Sitanadi Fest Kaliadem, Hadirkan Seni Jatilan dari Tiga Kelompok Berbeda di DIY dan Jateng

4 Min Read
Stage at night with red lighting and a large screen reading 'Sitandi Fest'; dancers in gold and black costumes perform in front of a cheering crowd.
Suasana kemeriahan Sitanadi Fest di Dusun Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. (Foto: JH Kusmargana)
2 dari 2 Series - Saat Cerita Rakyat dan Mitologi Diangkat dalam Seni Jatilan Modern di Sitanadi Fest 
Group of performers in ornate gold Barong costumes on a stage, with spectators and a bright LED backdrop behind them.
Saat Cerita Rakyat dan Mitologi Diangkat dalam Seni Jatilan Modern di Sitanadi Fest 
Stage at night with red lighting and a large screen reading 'Sitandi Fest'; dancers in gold and black costumes perform in front of a cheering crowd.
Sitanadi Fest Kaliadem, Hadirkan Seni Jatilan dari Tiga Kelompok Berbeda di DIY dan Jateng
Saat ini

Mabur.co – Di bawah rintik hujan pertama musim penghujan, sebuah festival kesenian megah digelar di pelosok desa lereng sisi selatan gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (24/10/2026) malam.

Suasana yang semula dingin, seketika berubah menjadi hangat saat tiga kelompok kesenian dari DIY dan Jawa Tengah tampil bergantian di atas panggung modern yang dipenuhi warna-warni sorot lampu yang memukau.

Ratusan warga mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua tampak memenuhi lokasi acara, seakan terpesona melihat pertunjukan kesenian jatilan yang ditampilkan. Semakin malam, suasana semakin ramai. Menjadikan pementasan itu terasa sangat istimewa. 

Itulah gambaran penyelenggaraan Sitanadi Fest yang digelar para pemuda karang taruna asal Padukuhan Kaliadem, Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. 

Kesenian Tradisional Jatilan Dikemas Modern

Digelar untuk pertama kalinya, festival ini menampilkan pertunjukan kesenian tradisional jatilan yang dikemas secara modern, dan berasal dari tiga wilayah berbeda, yakni Temanggung, Klaten serta Kaliadem sebagai tuan rumah.

Dukuh Kaliadem, Saryono, mengatakan selain bertujuan untuk memberikan hiburan bagi masyarakat, Sitanadi Fest ini juga digelar sebagai ruang pertemuan antar-seniman lintas daerah sekaligus upaya menjaga keberlanjutan kesenian tradisional.

Mengusung tema “Melanjutkan Kebudayaan, Mengalirkan Kehidupan”, festival ini juga digelar untuk menumbuhkan kecintaan serta mengajak generasi muda agar terus aktif terlibat dalam kegiatan pelestarian budaya khususnya kesenian tradisional jatilan.

“Sitanadi Fest ini lahir dari gagasan pemuda-pemudi yang tergabung dalam kelompok Karang Taruna. Persiapannya sudah kita laksanakan sejak bulan Februari 2026 lalu. Harapannya, dengan adanya Sitanadi Fest ini, kekompakan warga Kaliadem semakin erat. Selain itu, festival ini menjadi wahana untuk mempertahankan kebudayaan agar nilai-nilai budaya yang ada di Kaliadem terus rahayu dan tetap dipertahankan,” ujar Saryono. 

Menurut Saryono, pertemuan kelompok kesenian dari berbagai daerah dapat memberi kesempatan bagi seniman untuk saling mengenal karakter pertunjukan masing-masing.

Di sisi lain masyarakat juga dapat menyaksikan beragam bentuk kesenian tradisional dalam satu panggung yang sama.

Tari Kreasi Putri

Diisi penampilan tiga kelompok kesenian dari Temanggung, Klaten, dan Kaliadem, Sitanadi Fest menyuguhkan tari kreasi jatilan modern. Yakni Kamaratih Candramaya dari Temanggung yang menampilkan tari kreasi putri. 

Lalu ada kelompok Muda Utomo dari Klaten yang membawakan Jaramaya. Sementara kelompok Turonggo Trustho Wilogo, dari Dusun Kaliadem sendiri menghadirkan kesenian Jathilan dengan karakter prajurit serta unsur Warok dan Wiro Yudo.

Saryono menuturkan, kesenian jatilan atau jaran kepang sendiri telah ada di tengah kehidupan masyarakat Kaliadem sejak ratusan tahun silam.

Kesenian ini terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga berkembang menjadi kelompok kesenian Trustho Wilogo saat ini.

Keterlibatan Generasi Muda

Karena itu, keterlibatan generasi muda dinilai menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Sitanadi Fest. Yang diharapkan mampu memberikan ruang bagi mereka untuk mengembangkan kegiatan seni sekaligus menjaga tradisi yang telah diwariskan.

Selain itu kegiatan ini juga diharapkan mampu menggerakkan perekonomian warga. Pasalnya terdapat sekitar 50 pedagang UMKM yang turut dilibatkan dengan membuka lapak dan berjualan di sekitar lokasi selama festival berlangsung. 

Mendapat dukungan penuh dari Kalurahan Kepuharjo, unsur Kapanewon Cangkringan, kepolisian, koramil, masyarakat, hingga sejumlah sponsor perusahaan, Sitanadi Fest ini diharapkan dapat digelar secara rutin setiap tahunnya dan menjadi ikon baru pertunjukan kesenian di Sleman. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar