Mabur.co — Dua varietas Kopi Liberika dari Perbukitan Menoreh, Kulonprogo, yakni Lokananta dan Trajumas, secada resmi terdaftar di Kementerian Pertanian.
Keberadaan sertifikat tanda daftar dua varietas ini pun semakin memperkuat identitas kopi lokal asal Kulonprogo yang selama bertahun-tahun tumbuh dan dibudidayakan di wilayah Menoreh.
Dikutip dari rilis resmi Pemkab Kulonprogo, pengajuan 2 varietas kopi khas Menoreh ini tak bisa dilepaskan dari peran Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo, BP3MPTP Yogyakarta, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Ketua Kelompok Riset Optimasi Pemanfaatan Sumber Daya Genetik Lokal Tanaman Pangan BRIN, Kristamtini, mengatakan terlibat aktif dalam upaya ini.
Dimana timnya secara khusus memberikan pendampingan ilmiah untuk mengidentifikasi karakter tanaman dan menyusun deskripsi varietas secara akurat.
Hasil identifikasi sendiri menunjukkan adanya perbedaan pada bentuk daun kedua varietas. Lokananta memiliki daun lebar, sedangkan Trajumas berciri daun lebih sempit. Pencatatan karakter itulah yang kemudian menjadi dasar pengakuan keduanya sebagai varietas lokal.
Selama ini, keberadaan kopi Liberika di kawasan Menoreh memang terbilang cukup langka. Sebab mayoritas tanaman kopi yang ditanam disini adalah jenis robusta dan sebagian kecil arabika.
Kopi Liberika Menoreh sendiri dikenal memiliki karakter aroma yang khas. Lokananta dan Trajumas disebut menawarkan nuansa aroma nangka atau jackfruit notes, dengan tingkat kepahitan yang seimbang.
Disamping akan meberikan identitas yang lebih jejes terhadap masing-masing varietas, pendaftaran ini sekaligus juga diharapkan bisa menjadi motivasi petani kopibuntuk mengembangkan budidaya dan memperkuat posisi kopi Liberika Menoreh.
Dengan terdaftarnya Lokananta dan Trajumas, petani Pagerharjo dan Samigaluh memiliki pijakan baru untuk memperkenalkan varietas kopi lokal mereka secara lebih luas.
Pengakuan nasional ini juga sekaligus dapat membuka peluang bagi pengembangan kopi Menoreh sebagai produk unggulan daerah yang mampu memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat pembudidayanya.
