Mabur.co – Di wilayah pedesaan terpencil Kulon Progo, limbah kayu merupakan barang yang bisa dengan mudah ditemukan keberadaannya. Saking banyaknya, limbah ini kerap dianggap sebagai tumpukan sampah yang tak berguna.
Pemanfaatannya paling banter hanyalah digunakan sebagai bahan baku kayu bakar untuk industri pembuatan tempe, tahu ataupun makanan lainnya.
Namun siapa sangka di tangan seorang pemuda bernama Furqon Aziz, limbah kayu ini ternyata bisa disulap menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi yang mahal harganya.
Furqon Aziz, warga Dusun Madigondo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, ini berhasil mengubah berbagai jenis limbah kayu menjadi jam tangan mewah yang tak kalah dengan jam modern pada umumnya.
Bahkan dengan keunikan yang dimiliknya, produk jam kayu buatan Furqon yang diberi nama JK Watch ini telah mampu dipasarkan hingga ke berbagai negara, di antaranya seperti Malaysia, Filipina, Hong Kong, Oman, hingga Belanda.
Furqon mengaku pertama kali mulai merintis usahanya pada 2015 silam. Ide pembuatan jam kayu ini berawal dari keprihatinannya melihat banyak limbah kayu sisa industri yang terbuang percuma.
“Awalnya saya melihat limbah kayu ini hanya dijadikan kayu bakar, padahal masih sangat layak diolah. Saya kemudian memilih jam tangan karena merupakan salah satu produk fashion yang selalu dibutuhkan dan punya nilai jual,” ujar Furqon kepada mabur.co, yang merupakan anak dari seorang tukang kayu itu.
Dengan meminjam modal ke bank sebesar Rp5juta Furqon pun memulai merintis usahanya. Dibantu saudaranya ia memanfaatkan sisa-sisa kayu bekas seperti jati, mahoni, nangka, hingga sonokeling, yang didapat dari bengkel ayahnya untuk membuat jam tangan.

Untuk membuat satu buah jam tangan, Furqon mengaku membutuhkan waktu selama 2 hari. Karena seluruh prosesnya masih dilakukan secara manual.
Setiap potongan kayu harus dipilih berdasarkan corak dan warna alami, kemudian diukur dan dipotong menyesuaikan pola.
Potongan kayu kecil tersebut lalu dibor pada sisi-sisinya untuk dipasangi pen berbahan stainless steel sebagai penghubung antarbagian.
Setelah melalui proses pemotongan dan penghalusan, seluruh bagian disusun hingga membentuk tali jam seperti jam tangan pada umumnya.
Proses manual ini membuat setiap produk memiliki karakter unik dan tidak ada yang benar-benar sama.
Meskipun pada awalnya penjualan jam tangan kurang menggembirakan, Furqon mengaku tidak menyerah dan terus melakukan promosi, terutama melalui media sosial. Ia juga rajin mengikuti pameran-pameran potensi produk daerah di berbagai kesempatan.
Setelah beberapa kali mengikuti pameran UMKM, jam tangan kayu buatan Furqon ternyata mulai menunjukkan prospek yang cerah.
Pesanan semakin banyak berdatangan. Apalagi setelah Wakil Presiden Jusuf Kalau, turut mempromosikannya, setelah melihat jam kayu tersebut di sebuah pameran.
“Bahkan nama JK Watch itu juga diberikan oleh Pak Jusuf Kalla. Meskipun huruf JK juga bisa diartikan Jam Kayu,” katanya.
Produk jam kayu buatan Furqon sendiri dipasarkan dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp 300.000 hingga Rp 2 juta per unitnya. Mahal atau tidaknya jam tangan tersebut akan sangat tergantung pada jenis kayu dan tingkat kerumitan pembuatannya.
Selain jam tangan, Furqon juga mengembangkan produk lain berbahan kayu berupa kaca mata. Disamping unik dan memiliki nilai estetika tinggi, produk asesoris seperti jam tangan hingga kaca mata kayu buatan Furqon memiliki kelebihan ramah lingkungan serta aman bagi pengguna karena bersifat antialergi.
Bagaimana, tertarik mengkoleksinya? ***



