Suminto A Sayuti yang Menjerumuskan ke Jalan Sastra, Jalan yang Benar

5 Min Read
Cover of Malam Tamasari, a poetry anthology by Suminto A. Sayuti, with a white line drawing of a man holding a rifle on a purple background
Buku kumpulan puisi Malam Tamansari karya Suminto A Sayuti. Foto: Istimewa

Jika teringat Prof. Suminto A Sayuti, guru besar sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta yang besok berumur 70 tahun, maka selalu saja teringat kiprah sosok sastrawan dan akademisi yang identik liar.

Saya sebut liar karena diksi pembicaraan yang digunakan seringkali tidak normatif sebagaimana akademisi lainnya. Sebut saja akademisi tertib kosa kata.

Nah, bagi saya, sosok Pak Minto, demikian Prof. Suminto A Sayuti akrab disapa, adalah sosok akademisi sempalan yang berada di luar marka normatif. Sebut saja akademisi abangan. Bukan akademisi kiai atau akademisi santri.

Namun sosok yang hadir sebagai akademisi dengan kosa kata liar itu tetap saja inspiratif. Justru orang yang mendengar banyak kosa kata liarnya akan terpacu untuk lebih kreatif berkarya.

Salah satu kalimat yang merupakan perwujudan kosa kata liar dari sosok Pak Minto adalah ketika ia menyebut bahwa memasuki dunia sastra adalah sama saja terjerumus ke jalan yang benar.

Ketika mendengar kosa kata itu pun saya merasa tergugah. Saya sendiri adalah orang yang dijerumuskan oleh Pak Minto ke jalan yang benar itu. Jalan sastra. Jalan kebudayaan.

Sekadar kilas balik, saat saya SMA di Wates, Kulon Progo, saya pernah ikut lomba cipta puisi yang diselenggarakan majalah Matras terbitan IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta).

Kebetulan saat itu saya juara satu dan salah satu jurinya adalah Pak Minto. Itulah awal mula saya merasakan dijerumuskan oleh Pak Minto ke jalan yang benar.

Ternyata saya memang ketagihan dengan dunia sastra. Bahkan jauh sebelum SMA saya sudah keranjingan dengan dunia sastra. Saat SMP pun sudah suka sastra apalagi era itu ada majalah Hai yang diasuh oleh pemimpin redaksi Arswendo Atmowiloto. Saya suka rubrik puisi yang ada di majalah Hai itu.

Waktu terus bergulir dan saya pun menjadi lebih kenal dengan karya-karya Pak Minto yang pernah menjerumuskan ke jalan sastra, jalan yang benar itu.

Saya suka puisi-puisinya yang cenderung berperspektif Jawa atau setidaknya berperspektif kearifan lokal. Misalnya puisi Pak Minto yang berjudul Malam Tamansari.

Penjaga malam itu datang tatkala rembulan jatuh di pundak tembok temu gelang. Aku pun bergegas masuk ke dalam mata cincin di jari manismu, Nimas.

Orang-orang ribut, “Maling sakti, maling sakti, di mana engkau sembunyi”.

Keraguan muncul menyelimuti kalbumu.

“Lepas dan berikan buat tumbal-pageblug negeri. Pipi ini lebih nikmat dielus telanjang jari.”

Aku pun bergegas sembunyi di ikat sanggul rambutmu. Engkau pun bergegas berbisik, “Maling hati, maling hati, Kepadamu selamanya aku bakalan mengabdi”.

Lalu sepi. Penjaga malam itu pergi tatkala rembulan jatuh di pundak tembok temu gelang.

Aku pun bergegas keluar dari persembunyian. “Surtikanti, Surtikanti, lelaki sejati tak pernah cidra ing janji”. Lalu sepi.

Sepertinya puisi itu sederhana saja. Tapi tentu saja memuat pesan moral yang dalam. Saya pun mulai belajar mengupas, belajar memahami puisi tersebut.

Ternyata hingga saya berumur setengah abad kini, puisi itulah yang paling nyantol dalam ingatan. Puisi yang bagi saya mewakili jiwa dari seluruh misi estetika yang ditawarkan Pak Minta untuk dunia sastra.

Jika dibenturkan era kini, dengan melimpahnya karya puisi yang ada di banyak platform, maka satu hal yang bisa dipetik dari perjuangan Pak Minto adalah soal konsistensi dalam menegakkan iman estetika.

Boleh dikata sejak muda dulu hingga kini sudah menyandang gelar profesor sastra, pola puisi Pak Minto tidak mengalami pergeseran. Ini pastilah pencapaian tersendiri.

Dalam proses kreatif penyair lain kadang terjumpai adanya pencarian bentuk estetika. Yang menarik dari Pak Minto bentuk estetika itu sudah ketemu sejak awal menjadi penyair hingga menjadi profesor!

Artinya pula Pak Minto tidak pernah neko-neko dalam berpuisi dan memang orang yang teguh pendirian. Saya menggarisbawahi ini dan menjadi saksi di dunia dan akhirat nanti.

Oleh sebab itu, pasti tidak hanya saya, siapa pun akan suka dan bahagia ketika dijerumuskan oleh Pak Minto ke dunia sastra. Karena teruji bahwa orang yang menjerumuskan itu memang orang yang konsekuen dan tidak asal-asalan saja.

Mungkin sejak lahir, meskipun dengan gaya yang slengekan kalau bicara, apa yang dilakukan Pak Minto sudah sangat konseptual.

Gen Z dan Gen Alpha tentu saja bisa belajar banyak dari sosok Pak Minto ini. ***

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar