Mabur.co – Ini kisah tentang Cancel Culture yang menimpa Raffi Ahmad dan RANS Carnival. Lapangan parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, Sabtu 31 Oktober 2026, pukul 11.30 WIB. Panggung sudah berdiri, lampu sudah nyala, tapi sepi. Bukan sepi biasa. Sepi yang disengaja. “Penyelenggaraan festival hiburan RANS Carnival di Area Parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendadak menghadapi gelombang pembatalan massal (cancel culture) pada hari pertama pelaksanaannya, Sabtu (31/10/2026).
Acara yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari hingga 1 November 2026 tersebut terpantau sepi pengunjung setelah belasan musisi pengisi acara dan sekitar 95 persen pelaku UMKM kompak menarik diri,” tulis afu.id, dikutip Mabur.co (3/11/2026). Ini bukan cerita tentang tiket tak laku. Ini tentang istilah yang lebih tua dari Instagram: cancel culture.
Dari Mana Istilah Ini?
Cancel culture lahir di Amerika 2014-2017 dari budaya kulit hitam Twitter, dari kalimat “you’re canceled”. Awalnya untuk menarik dukungan dari figur yang dianggap melakukan kekerasan atau rasisme. Pakarnya, Pippa Norris (Harvard) menulis “Cancel Culture: Myth or Reality?” di jurnal Political Studies edisi 2023. Norris bilang ini bukan sekadar boikot, tapi reputational sanction – hukuman sosial lewat penarikan kepercayaan. Di Indonesia, istilah ini masuk lewat fanbase K-Pop, lalu dipakai politik.
Kenapa Raffi Ahmad?
Pemicunya bukan di Jogja, tapi di Bundaran HI, Kamis 29 Oktober 2026. Raffi Ahmad hadir di “Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026” yang difasilitasi Polda Metro Jaya. Raffi hadir sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. Kemarahan publik dipicu oleh kontroversi kehadiran Raffi Ahmad dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada Kamis (29/10/2026).
Acara tersebut menuai sorotan tajam lantaran sejumlah peserta yang mengenakan atribut almamater kampus terbukti merupakan ‘mahasiswa palsu’ atau massa bayaran. Seorang peserta bernama Bayu Setiadi mengaku bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara, hanya dapat Rp. 50 ribu dan jas almamater dibagi di lokasi.
Sehari sebelumnya, 28 Oktober, di titik sama, BEM UI dan aliansi mahasiswa demo beneran. Jadi publik membaca deklarasi itu sebagai tandingan, sebagai delegitimasi gerakan mahasiswa. Raffi Ahmad jadi sasaran bukan karena ia penyelenggara.
Polda Metro sendiri minta maaf dan bilang: “Saudara Raffi Ahmad dan Saudara Willie Salim datang atas undangan kami.” Raffi juga klarifikasi: “Saya hadir dalam kegiatan deklarasi Sumpah Pemuda kemarin sebagai undangan yang informasinya baru saya terima pada malam sebelum acara. Saya tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan acara.”
Tapi di ekosistem etnografi Jawa, kehadiran adalah pernyataan. Apalagi ketika Anda adalah Raffi Ahmad: pemilik RANS Entertainment, Sultan Andara, dengan saham RANS yang baru IPO 10 Juli 2026 dan kini tercatat anjlok ke Rp. 96 per saham pada 3 November karena sentimen ini.
Efek Sosialnya, yang Mundur Bukan Usaha Raffi Saja
Grup Band Tipe-X menulis: “Kita mundur dari acara ini. Sampai jumpa di lain pesta.” Guyon Waton, Masdddho, OM Wawes, Fourtune & RFRNDS ikut mundur. Alasannya bukan benci Raffi, tapi kondusivitas, keamanan, dan tak ingin melukai hati masyarakat Yogyakarta. Begitu pula UMKM, sekitar 95% tenant memilih loading out. Warganet Jogja justru memborong dagangan mereka sebagai solidaritas agar tidak rugi. Ini bukan cancel yang menghancurkan hal kecil, ini cancel yang memindahkan panggung. Dari panggung besar RANS ke warung-warung kecil.
Dr. Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi UMY, mengatakan: “Cancel culture bukan sekadar retorika kosong. Dalam konteks Yogyakarta, kuatnya budaya komunitas dan situasi sosial pasca demonstrasi, membuat penolakan terhadap RANS Carnival berkembang menjadi bentuk sanksi sosial dari publik.”
Kenapa Raffi Ahmad yang Kena?
Karena Raffi Ahmad adalah jembatan antara tiga dunia yang sedang tidak saling percaya: istana, industri hiburan, dan jalanan. Ketika istana butuh wajah muda, yang dipanggil Raffi. Ketika jalanan butuh keaslian, yang dicurigai juga Raffi. Ia terlalu besar untuk tidak terlihat.
Seperti bait Sajalk W.S. Rendra: “Kita adalah angkatan yang harus mengukir, bukan angkatan yang mengemis.” Publik Jogja 2026 sedang mengukir batas itu. Hari ini Maguwoharjo sepi. Besok mungkin ramai lagi. Tapi pelajaran yang patut dipetik, jelas: di zaman algoritma, panggung terbesar bukan di Stadion, tapi di timeline karena timeline tidak pelupa.
