Konsep kebahagiaan dan kelengkapan hidup orang Jawa ada 5 hal. Pertama wisma (tempat berteduh), wanita (punya pasangan), curiga (senjata), turangga (kendaraan), dan kukilo (hewan peliharaan).
Baik laki-laki maupun perempuan Jawa orientasi kebahagiaan dan kelengkapan hidupnya mengacu kepada 5 hal itu.
Bentuk konkretnya memang bisa menyesuaikan. Intinya, harus punya tempat tinggal, pekerjaan tetap, pasangan serasi, dan keturunan yang semuanya diupayakan baik.
Namun di era modern ini dengan banyaknya penetrasi pengaruh wacana, kebahagiaan manusia Jawa pun mengalami degradasi.
Dulu setiap rumah minimal satu RT pasti ada yang punya kambing atau sapi. Sekarang setiap rumah justru yang ada motor atau mobil. Ternak motor, ternak mobil, menjadi gaya hidup menggantikan ternak binatang seperti kambing dan sapi yang lebih prospektif. Harganya pun bisa semakin tinggi setiap bulannya apalagi mendekati Lebaran atau Idul Adha.
Rumusan kebahagiaan pun menjadi lebih lentur apalagi jika dibenturkan dengan wacana feminisme dan lainnya yang merujuk pada keputusan yang lebih kompromis antar-anggota keluarga.
Oleh sebab itu, kalau mendengar seorang Elon Musk yang bisa menghentikan dan menurunkan satelit sekehendak ia mau itu mempunyai harta mencapai 15.000 triliun, dan mengaku tidak bahagia, boleh jadi memang ada yang tidak beres, tidak lengkap dalam hidupnya.
Apakah ia mempunyai pasangan yang membahagiakan? Ataukah punya keturunan yang diidam-idamkan?
Artinya, harta yang banyak memang menjadi bukan lagi ukuran kebahagiaan hidup. Sama halnya dengan bintang film Jackie Chan yang puluhan tahun mengumpulkan pundi uang hingga terkumpul 6 triliun namun justru ingin menyerahkan semua hartanya ke badan amal di hari tuanya.
Jackie Chan tidak ingin mewariskan hartanya ke anak-anaknya karena ia berpandangan anak-anaknya bisa mencari rezeki sendiri.
Sampai di sini saya tertawa keras. Boleh jadi saya adalah orang yang ikut menyumbang terhadap kekayaan Jackie Chan karena banyak filmnya menjadi idola saya sejak saya usia ingusan.
Namun begitulah roda perjalanan hidup, cakra manggilingan manusia memang bermacam-macam. Namun satu hal yang pasti, jika sudah sampai pada pertanyaan tentang kebahagiaan maka saya lebih bersetuju dengan pandangan Mario Teguh.
Bagi Mario Teguh, kebahagiaan adalah sebuah keputusan. Rumusan ini bisa jadi sulit diterapkan karena dalam kehidupan sehari-hari selalu saja ada yang bisa membuat njomplang atau tidak seimbang.
Namun saya meyakininya dan selalu berusaha menerapkannya. Karena untuk berbahagia atau tidak itu tergantung diri kita sendiri.
Beranikah kita memutuskan bahagia di tengah kemungkinan tidak lengkapnya kebahagiaan yang diterima?
Beranikah kita memutuskan bahagia di tengah fakta interaksi dengan anak dan istri yang semakin modernis dan kadang mempunyai pandangan liberal?
Itulah tantangan kebahagiaan hidup kita hari ini di sebuah negara yang untuk berbahagia secara kolektif sudah sangat sukar karena warga negaranya terjebak dalam banyak klaim dan statemen yang penuh pura-pura.
Namun, sungguh masih sangat sial jika di hari Minggu yang ceria ini, Anda masih saja bingung memutuskan bahagia atau tidak.
Padahal Anda masih sehat, masih punya penghasilan, dan masih bisa tersenyum dengan lepas tanpa tekanan tanggal.
Jadi, marilah berbahagia dengan modal keberanian memutuskan tanpa paksaan… ***



