3 dari 3 Series - Sultan Bayar Tujuh Pound Baca Naskah Kuno Keraton: Ini Tanggapan Ahli Manuskrip Sejarah UGM S. Margana
Mabur.co – Kita baper ketika mau baca naskah di Leiden harus bayar 7 poundsterling, tapi di keraton sendiri, berapa naskah yang bisa dibaca publik?
Di Museum Sonobudoyo, banyak naskah masih dalam kotak kaca, tidak didigitalkan. Di Leiden, ada KITLV Photos dan Maps, 40.000 foto Jawa 1860-1940, semua dirawat dengan suhu 18 derajat, kelembapan 45%.
Foto KITLV yang dipulangkan digitalnya ke Indonesia, berkaca dari kejadian-kejadian sebelumnya, kadang hanya tersimpan di hard disk dan itu rawan rusak.
Seperti kata R.M. Said dalam naskah babad: Sira kang ilang, tinemu ing papan liya: yang hilang, justru ditemukan di tempat lain.
Sebab itu juga seperti nasehat Serat Wulangreh Pakubuwono IV: “Aja kagetan, aja gumunan” artinya jangan mudah kaget, jangan mudah heran.
Apa yang Harus Dilakukan?
Polemik 7 poundsterling ini bukan soal uang. Ini soal kedaulatan data.
Sultan HB X yang harus bayar untuk arsipnya sendiri adalah metafora: Indonesia belum merdeka dalam arsip.
Tapi solusi Sri Margana, alumnus Leiden sejak kuliah S2-S3 masuk akal: minta pulangkan semua yang rampasan (Geger Sepehi). Yang hasil beli, hadiah, salinan orientalis, biarlah jadi etalase. Dan yang sudah didigitalkan 75 naskah, jangan ditaruh di rak eksklusif.
Buka akses, seperti dulu sempat online gratis sebelum diretas. Seorang peneliti muda UGM yang akses Leiden Digital Collections bilang: “Saya baca Babad Bedah ing Ngayogyakarta versi asli 1812 di Leiden, gratis online, padahal di Yogya naskah itu tidak kita temukan jika ingin melakukan penelitian”.
Dari Leiden untuk Yogya, dari Yogya untuk Dunia
Ironis. Mungkin Sultan tersenyum kecut karena tahu: bayar 7 poundsterling itu wajar dalam logika perpustakaan Eropa. Yang tidak wajar adalah kita membiarkan naskah kita dirawat orang lain selama 200 tahun, baru protes saat harus bayar fotokopi.
Seperti kata Pramoedya Ananta Toer: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.
Artinya kita beruntung sebab nenek moyang kita meninggalkan tulisan, manuskrip. Jika tidak mungkin sudah lama kita hilang dalam peradaban dunia.
Naskah itu sudah ditulis leluhur kita. Tugas kita bukan hanya mengambil kembali fisiknya, tapi memastikan ilmunya tidak mandek di lemari.
Sehingga kelak manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Naskah itu diselamatkan lewat Leiden untuk Yogya, dari Yogya untuk seharusnya bermanfaat bagi dunia. (Selesai).
