Gebyar Lumbung Mataraman, Ragam Inovasi Pangan Lokal Hadir di Lahan Terbatas

6 Min Read
Outdoor market scene with white tents, a thatched-roof stall, and rows of potted plants and produce for sale.
Suasana kegiatan Festival Inovasi Lumbung Mataraman di Jogja Agro Park, Nanggulan, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Sebanyak 25 stan yang diisi 10 kalurahan dan 15 Kelompok Wanita Tani (KWT) memeriahkan Festival Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026 di Jogja Agro Park (JAP), Nanggulan, Kulon Progo, akhir pekan, Jumat-Sabtu (2-3/10/2026) ini. 

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY sebagai penyelenggara festival ini menampilkan beragam inovasi pangan lokal dan pemanfaatan lahan terbatas.

Selain menjadi ruang pertemuan pemerintah, petani, kelompok masyarakat, pelaku usaha, pendidikan dan teknologi, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat ketahanan pangan dari tingkat lokal.

Mengusung tema “Lumbung Mataraman Mendukung Swasembada Pangan melalui Pangan Lokal Sehat dan Berkualitas”, festival tersebut tidak hanya menjadi ajang pameran.

Manfaatkan Pekarangan dan Lahan Terbatas

Lumbung Mataraman diarahkan untuk mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan dan lahan yang terbatas agar tetap produktif menghasilkan pangan.

Kepala DPKP DIY, Aris Eko Nugroho, mengatakan keterbatasan lahan menjadi salah satu tantangan utama pembangunan pertanian. Karena itu, masyarakat didorong memanfaatkan pekarangan rumah dan lahan yang belum tergarap.

“Salah satu tantangan utama pembangunan pertanian saat ini adalah semakin terbatasnya lahan, oleh karena itu, kami mendorong inovasi pemanfaatan lahan pekarangan agar masyarakat dapat mengoptimalkan ruang terbatas yang ada dengan maksimal dan kreatif,” katanya.

Menurut Aris, pengembangan Lumbung Mataraman juga menerapkan filosofi Jawa nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur.

Prinsip tersebut mendorong masyarakat memproduksi pangan sesuai kebutuhan sekaligus memanfaatkan potensi lokal.

Market display of fresh produce including large melons in baskets and red onions with a 'Bawang Merah' sign on display
Sejumlah produk pangan yang ditampilkan di Lumbung Mataraman. (Foto: JH Kusmargana)

Antisipasi Krisis Pangan

Lumbung Mataraman ini juga diarahkan untuk memperkuat produksi sekaligus konsumsi pangan lokal yang sehat.

Program tersebut juga diproyeksikan menjadi salah satu langkah untuk mengantisipasi kemungkinan kelangkaan dan krisis pangan.

Saat ini program masih dikembangkan dalam skala terbatas melalui intervensi Dana Keistimewaan (Danais), tetapi pemerintah menyebut telah ada dampak langsung bagi masyarakat di kalurahan penerima manfaat.

Pemanfaatan lahan ke depan juga tidak hanya mengandalkan Tanah Kesultanan atau Sultan Ground dan Tanah Kadipaten atau Pakualaman Ground. Pemerintah mendorong pemanfaatan lahan milik masyarakat yang belum tergarap.

“Program ini menerapkan konsep integrated farming. Tidak hanya melibatkan generasi muda, tetapi juga merangkul keluarga miskin untuk terlibat aktif meningkatkan taraf ekonomi dan ketersediaan pangan mereka,” ujar Aris.

Melalui konsep integrated farming, kegiatan pertanian dapat menggabungkan tanaman, peternakan, dan perikanan dalam satu sistem. Dengan begitu, lahan terbatas diharapkan tetap mampu menghasilkan pangan sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Para petani dalam Festival Inovasi Lumbung Mataraman di Jogja Agro Park, Nanggulan, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Kembangkan Potensi Lokal

Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Noviar Rahmad, yang membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, ketahanan pangan harus dimulai dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.

Pekarangan rumah dan lahan kelompok tani, menurutnya, dapat menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan pangan. Namun, komoditas dan pola budidaya tidak harus seragam di setiap wilayah.

“Tidak semua tempat harus menanam komoditas yang sama, tidak semua kelompok harus menggunakan pola yang sama. Justru kekuatan Lumbung Mataraman terletak pada kemampuannya membaca potensi lokal, kemudian mengembangkannya menjadi sumber pangan dan kesejahteraan,” kata Noviar.

Karena itu, setiap wilayah didorong mengembangkan komoditas sesuai kondisi tanah, air, lingkungan, dan kemampuan masyarakat.

Pendekatan tersebut juga diperkuat melalui demonstration plot atau demplot. Lahan percontohan ini dapat menjadi ruang belajar bersama bagi petani dan penyuluh untuk menguji pola budidaya, pengelolaan air, pemupukan hingga pertanian terpadu.

Teknologi pertanian modern dipadukan dengan pengetahuan lokal sehingga masyarakat tidak hanya menerima hasil, tetapi juga memperoleh pengetahuan yang dapat diterapkan secara mandiri.

“Lumbung Mataraman harus menjadi gerakan yang hidup; hidup di pekarangan keluarga, hidup di kelompok tani, hidup dalam pengetahuan masyarakat, dan hidup dalam keyakinan bahwa tanah yang dikelola dengan pengetahuan, ketekunan, dan kebersamaan akan selalu mempunyai jalan untuk memberi kehidupan,” ujar Noviar.

Group of adults in batik shirts converse at an outdoor plant market with tents and potted plants nearby.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, berkunjung ke Lumbung Mataraman, Nanggulan, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Jadi Ajang Tukar Pengetahuan 

Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menyambut baik penunjukan Jogja Agro Park sebagai pusat kegiatan Lumbung Mataraman sekaligus lokasi pembelajaran pertanian ke depan.

Menurut Agung, festival tersebut dapat menjadi ruang bagi petani dan pelaku UMKM untuk bertukar pengetahuan sekaligus memperkuat jejaring ekonomi lokal.

“Lumbung Mataraman menjadi salah satu ruang untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada tersebut. Masyarakat tidak hanya didorong untuk menghasilkan pangan, tetapi juga membangun kemandirian dalam mengelola sumber daya yang ada di lingkungannya,” ujar Agung.

Ia menilai, swasembada pangan tidak cukup hanya dilihat dari jumlah produksi. Ketersediaan pangan secara berkelanjutan, kualitas, keamanan, dan akses masyarakat juga harus menjadi perhatian.

“Dari pangan lokal kita bangun kemandirian. Dari kemandirian kita wujudkan swasembada pangan. Dari Kulon Progo kita kuatkan ketahanan pangan Yogyakarta,” kata Agung.

Dalam kegiatan ini pemerintah juga menyerahkan bantuan sarana produksi pertanian berupa traktor roda dua serta benih padi dan jagung.

Penghargaan Lomba Sawah Irigasi Ramah Lingkungan (SIRAMLI) hingga penyerahan hadiah Lomba Inovasi Pemanfaatan Lahan Terbatas tingkat Kelompok Wanita Tani se-DIY. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar