Ketika Cerita Asap Kalimantan Sampai ke Jantung Malioboro

4 Min Read
Salah satu penampilan musik dalam aksi di KM 0. (Foto: Asutenan)
2 dari 2 Series - Besok Titik Nol Yogyakarta Menolak Lupa, Asap, dan Ketidakadilan
Public square with wooden benches around a planter, ornate green lampposts, and white colonial buildings under a blue sky.
Besok Titik Nol Yogyakarta Menolak Lupa, Asap, dan Ketidakadilan
Ketika Cerita Asap Kalimantan Sampai ke Jantung Malioboro
Saat ini

Mabur.co – Sore tadi, Minggu 25 Oktober 2026, pukul 15.00 WIB, Titik Nol Kilometer Yogyakarta tidak seperti biasanya.

Jika biasanya di sini turis selfie dengan latar belakang Plang Malioboro, sore ini yang berdiri adalah anak-anak Asrama Mahasiswa Kalimantan dengan baju hitam dan topeng arang.

Di atas trotoar panas, mereka menggelar performance art: berjalan pelan membawa ember kosong, simbol hutan yang dibakar dan tidak kembali.

Aliansi Strategis untuk Tolak Eksploitasi Alam dan Pembakaran Hutan (Asutenan) menggelar aksi keprihatinan bertajuk Stop Eksploitasi, Pulihkan Ekologi.

“Besok, (Asutenan) kumpul di Titik Nol Kilometer,” info sehari sebelum aksi.

Koordinator (Asutenan), Widihasto Wasana Putra mengatakan, aksi menjadi ruang perjumpaan solidaritas kemanusiaan.

“Ekspresi seni dan refleksi kebudayaan,” ditulis zonajogja.com, dikutip mabur.co, Minggu (25/10/2026).

Seni Datang Duluan, Orasi Belakangan

Titik Nol itu sakral. Secara historis, ini adalah patok KAN (Kilometer Nol) peninggalan Belanda 1880, titik pengukuran jarak ke seluruh Jawa.

Secara kosmologi Jawa, ini adalah pangkal Sumbu Filosofi Yogyakarta, garis imajiner dari Gunung Merapi – Keraton – Parangkusumo.

Jika keraton adalah jantung, Titik Nol adalah pusar. Di pusar itulah (Asutenan) memulai aksinya.

Bukan orasi yang pertama, tapi pantomim. Andy SW, mime Yogya, dengan muka putih, memerankan orang mencari air di tengah gambut yang terbakar. Gerakannya lambat, meniru asap yang naik.

Lalu Iwan Wijono, seniman performance yang pernah bikin karya lumpur Lapindo, membakar kertas-kertas koran yang bertuliskan “Izin Tambang” dan abunya ditebar ke udara.

Penonton batuk, tapi diam. Trio Jago Joko Lisandono, Agus Becak, Tejo Badut: tiga badut jalanan Malioboro, naik dengan becak hias, membawa poster: “Hutan Bukan Toko.”

Musikalisasi puisi oleh Paseduluran Malioboro, Rekki Zakkia, Risang Yuwono, Hendrik Pangkale, Sri Khrisna Encik.

Mereka membacakan puisi yang diubah: “Aku tulis darah dan asap, di atas tanah yang dibakar…”

Geguritan Jawa dari Lembaga Budaya Jawa Sekar Pangawikan Bambang Nur Singgih. Bahasa Jawa halus tentang alas gung liwang-liwung yang kobong. Baru setelah itu orasi.

Kekuasaan Bukan Hak untuk Mengabaikan Kehidupan

Pukul 16.00 mulai bicara asap Itu Angka, Bukan Cerita.

Widihasto Wasana Putra, koordinator (Asutenan), aktivis yang sudah puluhan tahun di Yogya, mengambil mic kecil.

“Kami mengajak publik melihat persoalan kebakaran hutan dan lahan secara lebih mendasar. Bukan hanya memadamkan api, tetapi bagaimana mencegah kerusakan berulang,” kata Hasto, dikutip zonajogja.com sehari sebelum aksi, dan diulang sore tadi di KM. 0.

“Pekerjaan penting yang dilakukan adalah memulihkan ekosistem, melindungi masyarakat, dan memastikan pertanggungjawaban pihak-pihak yang terbukti menyebabkan kerusakan,” lanjutnya.

Kalimat yang menjadi mantra sore itu: bumi bukan sekadar sumber keuntungan, hutan bukan semata-mata komoditas, dan kekuasaan bukan hak untuk mengabaikan kehidupan.

Angka di balik mantra itu mengerikan. Dua hari sebelum aksi, BNPB mencatat 18.421 hektare masih dalam penanganan.

“Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 18.421 hektare lahan masih dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi prioritas di Sumatra dan Kalimantan,” tulis owrite.id, 23 Oktober 2026, dikutip mabur.co, Minggu (25/10/2026). (Bersambung).

TAGGED:
Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar