Artjog 2026 Diguncang Kontroversi, Koalisi ArtJoke Soroti Artwashing terhadap Seniman

8 Min Read
A barefoot person in a black top raises a white board toward a masked figure as three men approach near a pink-tiled wall with 'ART JOG' on the left.
Seniman diamankan saat menampilkan aksi teatrikal di ARTJOG 2026. Sumber: Instagram @gardabiru.uny

Mabur.co- Ajang Lebaran Seni Kontemporer di Yogyakarta, Artjog, kembali hadir. Pada 2026, Artjog mengusung tema ”Ars Longa Trilogia” yang berarti ”Trilogi Seni Itu Panjang”. 

Pembukaan perhelatan seni kontemporer tahunan ArtJog 2026 di Jogja National Museum (JNM), Jumat (19/6/2026), diwarnai aksi protes dari sejumlah seniman yang tergabung dalam Kelompok ArtJoke.

Dilansir dari akun Instagram gardabiru.uny, Sabtu (20/6/2026), seorang seniman mengenakan baju hitam dengan kain sejenis topeng yang menutupi wajahnya, menampilkan aksi teatrikal di bawah logo ARTJOG tepat di depan pintu masuk event tahunan itu.

Petugas keamanan pun beraksi setelah adanya lemparan cat berwarna merah mengenai plakat. Kemudian, seniman itu dibawa oleh petugas keamanan ke arah pos keamanan dan dilakukan interogasi.

Mohon Maaf atas Pemukulan

Program Director ARTJOG, Gading Paksi, menyampaikan permohonan maaf kepada Ayik atas peristiwa yang telah terjadi. Dirinya mengaku telah berbicara langsung dengan Ayik yang menjadi korban pemukulan malam itu.

“Saya minta maaf karena hal ini harus terjadi,” ungkap Gading Paksi saat dikonfirmasi via telepon, Sabtu (20/6/2026).

Paksi mengatakan, pihaknya meminta waktu untuk melakukan investigasi untuk mengusut kejadian yang sebenarnya dengan berkoordinasi bersama tim dan petugas keamanan.

“Sebenarnya saya sangat perlu waktu untuk menginvestigasi bagaimana kronologi yang sebenarnya. Saya butuh waktu untuk berbicara dengan tim kami semuanya, bicara dengan tim keamanan juga mengenai kronologi kejadian tadi seperti apa,” jelasnya.

Paksi mengatakan, selama ini ARTJOG selalu berkomitmen menyediakan ruang bagi para seniman untuk berekspresi serta menerima kritik dari berbagai pihak.

“Kami tekankan kepada seluruh tim bahwa kami membuka seluas-luasnya ruang berekspresi seperti yang Mas Ayik lakukan tadi. Jadi kami sama sekali tidak ingin dan tidak akan menghalangi niatan-niatan itu,” terangnya.

Bagian dari Koalisi ArtJoke, Lorca, mengatakan, ArtJoke adalah sebuah wacana yang dihadirkan guna merespons apa yang terjadi dalam perhelatan kesenian yang baru kemarin dibuka di Yogyakarta, yaitu ARTJOG.

Sebuah festival seni yang sangat prestisius, yang selama ini bisa menjadi representasi publik yang luas. Bagaimana melihat kesenian di Yogyakarta.

“Hal yang membuat kami merespons ini adalah bagaimana secara gamblang untuk yang kedua kalinya, ARTJOG melakukan praktik outcrossing dengan menggandeng korporasi-korporasi yang itu merupakan perpanjangan tangan dari rezim saat ini.

Hal lain yang kemudian membuat kami marah terhadap apa yang terjadi di perhelatan kesenian adalah karena adanya koordinasi dari korporasi-korporasi tadi, yang mendanai program kesenian di sepanjang 3 bulan ke depan. Hal yang paling ditekankan di sini adalah bahwa Artwashing yang terjadi, seolah mengabaikan begitu saja konteks sosial politik, yang sedang terjadi di Indonesia hari ini,” ujarnya, saat menggelar konferensi pers di Kantor LBH Yogyakarta, Sabtu (20/6/2026).

Panel discussion with four people seated at a wooden table; the person on the far right speaks into a microphone while others listen, wall with posters behind them.
Koalisi ArtJoke saat menggelar konferensi pers di Kantor LBH Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Lorca, menuturkan, kalau dipahami, ada banyak rekan generasi hari ini yang turun ke jalan. Berupaya menggugat kekuasaan yang sudah semena-mena dengan berbagai kebijakan di pemerintahan Prabowo-Gibran.

Hal yang paling menjadi ironi adalah  tema yang diusung oleh ARTJOG yakni Ars Longa Trilogia.

