Leluhur Nusantara Ternyata Tak Kenal Budaya Minum Susu

3 Min Read
Milk bottle, glass, and pitcher arranged on a wooden table with a grazing cow in a grassy field behind them.
Ilustrasi (foto : istimewa)

Mabur.co – Kebiasaan minum susu yang banyak dilakukan masyarakat saat ini, ternyata bukan merupakan budaya asli Indonesia.  

Di masa lalu, leluhur nusantara bahkan menganggap susu sebagai  “darah putih” atau “nanah hewan” sehingga tak semestinya dikonsumsi. 

Baru pada abad ke 19, budaya minum susu mulai berkembang setelah masyarakat Eropa mengenalkan dan mmembawanya ke Indonesia saat masa kolonialisme.

Sejarah panjang budaya minum susu itu diungkapkan Peneliti BRIN, Taufik Kurniawan, dilansir dari laman Pemkab Gunungkidul. 

Menurut Taufik, kebiasaan minum susu sangat jarang dilakukan masyarakat Nusantara di masa lampau. 

Salah satu faktornya adalah karena sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki tubuh yang tidak mampu mencerna laktosa (gula alami pada susu) dengan baik.

“Pada era awal, masyarakat pribumi sempat takut meminum susu karena adanya stigma negatif bahwa cairan putih tersebut merupakan ‘darah putih’ atau bahkan ‘nanah hewan’,” ungkap Taufik.

Kebiasaan minum susu sendiri disebut mulai berkembangpada masa kolonial Belanda. Saat itu, kebutuhan susu di wilayah nusantara meningkat yakni untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Eropa yang tinggal di Hindia Belanda.

Peternakan sapi perah kemudian berkembang di sejumlah wilayah berudara sejuk, seperti Malang, Bandung, Pasuruan, dan Boyolali. Kondisi lingkungan di kawasan tersebut dinilai lebih sesuai untuk pemeliharaan sapi perah dibandingkan dataran rendah yang panas.

Memasuki abad ke-20, konsumsi susu mulai dikenal di kalangan elite pribumi yang memperoleh pendidikan dan mengenal manfaatnya bagi kesehatan. Namun, kebiasaan tersebut belum merata di seluruh lapisan masyarakat.

Perubahan berlangsung secara bertahap. Susu yang semula lebih dekat dengan pola konsumsi kelompok tertentu kemudian semakin dikenal sebagai bagian dari pemenuhan gizi keluarga.

Salah satu kampanye yang ikut memperkenalkan susu kepada masyarakat luas adalah slogan “Empat Sehat Lima Sempurna”. Dalam konsep tersebut, susu ditempatkan sebagai unsur penyempurna pola makan sehat.

Bahkan kini melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah juga mendorong peningkatan konsumsi susu pada anak-anak sekolah lewat menu maknan yang disajikannya.

Meski kini popularitas susu telah jauh meningkat,  Namun kemampuan produksi susu di dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. 

Taufik menjelaskan, kondisi geografis menjadi salah satu tantangan. Sebab di Indonesia yang beriklim tropis, wilayah yang sesuai untuk pengembangan peternakan sapi perah sangat terbatas.

“Sapi perah membutuhkan pengelolaan lingkungan, pakan, dan suhu yang sesuai agar produktivitasnya optimal. Biasanya di daerah dataran tinggi yang sejuk dan memiliki padang rumput luas. Itu yang jarang di Indonesia,” katanya.

Karena itu dibanding memaksakan pengembangan industri peternakan sapi, Taufik pun memberikan alternatif pengembangan produksi susu kambing yang dinilai lebih sesuai untuk iklim tropis seperti Indonesia. 

Selain itu pengembangan susu kuda juga dapat menjadi alternatif untuk menambah keragaman produk peternakan Nusantara, terutama di wilayah seperti Nusa Tenggara yang memiliki bentang alam sabana.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar