Mabur.co – Media sosial hari ini ramai-ramai memperbincangkan aksi demonstrasi pada 28 Oktober 2026 di kawasan Bundaran HI, Jakarta.
Aksi yang diiikuti sejumlah mahasiswa, serta dihadiri jajaran anggota polisi, termasuk Raffi Ahmad yang menjabat utusan khusus presiden itu ramai dicibir warganet karena dinilai settingan.
Hal itu terjadi setelah sejumlah mahasiswa yang ikut dalam aksi tersebut diketahui ternyata bukan mahasiswa asli melainkan orang yang sengaja dibayar pihak tertentu.
Kesulitan Menjawab
Dugaan itu awalnya muncul usai para mahasiswa itu ditanya asal kampus mereka. Namun anehnya mereka kesulitan menjawab bahkan ada yang menolak menjawab pertanyaan tersebut.
Dalam sejumlah video yang banyak beredar di media sosial, seorang peserta aksi nampak mengaku dari kampus BSI meski memakai jaket almamater dengan lambang Universitas Dian Nusantara (Undira).
Hal itu pun kontan menjadi pertanyaan warganet. Tak sedikit warganet menyebut peserta aksi di Bundaran HI tersebut bukanlah mahasiswa melainkan orang yang disewa dengan memplesetkan sebagai mahasewa.
Pertanyaan warganet itu pun akhirnya terjawab usai pihak kampus Undira secara langsung memberikan klarifikasi lewat akun Instagram resmi mereka dengan membantah klaim peserta aksi tersebut secara halus bernada parodi.
“Clear ya guys video yang viral itu bukan kawan UNDIRA,” ulus akun @undiraofficial.
Tak lama, klarifikasi akhirnya muncul dari sang peserta aksi sendiri yang belakangan diketahui bernama asli Bayu Setiadi alias Dino.
Ia muncul ke publik untuk membuat pengakuan terbuka lewat video yang diunggah akun Instagram resmi BEM Undira.
Mengaku Dibayar
Dalam pernyataannya ia mengakui bukan mahasiswa Undira. Dan mengakui dibayar untuk melakukan aksi di Bundaran HI tersebut bersama Raffi Ahmad.
Tanpa tedeng aling-aling, ia blak-blakan menceritakan dapur di balik layar pengerahan massa tersebut.
“Saya bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara. Saya mengikuti acara deklarasi Sumpah Pemuda di bundaran HI pada 29 Oktober 2026, berdasarkan undangan dari komunitas dan saya dibayar. Mengenai almameter yang saya kenakan, itu diberikan kepada saya karena saya tidak tahu asal-usulnya,” ujarnya.
Fakta menarik juga terungkap pada sosok peserta aksi lainnya yang awalnya mengaku bernama Sari dari kampus BSI. Namun klaim tersebut akhirnya dipertanyakan setelah ada seorang warganet yang mengaku mengenal sosok tersebut.
Dalam sebuah komentar di Threads seorang warganet menyebut peserta aksi itu bukan mahasiswa lantaran pernah menjadi asisten rumah tangga keluarganya.
“Eh sariii kocakkk baru liat.. lu kan art budeku 2 tahun yang lalu.. anjirrr Shockkkk mau aku kirim di budeku .. ngadi ngadiii luuu sari.. dibayar berapa sari? Tulis warganet lewat akun @afiergyosa.
Mencuatnya kabar soal mahasiswa bayaran dalam aksi demonstrasi yang diduga settingan dan dihadiri Raffi Ahmad itu pun langsung viral dan mendapat kecaman serta cemoohan warganet.
Mereka mempertanyakan aksi tersebut yang dinilai menciderai aksi para mahasiswa sebelumnya. Terlebih dalam aksi itu Raffi Ahmad sendiri menyerukan agar generasi muda harus melawan hoaks dari media sosial, ujaran kebencian, dan provokasi.
Namun justru lewat aksi tersebut mereka sendiri yang justru dinilai menyebar hoaks dengan menggelar aksi settingan dan mengajak puluhan mahasiswa palsu yang dibayar uang.
