Saat Lagu Menjadi Sirene: Hari Kesadaran Tsunami Sedunia

6 Min Read
Man walks through rubble in front of a damaged temple with domed roofs after a disaster.
Tsunami Aceh 26 Desember 2004 tak kan hilang dari catatan sejarah (Sumber: Istimewa)

“Dengarlah sebuah cerita, pada zaman dahulu, tenggelam satu desa…”

Lagu itu bukan lagu pop. Ia dinyanyikan seorang kakek bernama Ahmadi di Simeulue, Aceh, untuk cucunya yang baru berusia satu tahun. Bukan tentang bintang atau kapal. Tapi lagu itu bercerita tentang cara manusia selamat dari tsunami.

Setiap 5 November, dunia memperingati World Tsunami Awareness Day. Tanggal itu dipilih PBB lewat Resolusi 70/203 tahun 2015, terinspirasi dari kisah Inamura-no-Hi di Jepang 1854, ketika seorang kepala desa membakar tumpukan padi untuk memaksa warga lari ke bukit saat tsunami datang. Di Indonesia, hari ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah hari untuk mengingat bahwa nenek moyang kita sudah punya sirene peringatan tsunami, jauh sebelum BMKG punya alat.

Simeulue: Smong, Lagu yang Menyelamatkan 78.000 Jiwa

Pulau Simeulue terletak 150 km lepas pantai barat Aceh, paling dekat dengan episentrum gempa 26 Desember 2004. Magnitudo 9,1. Gelombang 30 meter. Di Banda Aceh, 170.000 orang meninggal. Di Simeulue, hanya 7 orang.

Kenapa? Karena mereka punya Smong.

“Pengetahuan yang dimiliki masyarakat serta tindakan yang mereka ambil pada menit-menit awal tersebut sering kali menjadi penentu siapa yang akan selamat. Mereka bertindak berdasarkan konsep smong, sebuah istilah yang diwariskan secara turun-temurun oleh penduduk setempat melalui lagu pengantar tidur dan cerita rakyat sejak tsunami melanda Simeulue pada tahun 1907,” dikutip darilaut.id (5/11/2026).

Smong berasal dari bahasa Devayan: hempasan gelombang. Syairnya lima bait, dinyanyikan dalam bentuk nandong, seni tutur dengan iringan biola dan kendang di pesta kawin, khitanan, bahkan di tempat tidur.

Enggel mon sao curito / Inang maso semonan / Manoknop sao fano / Unen ne alek linon / Ali fesangbakat ne mali / Maheya mihawali / Fano me senga tenggi / Ede smong kahanne.

Artinya: Dengarlah sebuah cerita, pada zaman dahulu, tenggelam satu desa. Diawali gempa, disusul ombak besar. Jika gempa kuat, disusul air surut, segeralah cari tempat, dataran tinggi agar selamat. Itulah smong namanya.

Pada 2004, ketika air laut surut, warga di daratan Sumatra justru lari ke pantai memungut ikan. Di Simeulue, warga berteriak “Smong! Smong!” dan lari ke bukit 100-300 meter MDPL. Mereka tidak tahu kata tsunami. Mereka tahu kata smong. Tahun 2005, PBB memberi UN Sasakawa Award untuk masyarakat Simeulue.

Hari ini, smong masuk kurikulum SD-SMP di Simeulue. Ahmadi, pendongeng, kini melobi agar smong jadi kurikulum nasional. “Saat terjadi gempa dan tsunami, Anda akan panik, Anda tidak bisa diharapkan untuk berpikir,” kata Ahmadi. “Inilah sebabnya mengapa latihan darurat harus ditanamkan dan menjadi kebiasaan. Ini harus dimulai sejak dini.” pungkas pendongeng keselamatan itu.  

Palu: Linu, Bombatallu, Nalado

Di Palu, Sulawesi Tengah, leluhur Suku Kaili punya tiga kata yang hari ini terbukti ilmiah: Linu (gempa), Bombattallu (tsunami: gelombang memukul tiga kali), dan Nalado (likuefaksi: ambles diisap lumpur). Mereka tahu Teluk Palu rawan karena sesar Palu-Koro. Mereka membangun rumah panggung dan melarang membangun di muara.

Tapi pengetahuan itu dilupakan. 28 September 2018, gempa 7,4, tsunami, likuefaksi menelan 4.340 jiwa. Di Petobo dan Balaroa, tanah menelan perumahan. Padahal kata nalado warisan leluhur mereka sudah menjadi serine ratusan tahun lalu. Kini, setelah 2018, kata itu diajarkan lagi di sekolah-sekolah Palu, dipadukan dengan peta evakuasi UNESCO-IOC Tsunami Ready.

Mentawai: Teteu Amusiat Loga

Di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, ada lagu lain: Teteu Amusiat Loga. Teteu adalah kakek, roh penguasa bumi dalam kepercayaan Arat Sabulungan. Jika Teteu murka, bumi bergoncang. Tandanya, tupai gelisah, ayam berkotek tanpa sebab, air laut surut tiba-tiba. “Kearifan lokal smong, yang terus dijaga selama 97 tahun, berhasil menyelamatkan nyawa mereka,” dikutip darilaut.id.

Di Mentawai, lagu itu dinyanyikan anak-anak saat bermain gasing dari batang manggis. Juga ada tuddukat, kode bunyi kentongan kayu dan Uma, rumah panggung dari kayu hutan yang lentur menahan gempa. Peneliti Universitas Andalas 2025 mencatat 73,6% warga Mentawai masih tahu kearifan ini, tapi hanya 9,4% yang rutin mempraktikkannya. Itu PR kita.

Mitos yang Kontekstual

Orang Simeulue percaya smong adalah air mandi, gempa adalah ayunan, petir adalah kendang. Bait terakhir smong berbunyi: Smong dumek-dumek mo / Linon uwak-uwak mo. Smong adalah air mandimu, gempa adalah ayunanmu. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk berdamai.

Hari ini, ketika sirene BMKG kadang terlambat, ketika tower peringatan rusak, ketika HP mati, satu-satunya yang tidak pernah mati adalah lagu yang dihafal sejak bayi. Di 5 November ini, pertanyaan kita bukan lagi; apakah kita punya teknologi? Tapi: apakah anak cucu kita masih hafal lagu nenek moyangnya? Karena di Simeulue, lagu itulah yang membuat 78.000 orang selamat dari tsunami dan pulang kembali ke rumah penuh haru.

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar