Mabur.co – Pecahnya Kerajaan Mataram Islam di era pertengahan abad XVIII melahirkan dua kekuatan besar yaitu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Perkembangan budaya kedua kerajaan itu melahirkan karakter budaya tersendiri, termasuk budaya batik. Setelah pecahnya Mataram, nama batik antara Solo dan Yogya tetap sama.
Batik parang merupakan batik kerajaan yang terkenal di area Jawa Tengah khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta dan Solo.
Batik Parang Yogya dan Solo Mirip
Batik parang Yogyakarta pada umumnya terlihat mirip dengan batik parang yang terdapat di Solo. Hal ini disebabkan karena Yogyakarta dan Solo dulu berasal dari satu kerajaan yang sama.
Meski keduanya berasal dari budaya Jawa, batik Solo dan Yogya memiliki kekhasan masing-masing. Terlihat serupa, sebenarnya terdapat perbedaan signifikan pada warna dan motif.
Batik Solo cenderung mendominasi latar warna-warna gelap, seperti cokelat. Berbeda dengan batik Yogya yang lebih dominan warna cerah, seperti putih.
Meski begitu, ada juga batik Yogya yang memiliki warna gelap sebagai dasar. Nah, seiring perkembangan zaman inilah yang mendorong perubahan warna batik Yogya. Tetap ada bedanya.
Batik Yogya yang berwarna hitam cenderung terlihat kebiruan. Warna gelap pada batik Solo cenderung hitam kecoklatan.
Tiap warna batik ini mengandung makna berbeda-beda. Warna cerah pada batik Solo menandakan Keraton Solo yang mengunggulkan keanggunan, tak mencolok. Sementara batik Yogya cenderung memilih warna cemerlang.
Tidak Lepas dari Perjanjian Giyanti 1755
Dosen dan peneliti di Program Studi Kriya Seni/Kriya Tekstil, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tiwi Bina Affanti, menjelaskan, perbedaan batik Yogya dan Solo tidak lepas dari Perjanjian Giyanti 1755.
Membagi Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Sejarah kedua keraton itu menjadi akar perbedaan motif batik Yogya dan Solo.
“Perkembangan motif batik sejak masa tersebut sangat terlihat untuk memunculkan perbedaan dari kedua kota. Batik Solo muncul istilah latar cemeng (pelataran hitam) dan di Yogya latar pethak (pelataran putih),” katanya, dilansir Kompas.com, Sabtu (3/10/2026).
Tiwi menjelaskan, perbedaan paling mudah dikenali ada pada latar motif.
“Dalam motif batik tradisional, perbedaan signifikan dari batik Yogya dan Solo terletak pada latar belakang motif dan hiasan motif. Batik Yogya cenderung menggunakan background motif warna putih sedangkan Solo cenderung ke warna coklat atau gelap,” ujarnya.
Meski begitu, menurut Tiwi, banyak batik Yogya yang berlatar hitam atau gelap. Bedanya, hitam Yogya cenderung kebiruan, sedangkan warna gelap batik Solo kebanyakan hitam kecokelatan.
Laman Resmi Keraton Yogyakarta
Hal ini sejalan dengan keterangan di laman resmi Keraton Yogyakarta. Latar batik gaya Yogyakarta berwarna putih atau hitam kebiruan, dengan pewarnaan yang didominasi cokelat soga, putih bersih, biru tua wedel, dan hitam.
Ciri khas lainnya ada pada seret, bagian putih di pinggir kain, yang dipertahankan tetap putih terang. Kedua keraton sama-sama mempertahankan desain baku peninggalan Mataram, tetapi hasilnya tidak identik. Contohnya motif parang.
“Misalnya pada motif parang, Yogya hanya parang saja dengan latar belakang putih, tetapi parang Solo di sisinya akan ada tambahan gambar,” katanya. ***
