Pelajaran Kematian

Saudaraku, mengikuti tahlilan wafatnya RI Mulia Sitepu, suami sahabatku Henny Supolo, pikiranku melangut.

Yang terpenting dari peristiwa kematian bukanlah kepergian seseorang, melainkan makna yang ditinggalkannya bagi yang masih hidup.

Apa pun jabatan, profesi, atau identitas yang melekat pada diri manusia, semua akhirnya menuju satu titik yang sama: kematian.

Di hadapan batas itu, gelar dan kebanggaan kehilangan kilaunya, prestasi menjadi sunyi, dan manusia kembali hanyalah jiwa yang pulang.

Benar kata Steve Jobs, “Death is the single best invention of life”. Hanya melalui kematian, hidup memperoleh ukuran, kesadaran, dan kedalaman.

Kesadaran akan kefanaan membangunkan nurani, mengingatkan bahwa hidup bukan soal memiliki, melainkan tentang menjadi.

Dalam horison spiritual, hidup adalah amanah: singkat, rapuh, tapi dipercayakan. Dalam horison filosofis, hidup adalah kesempatan: hayat singkat memberi peluang unik untuk bertindak, belajar dan memberi dampak.

Dalam horison kemanusiaan, hidup adalah relasi: kita sungguh ada sejauh kita membuat kehidupan sesama lebih manusiawi.

Tak peduli apa pun latar agama dan keyakinan, manusia baik akan dikenang semesta dengan takzim; manusia jahat diingat dengan getir.

Ingatan semesta bekerja tanpa manipulasi. Ia mencatat bukan klaim, melainkan niat yang kita tanam, perbuatan yang kita lakukan, dan kasih yang kita dekapkan pada sesama.

Apa pun agama dan kepercayaan, saat wafat ia akan kembali ke tanah yang sama, pulang ke haribaan Pencipta semesta yang sama.

Di sana, segala perbedaan yang selama hidup dibesar-besarkan menjadi muspra; gelar, identitas, dan klaim kebenaran duniawi kehilangan bobotnya di hadapan hakikat yang satu.

Meski, sistem simbol buatan manusia terus memelihara sekat pemisah, melalui kompleks pemakaman yang berbeda.

Kematian mengajar dengan ketenangan yang jernih: hidup terlalu singkat untuk kesia-siaan, terlalu berharga untuk kerakusan, terlalu fana untuk kepongahan.

Ia mengajak kita bersiap pulang dengan hati bersih, amal tulus, dan jejak kebaikan.

Jika pada akhirnya kita semua kembali ke asal yang sama, tugas hidup yang sejati adalah meninggalkan warisan makna. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *