Jika Islam di Indonesia punya lini masa, Syekh Yusuf Al-Makassari adalah satu nama yang muncul di dua kota sekaligus, dan tidak bisa dipisahkan: Makassar tempat ia lahir, Banten tempat ia menjadi guru bangsa.
1605-1626 Makassar, Negeri yang Baru Memeluk Islam
Islam masuk ke Gowa bukan lewat pedang, tapi lewat tiga Datok. Datok Ri Bandang, Datok Ri Pattimang, dan Datok Ri Tiro. Mereka mengislamkan Raja Gowa XIV Sultan Alauddin pada 1605. Hanya 21 tahun kemudian, lahirlah seorang bayi yang diberi nama oleh Sultan Alauddin sendiri, Muhammad Yusuf, 3 Juli 1626, di Moncong Loe, Gowa.
Ibunya Sitti Aminah, putri Gallarrang Moncongloe. Ayahnya Abdullah. Ia tumbuh di istana, belajar mengaji pada Daeng Ri Tassamang, lalu ke Pesantren Asyaqalain di Cikoang, Takalar, belajar pada Sayyid Jalaluddin Bafaqih. “Muhammad Yusuf akhirnya dikenal dengan Namanya yang melegenda, Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari. Lahir pada 3 Juli 1626, dan wafat pada 23 Mei 1699.
Syekh Yusuf Pahlawan Nasional Indonesia, digelari Tuanta Salamakka Ri Gowa (Tuan Guru penyelamat kita dari Gowa) oleh jamaahnya di kalangan rakyat Sulawesi Selatan,” dikutip dari fnn.co.id dari catatan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Muhammad Chirzin. Makassar saat itu adalah kerajaan maritim. Islam di sana berpadu dengan adat: siri’ na pacce, harga diri dan cinta kasih. Syekh Yusuf membawa paduan itu ke mana-mana.
1644-1667 Banten, Sahabat Menjadi Mufti
Usia 18 tahun, 1644, Yusuf berlayar ke Banten. Di sana ia bertemu Pangeran Surya, yang kelak jadi Sultan Ageng Tirtayasa. Mereka bersahabat. Yusuf lalu ke Aceh, berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri, menerima ijazah Qadiriyah. Lalu ke Mekkah, Madinah, Yaman, Damaskus. 22 tahun belajar.
“Seperti ditulis Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam (2011), Yusuf menempuh pendidikan bertahun-tahun di berbagai kota di Timur Tengah. Di Kairo, ia menyalin karya sufi besar Mawlana Jami (w. 1492) di bawah bimbingan Ibrahim al-Kurani, guru besar Madinah yang juga membimbing Abd al-Ra’uf Al-Sinkili. Yusuf sempat bergabung dengan tarekat Naqsyabandiyyah, sebelum akhirnya memilih jalan Khalwatiyyah dan dibaiat di Damaskus oleh Ayyub Al-Khalwati (1586-1661),” dikutip dari jakartamu.com.
Ia pulang bukan sebagai santri, tapi sebagai ulama besar. Di Banten, Sultan Ageng mengangkatnya jadi mufti, guru anak-anak sultan, dan menantu sultan. Banten saat itu menjadi pusat pendidikan Islam. Muridnya 400 orang asal Makassar dipimpin Ali Karaeng Bisai.
“Ketika Kesultanan Gowa kalah perang menghadapi Belanda, Syekh Yusuf pindah ke Banten, diangkat menjadi mufti di sana. Pada periode ini Kesultanan Banten menjadi pusat pendidikan agama Islam. Syekh Yusuf memiliki murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar itu yang mengikutinya ke Banten.”
Inilah lini masa penting Syekh Yusuf: Gowa kalah 1667 lewat Perjanjian Bongaiyya, banyak orang Makassar mengungsi ke Banten. Syekh Yusuf menjadi pelindung mereka. Banten menjadi Makassar kedua. Masjid Agung Banten Lama menjadi tempat ia mengajar tasawuf, menulis Safinat An-Najah, Zubdat Al-Asrar, An-Nafhat As-Saylaniyah, total 50 karya.
1682-1699, Dari Mufti Menjadi Panglima
Ketika Sultan Ageng dikalahkan Belanda karena dikhianati anaknya Sultan Haji, Syekh Yusuf tidak lari. Ia diangkat jadi salah satu dari empat panglima perang. Ia memimpin 5.000 laskar Sunda, Melayu, Makassar, Bugis; gerilya dua tahun di hutan Jawa Barat, 1682-1684. Meskipun akhirnya ditangkap di Mandala lewat tipu daya Van Happel.
VOC membuangnya ke Ceylon, Sri Lanka, September 1684. Di sana ia tetap menulis, tetap mengajar, tetap berkirim surat lewat jamaah haji. VOC panik, kemudian memindahkannya lebih jauh ke Cape Town, 1694, bersama 49 pengikut. Di Zandvliet, ia mendirikan komunitas Muslim pertama Afrika Selatan, kampung Macassar, dan wafat 23 Mei 1699.
Begitu besar pengaruh Syekh Yusuf. Di Banten, orang masih percaya Syekh Yusuf bisa berjalan di atas air. Di Gowa, orang percaya ia bersumpah: “Kuharamkan menginjak tanah Gowa sebelum menjadi seorang sufi.” Belanda menyebarkan mitos kesaktian itu untuk menutupi fakta bahwa ia adalah pemikir brilian yang ditakuti, bukan dukun.
Hari ini perjuangan dan semangat ketauhidan Syekh Yusuf menjadi relevan. Pada 28 April 2026, di Banten Lama, Kementerian Kebudayaan menggelar Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf. Peringatan itu resmi masuk agenda UNESCO 2026-2027. “Beliau adalah satu-satunya tokoh yang menyandang gelar Pahlawan Nasional di dua negara, Indonesia dan Afrika Selatan. Di tanah Banten inilah beliau mengabdi sebagai mufti sekaligus menantu Sultan Ageng Tirtayasa,” dikutip Mabur.co dari sambutan Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Dari Makassar ia belajar adat, dari Banten ia belajar negara, dari Mekkah ia belajar ilmu, dari Cape Town ia belajar menjadi manusia universal. Seperti bunyi sajak Chairil Anwar: “Sekali berarti, sudah itu mati.” Syekh Yusuf membuktikan itu. Sekali mengabdi dan memberi arti di dua kerajaan di Nusantara, maka ia hidup selamanya di dua benua di dunia.
