan digunakan.
Selama ini Artsy Craf telah mengolah berbagai bunga yang umum digunakan dalam acara pernikahan maupun wisuda.
“Hampir semua bunga bisa diawetkan. Bunga-bunga yang biasa dipakai untuk wedding atau graduation hampir semuanya bisa. Paling disukai kebanyakan bunga yang berwarna soft seperti pink, ungu, dan biru,” ujarnya.
Menurut Annisa, untuk proses pembuatannya melibatkan diskusi bersama pelanggan agar hasil akhirnya sesuai dengan kenangan yang ingin mereka abadikan.
Harga dibanderol mulai Rp25 ribu untuk pembatas buku dan kartu ucapan hingga sekitar Rp3 juta untuk karya personal berukuran besar. Jangkauan pasarnya pun terus meluas.
“Selain melayani pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia, Artsy Craft juga telah mengikuti pameran di Malaysia dan Singapura. Serta memasarkan produk melalui sejumlah toko homeware di Jakarta, Bali, Surabaya, hingga Yogyakarta,” ucapnya.
