Binatang: Antara Denotasi dan Konotasi Umpatan Kasar

Binatang sesungguhnya tak mampu memberi nama dirinya sendiri. Manusialah yang memberikan julukan dan nama dengan bahasa manusia.

Kita mengenal kucing, anjing, ayam, merpati, gajah dan seabreg nama yang lain, tidak dibuat oleh binatang yang bersangkutan.

Manusialah yang menerapkan nama dan julukan kepada masing-masing jenis binatang.

Pada mulanya nama binatang itu “netral” sebagaimana nama yang diterapkan sebagai penanda apa pun atau siapa pun.

Cebong adalah jenis binatang yang kelak akan bermetamorfosa menjadi katak. Kampret adalah binatang yang suka keluar malam untuk mencari makan.

Julukan netral tersebut menjadi kata yang pernah menjadi ungkapan kesinisan yang ditujukan pada pihak yang berseberangan pada kontestasi politik Indonesia yang lalu.

Merpati faktanya adalah burung yang setia pada pasangan, manusia banyak yang selingkuh. Merpati tak pernah ingkar janji.

Ular yang sering digambarkan sebagai iblis, ternyata tidak serakah, kalau kenyang diam, manusia ambisius dan banyak yang tamak. Perut manusia hanya sejengkal, tapi seluruh isi bumi mau ditelan.

Harimau sepanjang masa tidak pernah membunuh spesies, manusia tega dan merasa menegakkan kebenaran ketika membunuh sesama. Bahkan genosida berdasarkan kemuliaan ras atau agama.

Anjing yang menjadi diksi makian paling populer di Indonesia. Ternyata cerdas, setia dan tahu mana kawan serta lawan. Padahal banyak manusia sering menohok kawan seiring.

Monyet sayang dengan anak-anaknya, banyak manusia yang kejam dan keji terhadap anak sendiri.

Babi, terlepas dagingnya diharamkan untuk dikonsumsi orang Islam temuan ilmiah membuktikan DNA-nya justru mirip dengan manusia.

Beberapa organ babi sangat dimungkinkan untuk ditransplantasikan ke tubuh manusia. Bahkan unsur dalam diri babi bisa menjadi obat penyembuh penyakit manusia.

Melihat fakta dan realitas tadi, apakah dimungkinkan kata makian dengan menggunakan nama hewan harus diganti dengan julukan manusia yang tak beradab tak bermoral?

Manusia melakukan kejahatan yang binatang tidak sanggup melakukannya! Secara guyon sering diungkapkan, iblis dan setan pun bahkan tidak melakukan kebiadaban manusia.

Mereka “hanya menggoda” tidak pernah melakukannya. Tetapi mereka jadi tumpuan kesalahan dan dosa. Konon katanya dosa manusia itu terjadi karena tidak kuat menahan godaan setan dan iblis.

Termasuk menggunakan nama hewan yang sesungguhnya tak bersalah untuk mengumpat serta menghardik sesama manusia yang lain.

Seperti kata anjing, monyet, babi sudah lama menjadi kata umpatan di kalangan manusia. Secara fakta memiliki sifat positif yang manusia justru sering mengkhianatinya.

Walaupun harus diakui ada nama binatang yang digunakan secara lebih “positif”.

Misalnya merak untuk keanggunan, merpati untuk kesetiaan, kancil untuk kecerdikan, rajawali untuk keberanian dan lain sebagainya.

Kita seringkali tidak tahu dan tidak mau tahu alasan manusia mengubah makna dari nama binatang yang secara denotatif netral menjadi berkonotasi sesuai hasrat manusia.

Sebab perilaku binatang pada dasarnya alamiah naluriah, tidak terikat kriteria benar salah baik buruk.

Termasuk mengapa nama “buaya” sering dipakai untuk julukan manusia laki-laki yang suka “mempermainkan” perempuan.

Padahal aslinya binatang buaya jantan setia pada pasangan bahkan sangat melindungi komunitas spesiesnya yang di dalamnya ada buaya betina.

Kalau ada gelar makhluk paling aneh dan absurd di kehidupan ini, saya pikir ya untuk kita-kita ini, MANUSIA, yang selalu merasa sebagai makhluk termulia di alam. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *