Mabur.co – Untuk kesekian kalinya, ajang lomba panahan tradisional gaya Mataraman atau biasa disebut Gladen Ageng Jemparingan tingkat nasional kembali digelar di Kabupaten Kulon Progo.
Digelar di Alun-alun Wates, tahun ini tercatat ada sebanyak 787 pemanah dari berbagai daerah mengikuti ajang lomba panahan tradisional memperebutkan piala Bupati ini.
Anak-anak hingga Lansia
Para peserta terdiri dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak hingga dewasa bahkan lansia.
Mereka berasal 121 komunitas jemparingan se-Indonesia yang tersebar di 29 kabupaten/kota dan 6 provinsi.
“Bahkan ada peserta dari luar negeri yakni Puerto Rico,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, Sutarman di sela acara, Minggu (25/10/2026).
Dalam penyelenggaraan lomba ini sendiri para peserta terbagi dalam 5 kategori yakni anak putra, anak putri, dewasa putra, dewasa putri serta gagrak Mataram.
Setiap peserta masing-masing kategori harus memanah sasaran berupa bandulan yang berjarak sekitar 20 hingga 30 meter dalam beberapa kali rambahan.
Peserta paling banyak mengenai sasaran akan dianggap mendapat poin tinggi.
Salah satu syarat yang akan selalu terlihat dalam setiap ajang jemparingan adalah penggunaan busana adat Jawa oleh setiap peserta.
Tak hanya itu setiap pemanah juga harus memanah dalam posisi duduk bersila.
Lestarikan Olahraga Tradisional
Sutarman menjelaskan, selain digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-75 Kabupaten Kulon Progo, ajang ini juga digelar untuk melestarikan olahraga tradisional khas Keraton Yogyakarta sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
Salah satu hal yang menarik dalam ajang Gladen Hageng Jemparingan Kulon Progo tahun ini adalah proses penilaian yang dilakukan secara digital atau real time scoring system.
Dengan sistem ini perhitungan poin setiap peserta menjadi lebih cepat dan efisien.
“Tahun ini sistem skoring perlombaan sudah menggunakan sistem digital. Inovasi ini membuat perhitungan poin menjadi lebih cepat, transparan, dan dapat dipantau langsung oleh peserta secara real time melalui ponsel masing-masing,” jelas Sutarman.
Selain menjadi ajang kompetisi tahunan untuk mencari bibit-bibit pemanah berprestasi, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antarpemanah tradisional sekaligus upaya pelestarian budaya warisan leluhur.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, berharap ajang yang sarat akan nilai-nilai persaudaraan, sportivitas, dan kecintaan terhadap warisan budaya ini dapat terus digelar setiap tahunnya. Bahkan dengan skala yang jauh lebih besar.
“Jika didukung waktu dan anggaran, perhelatan selanjutnya dapat dikemas dalam format festival akhir pekan. Peserta bisa bertanding di siang hari, lalu menikmati kuliner khas dan destinasi wisata Kulon Progo pada malam harinya. Ini tentu akan memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu salah seorang pemanah cilik, Astra Binawa (13) asal Bantul, mengaku antusias mengikuti ajang ini. Ia mengaku datang dengan didampingi ayahnya.
“Seru, asyiklah pokoknya! Harapannya ke depan pengin banget bisa juara,” ujar Astra yang sudah mengenal jemparingan sejak umur 4 tahun ini.
