“Ureung inong Aceh han jeut tangih keu syuhada.” Perempuan Aceh tidak menangis untuk syuhada. Kalimat itu diucapkan Cut Nyak Dhien kepada anaknya, Cut Gambang, ketika Teuku Umar gugur di Meulaboh, 11 Februari 1899. Gambang menangis. Ibunya menegur, lalu memeluknya.
Sejak saat itu, kalimat itu menjadi semboyan. Cut Nyak Dhien lahir 1848 di Lampadang, Aceh Besar. Putri Teuku Nanta Setia, uleebalang VI Mukim. Ia menikah dua kali, kehilangan dua suami di medan perang. Teuku Ibrahim Lamnga gugur di Gle Tarum 1878, Teuku Umar gugur 1899 tapi tidak pernah menyerah. Ia memimpin gerilya 25 tahun, dalam keadaan rabun dan rematik, hingga ditangkap Belanda pada 1905 dan dibuang ke Sumedang, hingga wafat 6 November 1908.
Ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 1964. Pertanyaan yang sering ditanyakan di warung kopi Banda Aceh hari ini, siapa pewarisnya? Bukan anak kandungnya. Pewarisnya adalah semua perempuan yang tidak menangis untuk syuhada, tetapi mengubah tangis menjadi kerja. Jawabannya ada dalam lagu pengantar tidur.
Pewaris Pertama, Ibu-ibu yang Menyanyikan Do Da Idi
“Era itu memunculkan para pejuang perempuan tangguh, seperti Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Pocut Meuligo, Pocut Baren Biheue, Tengku Fakinah, dan Inen Mayak Teri,” dikutip nukilan.id. Menurut Rosnida Sari, mereka adalah simbol kekuatan yang tumbuh dari kearifan lokal berbasis Islam. Kearifan itu diwariskan bukan lewat senapan, tapi lewat do da idi syair pengantar tidur, peuayon aneuk.
Reni Nuryanti dan Bachtiar Akob dalam Perlawanan dari Ayunan (2020) menyebut, do da idi adalah alat pewarisan semangat jihad. Liriknya: Do da idi, aneuk meutuah, beu jeut keu pejuang, beu jeut keu syuhada: Tidurlah anak bertuah, jadilah pejuang, jadilah syuhada. Pada 1873-1912, ketika Perang Aceh meletus, ibu-ibu tidak mempunyai radio. Mereka punya ayunan. Sambil mengayun, mereka menanamkan ke anaknya, Belanda adalah kaphe, tanah ini harus dipertahankan. Itulah kenapa Belanda takut pada perempuan Aceh. Karena perang dimulai dari ayunan.
Hari ini, do da idi masih dinyanyikan di Gayo, Pidie, Aceh Besar. Bedanya, kini isinya bukan lagi tentang Belanda, tapi tentang narkoba, korupsi, dan anak yang harus sekolah tinggi. Pewaris Cut Nyak Dhien yang pertama adalah ibu yang tetap menyanyi di tengah gempuran TikTok.
Pewaris Kedua: Perempuan UMKM dan Kreatif
Pada 16 September 2026, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah menghadiri milad pertama Forum Kreatif Perempuan Aceh (FKPA) di Banda Aceh. “Menurut Wagub, Aceh memiliki sejarah panjang tentang perempuan-perempuan hebat yang telah memberikan teladan keberanian, keteguhan, dan pengabdian. Semangat yang diwariskan Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Pocut Meurah Intan, dan banyak perempuan Aceh lainnya harus terus dihidupkan dalam konteks kekinian,” dikutip dari humas.acehprov.go.id.
Wagub menambahkan “Hari ini, perjuangan perempuan tidak hanya berada di medan perjuangan fisik, tetapi juga berada di ruang pendidikan, kewirausahaan, teknologi, ekonomi kreatif, seni dan budaya.” Di FKPA, ada Hj. Kartini NI, Ketua FKPA, yang membina 500 lebih perempuan pengrajin sulam, kopi Gayo, dan tenun. Ada perempuan yang dulunya korban konflik, kini menjadi eksportir kopi. Ada janda-janda tsunami 2004 yang kini jadi pengusaha katering.
Mereka adalah Inong Balee versi baru. Dulu, Inong Balee adalah armada 2.000 janda pejuang pimpinan Laksamana Malahayati yang membunuh Cornelis de Houtman 1599. Kini, Inong Balee adalah janda-janda yang bangkit dari trauma, membangun usaha dari nol, menyekolahkan anaknya sampai sarjana.
Po Rumoh: Pemilik Rumah.
Di Aceh, jika seorang perempuan Aceh menikah, ia disebut Po Rumoh, Pemilik Rumah. Bukan ibu rumah tangga. Pemilik. Artinya, rumah, tanah, dan harga diri ada di tangannya. Karena itu, perceraian di Aceh dulu harus diselesaikan antar kampung. Perempuan tidak bisa ditinggal begitu saja.
Budaya itu kini hidup lagi. Di Banda Aceh, 62% UMKM dimiliki perempuan. Di tengah banjir bandang 2025-2026 yang menghantam Aceh, perempuanlah yang pertama membuka dapur umum, menggalang donasi, dan mengajar anak-anak di tenda pengungsian.
Jadi siapa pewaris Cut Nyak Dhien? Bukan satu orang. Ia adalah setiap inong yang tidak menangis untuk syuhada, tapi bangkit dan bekerja. Yang mengayun anaknya sambil bernyanyi do da idi, dan paginya membuka warung kopinya, mengajar di sekolahnya, atau memimpin desanya. Sebab perempuan adalah tiang negara, ucap orang bijak.
“Di Aceh, tiang itu tidak pernah roboh sejak 1848!”
