Mabur.co- Sutradara sekaligus seniman kenamaan Indonesia, Garin Nugroho, sudah hampir 45 tahun menekuni perjalanan karirnya dalam bidang industri kreatif.
Sebagai pembuat film yang berhasil membawa sinema Indonesia ke panggung dunia, Garin Nugroho turut menjadi seniman lintas disiplin yang menjelajahi seni pertunjukan, teater, tari, musik, seni rupa, media baru, pendidikan, hingga pembangunan ekosistem kebudayaan dan regenerasi lintas generasi.
Karya-karyanya telah hadir di berbagai festival film, museum, dan panggung internasional, sekaligus melahirkan berbagai ruang kreatif, festival, dan komunitas yang menjadi bagian penting dalam perkembangan seni dan budaya Indonesia.

Garin mencoba merefleksikan perjalanan kreatifnya dalam pameran ARCHIVEPELAGO: Jalan Persemaian Garin Nugroho–45 Tahun Merekam Indonesia, yang berlangsung pada 25 Juni–14 Juli 2026 di Galeri Bulaksumur, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Yogyakarta.
Menjadi salah satu pameran arsip maestro seni dan budaya yang menghadirkan arsip, foto, poster, artefak, instalasi, karya audio visual, serta berbagai jejak pemikiran dan praktik kebudayaan yang merekam perjalanan kreatif Garin Nugroho selama lebih dari empat dekade.
Arsip Bagian Penting Pembangunan Pengetahuan
Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, melihat arsip sebagai bagian penting dari pembangunan pengetahuan dan kesadaran kebudayaan.
Pameran ini merupakan upaya untuk merangkum perjalanan intelektual dan kreatif Garin Nugroho, serta bagaimana karya-karyanya memposisikan diri dalam lanskap estetik, artistik, intelektual, dan kebudayaan Indonesia maupun dunia.
“Pameran ini merupakan upaya meringkas dan meringkus perjalanan intelektual dan kreatifnya. Bagaimana Garin Nugroho memandang dan dipandang oleh banyak pihak; dan bagaimana memosisikan dirinya dalam lanskap intelektual, estetik, artistik, dan kebudayaan Indonesia serta dunia,” jelasnya saat ditemui di Galeri Bulaksumur, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Jumat (26/6/2026).
Suwarno mengatakan, karya seni tidak pernah lahir secara terpisah, melainkan merupakan hasil perjumpaan berbagai disiplin ilmu, mulai dari sastra, seni rupa, musik, sejarah, hingga pengalaman sosial yang dialami langsung.
Ia mencontohkan perubahan yang disaksikannya di Merauke sejak akhir 1980-an.
“Saat itu satwa liar dan anggrek hutan masih mudah ditemukan, namun kondisi tersebut berubah seiring ekspansi perkebunan monokultur dan eksploitasi sumber daya alam,” katanya.
Suwarno mengatakan lagi, melalui pameran tersebut, ia menekankan pentingnya ruang produktif bagi generasi muda untuk bereksperimen, mengembangkan gagasan, dan melahirkan karya baru.
Ia mengingatkan bahwa kreativitas hanya dapat tumbuh melalui kerja sama, kritik, dan ruang berpikir yang terbuka. Kerja sama, kritik, dan pertimbangan harus berjalan bersama.
“Tanpa ruang untuk berpikir kritis dan produktif, masyarakat hanya akan melahirkan euforia sesaat,” katanya.

Salah satu pengunjung, Sherly, mengungkapkan bahwa ketika melihat pameran ini, ia seperti memasuki lorong waktu perjalanan karir, spiritual, dan kecintaan Garin Nugroho terhadap sinema.
“Sebagai pecinta film dan familiar dengan karya Garin Nugroho tentu pameran ini sangat menarik bagi saya pribadi. Saya dibawa masuk ke dalam isi kepala Garin yang dituangkan dalam medium film dan teater dari waktu ke waktu. Juga melihat bagaimana kontribusi dan kecintaan beliau terhadap sinema tanah air,” terangnya.

