Mabur.co – Kemunculan gambar berwarna hijau, biru, dan merah di sejumlah ruas jalan Kota Yogyakarta menjadi sorotan warganet menjelang aksi demonstrasi pada Rabu (28/10/2026).
Tiga warna tersebut ramai dibicarakan di media sosial Threads, karena mengingatkan sebagian masyarakat pada simbol visual yang muncul dalam demonstrasi pada Agustus 2025.
Pada aksi Agustus 2025, warna-warna tersebut dikaitkan dengan aspirasi dan solidaritas masyarakat di tengah gelombang unjuk rasa. Simbol visual itu juga dikaitkan dengan gerakan bertajuk “17+8 Tuntutan Rakyat: Transparansi, Reformasi, dan Empati”.

Kemunculan simbol ini menarik perhatian publik. Tentu saja karena diduga berkaitan dengan persatuan tiga kelompok suporter sepak bola yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Narasi Tiga Suporter
Yakni suporter PSS Sleman, PSIM Yogyakarta, dan Persiba Bantul. Narasi yang beredar menyebut ketiga kelompok suporter tersebut akan menunjukkan solidaritas bersama mahasiswa dan masyarakat dalam aksi demonstrasi.
Hal ini dikaitkan dengan kericuhan saat demonstrasi di depan Gedung DPRD DIY pada 20 Oktober 2026. Warna hijau identik dengan PSS Sleman, klub sepak bola yang bermarkas di Kabupaten Sleman.
Dalam tafsir yang beredar di media sosial, warna hijau dianggap mewakili kelompok suporter dari Sleman yang disebut akan bergabung dalam gerakan solidaritas menjelang aksi 28 Oktober.
Warna biru identik dengan PSIM Yogyakarta, klub sepak bola yang berasal dari Kota Yogyakarta. Warna ini kemudian ditafsirkan sebagai representasi suporter PSIM dalam narasi persatuan tiga kelompok suporter di DIY.
Akar Sejarah Kultural Konsolidasi Gerakan
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fajar Junaedi, menilai fenomena ini memiliki akar sejarah kultural yang kuat di Yogyakarta, terutama dari konsolidasi gerakan suporter sepak bola lokal.
“Kalau kita lihat dari kacamata semiotika, warna biru, hijau, dan merah yang muncul di DIY kemarin sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari dunia para suporter. Di sini warna-warna itu sudah lama punya makna sendiri. Biru itu identik dengan PSIM, hijau dengan PSS Sleman, merah dengan Persiba Bantul, yang kalau diperluas juga identik dengan Persis Solo, meskipun berada di luar DIY tapi ada relasi kultural,” ujarnya, Rabu (28/10/2026).

Fajar menjelaskan bahwa ketiga warna tersebut sempat menjadi simbol rivalitas sengit melalui jargon seperti Mataram is Blue atau Mataram is Red.
Mataram is Love
“Dulu ketiga warna ini sering dipakai untuk menunjukkan rivalitas. Bahkan sampai ada istilah Mataram is Blue atau Mataram is Red. Tapi setelah tragedi Kanjuruhan, ketiga warna itu justru disatukan lewat gerakan Mataram is Love. Hati biru, hijau, dan merah jadi simbol bahwa meskipun berbeda warna, mereka tetap satu Mataram, tetap bisa saling menghormati,” tuturnya.
Fajar menyoroti pergeseran fungsi bahasa visual ini saat mahasiswa dan masyarakat sipil turun ke jalan.
“Penggunaan almamater kampus seperti almamater biru milik Universitas Islam Indonesia (UII) dan jas merah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) secara tak langsung mengaktifkan memori kolektif publik, ketika warna yang sama muncul lagi di ruang publik setelah aksi mahasiswa kemarin, terutama ketika ada intimidasi dari ormas paramiliter. Suporter yang ‘well educated‘ bersuara di media sosial. Yang menarik, ketiga warna itu tidak lagi hanya milik stadion. Ia sudah jadi bahasa visual bersama di DIY,” ucapnya.
Menurut Fajar, ketika mahasiswa memakai almamater biru, jas merah, atau membawa atribut hijau, publik tidak hanya melihatnya sebagai identitas kampus, tapi juga sebagai bagian dari kode warna yang sudah familiar di dunia suporter.
“Intertekstualitasnya semakin kuat, karena kampus yang turun warnanya ada yang biru yaitu UII, dan merah yaitu UMY,” ucapnya.
Pengaktifan Kembali Mitos Kerukunan
Bagi Fajar, penggabungan elemen warna dalam konteks aksi sosial-politik di Yogyakarta dipandang sebagai bentuk pengaktifan kembali mitos kerukunan yang memudahkan penyampaian pesan kritis secara inklusif kepada masyarakat.
“Secara semiotika, yang terjadi adalah pengaktifan ulang mitos yang sudah ada. Mitosnya adalah bahwa di Yogyakarta, perbedaan warna tidak harus berarti perpecahan. Bisa berbeda kelompok, berbeda basis, tapi tetap bisa mengisi ruang yang sama untuk menyampaikan pesan,” ucapnya. ***