“Kami mencoba untuk mempertanyakan generasi macam apa yang dibicarakan dalam dinding pameran di sana. Atau di atas panggung-panggung yang nanti akan disaksikan oleh ratusan, bahkan ribuan pasang mata yang hadir selama 3 bulan. Sementara di sisi lain, ada banyak generasi yang kalau kita lihat dalam situasi politik ke belakang, malah ditangkap, dikriminalisasi, dan sebagainya. Hanya karena mencoba untuk meminta hak-hak mereka sebagai masyarakat. Mencoba menggugat kebijakan-kebijakan yang itu menindas banyak rakyat di negara ini,” katanya.

Lorca mengatakan pula, ketika label generasi itu dihadirkan di sebuah dinding atau di dinding ruang pameran, akan dilihat oleh para elit. Akan dinilai dengan harga yang fantastis mungkin.

Ironi Kesenian

Artinya itu adalah sebuah ironi dalam ruang kesenian kita hari ini. Itulah salah satu alasan yang tepat kenapa hari ini teman-teman dari berbagai kalangan, dari seniman dan sebagainya, rekan-rekan mahasiswa, dan masyarakat lainnya, berhak untuk marah.

Apa artinya ketika realitas sosial hari ini hanya dipertontonkan dalam sebuah ruang kesenian yang sangat kapitalistik dan juga berada di dalam kontrol kekuasaan hari ini.

“ArtJoke hadir sebagai wacana tandingan terhadap ruang kesenian yang telah dikomutasi oleh negara,” katanya.

Wispi, bagian dari koalisi ArtJoke menyatakan, yang perlu digarisbawahi adalah sangat disayangkan tindakan ARTJOG melalui keamanannya, merepresi bahkan melakukan tindakan yang kasar terhadap performer.

Ekspresi performing yang kemudian dibatasi. Jadi, persoalan yang muncul justru malah bergulir, ketika berjalannya performing sedang berlangsung, tiba-tiba dihentikan dan diseret dari muka panggung sampai ke pos satpam. Itu yang memicu keributan. Jadi persoalan ini muncul dan meluap kemudian dikondisikan di dalam perhelatan saat itu.

“Satu hal yang paling penting adalah yang sangat disayangkan, tingkat reliabilitas itu cukup masif karena teman kita bagian dari ArtJoke. Dia punya ekspresi, mengekspresikan apa yang dia lihat, apa yang dia rasakan dengan kondisi politik hari ini. Sangat represif, sangat otoriter. Tapi kemudian di wilayah arena kebudayaan yang seharusnya netral, posisi yang sangat demokratis, yang seharusnya demokratis itu malah menjadi ruang represif yang otoriter pula. Itu bagian dari yang sangat disayangkan oleh kita,” katanya.

Warga Menyayangkan Tindakan Represif

Sementara itu, salah satu warga Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Arifin mengatakan, menyikapi hal tersebut, kenapa seniman memprotes kejadian represif dari petugas keamanan.

“Selama ini yang saya perhatikan seniman itu sama seperti media. Merasa terbungkam, mereka sudah jengah dengan keadaan atau kondisi masyarakat Indonesia pada umumnya. Seni itu sendiri adalah kebebasan, tetapi ketika seni itu ada batasan, seni itu dibatasi, yang terjadi seperti itu.

Saya sebagai bagian dari masyarakat sangat menyayangkan kejadian itu. Di mana kebebasan sudah tidak ada lagi di Indonesia. Saya berharap pemerintah lebih memperhatikan seniman. Berikan dia ruang kebebasan, kembalikan seperti semula dan jangan ada tindakan represif seperti itu lagi. Karena seni itu adalah keindahan, seni itu adalah kebebasan. Kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan mengeluarkan ekspresi, kebebasan menuangkan ide-ide karya. Kebebasan untuk mereka berkarya, mengkritisi apa yang terjadi di masyarakat,” katanya.

Smiling man in a black jacket posing in front of a glass window; reflection visible in the pane.
Salah satu warga Wirobrajan Kota Yogyakarta, Arifin. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Arifin mengatakan lagi, intinya mereka itu hanya sebatas mengkritisi, ketika pemerintah antikritik berarti mereka tidak mau maju.

Harapannya jangan terulang lagi kejadian seperti itu. Ini adalah Orba gaya baru. Secara sistematis. Karena adanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak lagi berpihak kepada masyarakat.

Rakyat yang selalu jadi korban, hampir semua kebijakan pemerintah yang dikorbankan adalah rakyat. Itu juga bisa dilihat pada kenaikan pajak. Terus meningkatnya nilai mata uang dolar, melemahnya rupiah karena imbas dari kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat.

“Seharusnya seperti aparat keamanan, penegak hukum dan lain-lain, ayolah kembali ke fungsi masing-masing seperti dulu. Jangan ada lagi pembungkaman, jangan ada lagi rakyat yang selalu dikorbankan,” katanya. ***

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment