Sejenak Mengunjungi Lokananta, Studio Musik Pertama di Indonesia yang Sudah Direvitalisasi

3 Min Read
Lokananta merupakan studio rekaman atau studio musik pertama di Indonesia yang baru saja selesai revitalisasi. Lokananta didirikan pada 29 Oktober 1956 oleh Raden Maladi, Kepala Jawatan Radio Republik Indonesia (RRI) (Foto: Istmewa)

Mabur.co – Lokananta merupakan studio rekaman atau studio musik pertama di Indonesia yang baru saja selesai revitalisasi.

Lokananta didirikan pada 29 Oktober 1956 oleh Raden Maladi, Kepala Jawatan Radio Republik Indonesia (RRI).

Kala itu, Oetojo Soemowidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto Soerjodipoero turut serta dalam proses pendirian studio musik seluas 21.150 meter persegi ini. Bisa dibilang, Lokananta adalah salah satu tempat bersejarah yang menarik untuk dikunjungi dan dijelajahi oleh pecinta musik.

Suara Asli Soekarno

Pasalnya, studio musik tertua di Indonesia ini menyimpan sekitar 53.000 keping piring hitam, dan 5.670 master rekamanan bersejarah. Salah satunya adalah suara asli Soekarno saat membacakan teks proklamasi.

Dikutip dari laman instagram @lokanantabloc, awalnya studio musik yang terletak di Jl Ahmad Yani Nomor 379A, Kerten, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah ini digunakan untuk merekam materi siaran berbentuk piringan hitam yang disiarkan oleh 26 stasiun RRI di seluruh Indonesia.

Memasuki 1958, Lokananta mulai memproduksi piringan hitam yang berisikan lagu-lagu daerah dengan merek dagang “Lokananta”.

Koleksi musik yang dimiliki oleh Lokananta juga sangat komplet. Mulai dari musik gamelan Jawa, Bali, Sunda, musik Batak, hingga lagu-lagu rakyat (folklor).

Studio Rekaman Album Kompilasi Asian Games IV

Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada 1960-an, Lokananta menjadi studio rekaman album kompilasi Asian Games IV pada 15 Agustus 1962.

Sejak saat itu, Lokananta Solo mulai menjadi studio rekaman musisi legendaris di Indonesia. Beberapa musisi Indonesia yang pernah merasakan rekaman di Lokananta antara lain: Gesang, Waldjinah, Titiek Puspa, Bing Slamet, Manthous, Sam Saimun, hingga maestro jazz Buby Chen.

Fakta menarik Lokananta Solo tidak hanya menyimpan ribuan piringan hitam dan menjadi studio rekaman tertua saja. Ternyata, Lokananta Solo juga menyimpan pengeras suara mewah di zamannya, yaitu JBL D44000 Paragon, yang mana merupakan hadiah dari Bung Karno.

Selain itu, objek wisata yang telah difungsikan sebagai museum musik di Solo ini juga menyimpan berbagai koleksi mesin produksi musik era 1960 hingga 1990. 

Mulai dari mesin duplikasi kaset audio, Video Home System (VHS), mesin pemotong pita kaset, pemutar piringan hitam, konsol musik, dan berbagai alat perekam lawas yang sudah tidak terpakai. Lokananta Solo tidak hanya menjadi destinasi wisata musik saja. Melainkan, juga menjadi pusat kreativitas bagi seluruh musisi, seniman, maupun para pelaku ekonomi kreatif. Bahkan, tidak menutup kemungkinan revitalisasi Lokananta menjadi tempat rekaman para musisi internasional di masa mendatang. 

Sebagai ruang kreatif dan pusat pengembangan talenta kreatif, diharapkan Lokananta Solo dapat memberikan dampak sosial, pertumbuhan ekonomi, sekaligus tempat pelestarian budaya Indonesia.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar