Anoa, Sang Penjaga Hutan Sulawesi yang Pemalu

5 Min Read
A black cow and her calf walk along a dirt path in a wooded area.
Anoa Satwa Endemik Sulawesi (Sumber: YIARI)

“Jika anoa punah, hutan Sulawesi kehilangan ruhnya.” Pesan Suku Bangsa Tolaki Sulawesi Tenggara.

Setiap 5 November, Indonesia merayakan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN). Ditetapkan lewat Keppres No. 4 Tahun 1993 oleh Presiden Soeharto. Sebab itu hari ini bukan sekadar seremoni menanam bunga dan lainnya, tapi pengingat bahwa kita punya harta yang tidak dimiliki negara lain: satwa endemik. Paling misterius di antaranya adalah anoa.

Bayangkan kerbau, tapi diperkecil. Tingginya hanya 75-100 cm, berat 150-300 kg, tanduknya lurus tajam ke belakang seperti keris. Ia bukan kerbau biasa. Ia adalah satu-satunya mamalia besar yang hanya hidup di Pulau Sulawesi dan Buton, di jantung Garis Wallace, zona peralihan Asia-Australia.

Anoa (Bubalus sp.) merupakan mamalia terbesar sekaligus endemik, yang hanya bisa ditemukan di kawasan Pulau Sulawesi dan Buton,” dikutip Mabur.co dari greeners.co. (5/11/2026). Ada dua jenis: Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) yang hidup di hutan lembab 0-1000 mdpl, dan Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) yang lebih kecil, hidup di ketinggian 1000-2300 mdpl. Keduanya soliter, pemalu, aktifnya di malam hari.

Betinanya hanya melahirkan satu anak per tahun, setelah hamil 275-315 hari. Karena itu, populasinya sangat lambat pulih. Dan kini ia di ambang kepunahan. “Berdasarkan data IUCN, populasi anoa di Sulawesi pada tahun 2002 kurang dari 5.000 ekor. Sehingga ia tergolong dalam kategori endangered,” masih dikutip dari greeners.co.

Data terbaru IUCN bahkan menyebut kurang dari 2.500 individu dewasa, turun 20% dalam 14-18 tahun terakhir. Penyebabnya klasik, perburuan liar untuk daging, kulit, tanduk, dan deforestasi untuk sawit, tambang, karhutla dan pemukiman. Sejak 1931, lewat Ordonansi Perlindungan Binatang zaman Belanda, anoa sudah dilindungi. Diperkuat UU No. 5/1990 dan kini UU No. 32/2024. Tapi hukum saja tidak cukup.

Kawasidini, Sang Penjaga yang Tahu Niat Manusia

 Di Lawele, Buton, masyarakat menyebut anoa dengan nama Onuang, dijuluki Kawasidini, penguasa hutan. “Masyarakat Lawele menyebut anoa dengan sebutan Onuang dan dijuluki Kawasidini, penguasa hutan yang diyakini berkemampuan mengetahui niatan baik maupun buruk seseorang terhadap dirinya,” dikutip mabur.co dari ekuatorial.com.

Tokoh adat La Gani (74) berpesan: “Pada waktu ketemu itu anoa, kalau dibicarakan baik-baik dia lari juga. Tetapi kalau dia sudah lari jangan diikuti, akan berbahaya, disitu keramatnya. Anoa seperti kesurupan akan bunuh kita.”

Di Ngata Toro, Sulawesi Tengah, hukum adatnya lebih tegas: siapa yang memasang jerat untuk anoa dan babi rusa dikenakan sanksi Tolu Ongu, Tolu Mpulu, Tolu Ngkau: tiga ekor kerbau, 30 dulang, 30 lembar kain Mbesa, setara 5 juta rupiah. Di masa kini, sanksi adat ini justru lebih ditakuti daripada sanksi negara.

Ada juga mitos yang membuat anoa makin diburu, tanduknya dipercaya menangkal santet. Di Desa Barangka, Buton, hampir tiap rumah menyimpan tanduk anoa. Ironisnya, kepercayaan yang seharusnya melindungi justru membunuhnya.

Harapan Baru Bernama Raden

Kabar baik datang dari Manado. “Kelahiran satu individu bayi anoa (Bubalus sp.) di Manado adalah kabar gembira. Pasalnya hewan endemik Sulawesi itu telah masuk kategori terancam punah. Anoa yang lahir di Anoa Breeding Centre Balai Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan (ABC BPSILHK) Manado itu diberi nama Raden,” dikutip dari klikhijau.com. Raden, jantan, lahir 16 Januari 2023, berat 6,1 kg, panjang 52 cm. Namanya dari gabungan induknya: Rambo dan Denok. Ia adalah kelahiran ke-4 di pusat penangkaran itu sejak 2015. Kini ada 9 individu di sana.

Raden adalah simbol HCPSN tahun ini. Cinta tidak cukup diucapkan, harus ditangkarkan, dijaga, dilepasliarkan. Di HCPSN, kita tidak hanya bicara Komodo, Elang Jawa, dan Rafflesia. Kita bicara anoa si kerbau kerdil yang pemalu, yang jika kita kehilangan dia, kita kehilangan satu-satunya mamalia besar yang hanya Tuhan titipkan di Sulawesi.

Harapan kita, titipan Tuhan ini akan hidup lebih lama, sebagaimana kita manusia “ingin hidup seribu tahun lagi” kata Penyair Chairil Anwar. Tapi anoa tidak kan berumur seribu tahun lagi, jika kita diam dan tak peduli.

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar