Mabur.co – Tradisi unik bernama Baturunan Manurunkan Parau digelar masyarakat Banua di halaman Museum Batiwakkal, Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Dihadiri pada pemangku adat, pejabat pemerintah hingga masyarakat luas, tradisi ini berlangsung meriah sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-73 Kabupaten Berau sekaligus HUT ke-216 Kota Tanjung Redeb.
Rangkaian kegiatan Baturunan Manurunkan Parau sendiri diawali dengan pementasan Tari Jappin Banua, yang kemudian dilanjutkan ritual adat Manyandru Parau atau Tepung Tawar sebagai bagian memohon doa keselamatan.
Ritual Turunkan Perahu Panjang
Seteleh itu barulah acara puncak Baturunan Manurunkan Parau dilakukan. Yakni sebuah ritual menurunkan perahu panjang ke sungai yang dilakukan secara bersama-sama oleh warga dan sejumlah pemangku adat.
Setelah prosesi selesai, kegiatan lalu dilanjutkan dengan ritual Basparah atau makan bersama.
Dikutip Kaltim Today, Selasa (22/9/2026), bagi masyarakat Banua, tradisi Baturunan bukan sekadar prosesi menurunkan perahu biasa. Pasalnya tradisi ini sarat akan nilai-nilai spiritualitas dan pesan-pesan dalam menjalani kehidupan sosial.
Salah satunya adalah menggambarkan semangat gotong-royong, saling membantu dan tolong-menolong.
Budayawan Berau, Saprudin Ithur, menyebut tradisi Baturunan bahkan tak hanya dilakukan untuk menurunkan perahu saja.
Namun juga dalam berbagai kegiatan masyarakat sehari-hari lainnya mulai dari saat panen, acara pernikahan, hingga kegiatan sosial lainnya.
Digelar di kawasan Museum Batiwakkal Gunung Tabur, tradisi Baturunan Manurunkan Parau sendiri kembali diangkat sebagai agenda budaya Kabupaten Berau sejak 2014.
Pemerintah Kabupaten Berau menyebut Baturunan Manurunkan Parau sebagai bagian dari tradisi masyarakat Banua yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan tradisi Baturunan Manurunkan Parau menjadi potensi wisata budaya yang harus terus dilestarikan dan dikembangkan bersama. Sehingga akan melengkapi potensi wisata alam dan bahari yang selama ini menjadi daya tarik Berau.
“Tradisi ini merupakan wujud nyata kecintaan kita terhadap budaya Suku Banua yang sarat dengan nilai gotong royong, kebersamaan, dan saling membantu,” ujar Gamalis.
Pelestarian Tradisi Libatkan Generasi Muda
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau, Yudha Budi Santosa, mengatakan, pelestarian tradisi juga penting untuk mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda.
“Melalui momentum ini, kita berharap generasi muda dapat mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya lokal. Selain itu, kegiatan ini diproyeksikan untuk memperkuat daya tarik pariwisata berbasis kebudayaan di Kabupaten Berau,” ujarnya. ***
