Mabur.co- Mendengar namanya, mungkin beberapa di antara Anda akan langsung berpikir bir Jawa merupakan minuman beralkohol.
Walaupun namanya menggunakan kata ‘bir’, minuman khas Yogyakarta yang satu ini ternyata tidak mengandung alkohol sama sekali. Bahkan minuman ini menjadi suguhan khas dari keluarga Keraton Yogyakarta.
Salah satu penjual, Andrianto, mengatakan, bir Jawa menjadi saingan minuman beralkohol yang dibawa Belanda pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VIII tahun 1921 hingga 1939.
Sultan Menjamu Mirip Bir
Ketika Belanda datang ke Yogyakarta, biasanya mereka akan membawa minuman beralkohol. Namun, Sri Sultan HB VIII tidak berkenan untuk minum alkohol tersebut.
Atas dasar inilah, Sri Sultan HB VIII lalu menyuguhkan minuman yang mirip bir, seperti yang dibawa Belanda.
“Bir Jawa ini murni terbuat dari rempah-rempah dan tidak mengandung alkohol sama sekali. Bir ini terbuat dari jahe, secang, kapulaga, kayu manis, cengkeh, dan serai,” katanya, saat ditemui di stan Pasar Kangen Jogja, Jumat (26/6/2026).

Andrianto menjelaskan, warna bir Jawa mirip seperti minuman keras, namun bukan berarti bir Jawa mengandung alkohol. Tambahan jeruk nipis membuat bir Jawa memiliki warna seperti minuman beralkohol.
Awalnya bir Jawa berwarna agak kemerahan karena ada bahan secang di dalamnya.
“Untuk membuat warnanya mirip seperti bir, maka ditambahkan jeruk nipis, untuk pemanisnya dipakai gula batu,” ujarnya.
Andrianto mengatakan, pada masa pemerintahan Sri Sultan HB VIII, bir Jawa akan disajikan langsung begitu saja tanpa diberi sentuhan apapun.
Namun, mengikuti perkembangan zaman di mana estetika juga menjadi daya tarik tersendiri, bir Jawa biasanya akan dipadukan dengan es batu lalu dikocok menggunakan alat pengocok, shaker.
“Kalau dulu ya enggak (dikocok). Tapi sekarang kan ini buat menimbulkan efek buih, biar kayak bir. Makanya di-shake,” katanya.
Awal Mula Bir Jawa
Andrianto menuturkan, awal mula bir Jawa sebenarnya adalah bentuk sirup. Dalam menjual ia membuat terobosan baru yakni dengan membuat sirup secang tersebut bisa digunakan sebagai minuman lain untuk resto dan untuk semacam kedai.
Salah satunya ada bir Jawa lalu wedang ronde. Terus bir pletok.
“Itu yang bisa membuat kami untuk memasarkan di kedai-kedai, tempat jual oleh-oleh. Sedangkan untuk di resto ada sendiri di Gendis Resto, Jejamuran. Kalau untuk outlet kami sekarang masih online made by order, dan event-event. Kalau tingkat peminatnya bir Jawa kebanyakan rata-rata remaja jompo. Jadi, istilahnya bukan orang-orang muda. Kalau orang-orang muda kayak remaja itu menganggap ini seperti jamu. Maka, kita coba tidak tampilkan rempahnya, tapi tampilkan seperti minuman kafe kekinian dengan pakai botol,” katanya.

Andrianto mengatakan pula, trik pemasaran agar generasi sekarang suka dengan rempah-rempah, yakni jamu-jamuan ini ditampilkan benar-benar aspek jamunya. Waktu zaman VOC 1600 sampai 1800, mencari rempah-rempah sampai jauh ke negeri seberang.
“Saya mencoba mencari peminat yang muda untuk memajukan Indonesia. Supaya enggak tergantung dengan minuman manis, mungkin ada banyak gulanya. Produk kami tidak memakai pengawet. Karena kami pengin minuman sehat terlihat kekinian tanpa pengawet. Melestarikan budaya dan sehat,” katanya.
Bahan Baku Mudah
Andrianto menuturkan, untuk bahan baku, sangat mudah dicari di pasar tradisional, kadang toko modern juga ada.
“Bahan sudah didapat cuma tinggal meraciknya dan masing-masing orang punya keterampilan masing-masing. Termasuk juga selain yang masak meracik rempahnya, bermacam-macam resep. Sebenarnya mudah sekali dimodifikasi,” katanya.
Andrianto menjelaskan, tidak ada perbedaan antara bir Jawa bikinannya dengan tempat lain karena bahan bakunya sama yakni jahe, kapulogo.
“Kalau zaman dulu bikin bir Jawa itu digodok dulu. Terus kurang lebih 30 menit sampai keluar ekstraknya. Lalu diolah dikasih gula, terus didiamkan dulu agak dingin, agak hangat-hangat, terus dibikin busa. Dua kali tahap baru dihidangkan.
Kalau bir Jawa Wedangan Jogja Yangti (WJY), sudah diekstrak menjadi sirup secang. Terus sirup secang ditambahi semacam rempah-rempah yang lain. Seperti jahe, kapulaga, kayu manis, supaya menghilangkan aroma dan daun pandan.
“Lalu kita mix di shaker, tambah jeruk nipis, hasilnya seperti bir Jawa. Jadi cuma sekali minum dan sekali diolah,” katanya.
Andrianto menuturkan, dari dulu mengolah minuman rempah 30 menit. Ia mencoba 3 menit sudah tersaji. Ia mencoba di Pasar Kangen.
“Alhamdulillah untuk melayani konsumen itu 3 menit, 4 menit rata-rata sudah satu minuman terhidangkan. Kalau dari sisi kecepatan dan kualitas hampir sama. Kalau mau yang less sugar atau no sugar sama sekali, kami juga bikinkan minuman yang langsung jadi no sugar, itu sudah bentuk ekstrak. Penyimpanannya mudah dengan suhu, asal ada esnya, ada kulkas, ada freezer bisa disebar di mana-mana. Untuk harga satu botol bir Jawa saya jual Rp13.000,” katanya.

