Bukan Belalang, Ini Alasan Tawon Jadi Fauna Identitas Resmi Gunungkidul 

3 Min Read
Close-up of a green praying mantis facing a yellow-and-black wasp on a white background, both insects visible close up.
Belalang dan Tawon (Sumber: vecteezy.com)

Mabur.co – Selama ini mungkin banyak masyarakat menganggap belalang sebagai hewan yang identik dengan Kabupaten Gunungkidul. 

Hal itu tak lepas karena belalang telah menjadi salah satu hidangan kuliner unik asal Gunungkidul yang kerap dijajakan dan dijual kepada para wisatawan.

Bahkan baru-baru ini pembalap Moto3 asal Gunungkidul, Veda Ega Pratama viral usai memakan belalang goreng di GP Malaysia hingga membuat kuliner itu terkenal ke seluruh dunia. 

Namun ternyata, belalang bukanlah fauna resmi identitas Kabupaten Gunungkidul. Sebab sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 1999 Fauna identitas Gunungkidul justru adalah lebah atau tawon.

Lalu kenapa tawon yang dipilih sebagai fauna identitas Gunungkidul, bukan Belalang?

Beberapa dekade lalu, Kabupaten Gunungkidul memang lebih dikenal dengan lebah atau tawon. Hampir setiap wilayahnya terdapat peternakan lebah penghasil madu. 

Para peternak itu biasa memelihara lebah menggunakan kotak-kotak budidaya madu yang ditempatkan di lahan-lahan perkebunan atau hutan-hutan produksi. 

Memanfaatkan lahan hijau yang sangat luas di Gunungkidul, mereka biasanya akan berpindah dari satu lokasi hutan ke hutan lainnya. Dari situlah peternakan atau budidaya lebah madu pun sempat berkembang luas di Gunungkidul. 

Sementara itu, dahulu di saat yang sama belalang belum banyak diolah sebagai makanan karena masih menjadi hama yang dibenci masyarakat. Belalang baru banyak diolah sebagai makanan seiring ramainya wisatawan yang berkunjung ke Gunungkidul sejak beberapa tahun terakhir.

Selain itu, lebah atau tawon dipilih sebagai fauna identitas Gunungkidul tak lepas karena nilai dan fungsinya yang penting dalam ekosistem. Lebah tak hanya membantu proses penyerbukan tanaman sehingga dapat menghasilkan buah.

Lebih dari itu, kehidupan koloni lebah juga mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan. Dimana kawanan lebah akan selalu bekerja sama membangun sarang, mencari makanan, hingga menjaga kelompoknya.

Nilai-nilai positif pada lebah itulah yang dinilai sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Gunungkidul. Dimana semua lapisan masyarakat selalu menjunjung tinggi kebersamaan dan gotong royong atau saling membantu. 

Menyikapi masih banyaknya masyarakat yang belum mengenal tawon atau lebah sebagai fauna identitas Gunungkidul, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih pun saat ini mendorong agar semakin banyak masyarakat menggunakan lebah sebagai inspirasi motif kerajinan termasuk batik khas Gunungkidul. 

Gagasan tersebut bukan untuk menggantikan motif belalang yang selama ini lebih populer sebagai corak batik Gunungkidul. Pemerintah daerah justru ingin menambah variasi motif dengan mengangkat fauna yang telah ditetapkan sebagai ikon resmi kabupaten.

“Ini bukan mengganti motif yang ada, tetapi menambah variasi agar batik Gunungkidul semakin berkarakter,” ujar Endah sebagaimana dilansir Harian Jogja. 

Dengan penggunaan tawon dalam berbagai produk karya budaya ini diharapkan dapat menjadi upaya memperkenalkan kembali fauna identitas Gunungkidul sekaligus mengenalkan kekayaan alam dan filosofi kehidupan masyarakat Gunungkidul.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar