Dunia ‘Sakit Jiwa Kronis’, Komunitas Srawung Paseduluran Anggara Kasih Gelar Ruwat Zaman Mantra Jagad Nata

5 Min Read
ILUSTRASI - Sejumlah warga melakukan tradisi larungan dengan membuang sesaji ke laut. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Komunitas Srawung Paseduluran Anggara Kasih siap menggelar agenda Pembacaan Mantra dan Kidung Pangruwat Jagad yang akan dipimpin oleh Ki Hend Wiratirta serta didampingi KRAT. Sabdo S. Narendrapara, juga Ki Tito Pangesthi Aji, Gus Dewa Sanjaya, dan Sesepuh Srawung Paseduluran Anggara Kasih lainnya.

Acara Mantra Jagad Nata ini akan dilaksanakan di area pantai selatan atau Pantai Parangtritis pada Senin, 19 Oktober 2026, jam 15.00 WIB – selesai. Acara ini diikuti oleh anggota Paseduluran Anggara Kasih dan masyarakat yang peduli serta mendaftarkan diri kepada panitia.

Pembacaan Kidung

Mantra Jagad Nata akan dimeriahkan pula dengan pembacaan kidung yang didukung oleh Nyai Bardal Dresanala, serta direspons Gerak Tari oleh Nyi Diana dan Ki Bambang Nursinggih. Upacara dilanjutkan dengan larungan sesaji dan kenduri bersama.

Lebih jauh, Ki Gde Mahesa selaku inisiator acara menjelaskan, bahwa Mantra Jagat Nata adalah salah satu tema yang mencoba diangkat dalam rangka mengatasi persoalan kemanusiaan saat ini dan dunia yang mengalami “sakit jiwa kronis”.

Mantra Jagad Nata, dimaksudkan untuk menata jagad (mendefrak), serta mensucikan dari virus-virus peradaban, yang telah merusak file-file peradaban manusia.

Mantra Jagad Nata adalah sebuah upaya mengkoneksikan kembali kabel-kabel yang putus. Keterhubungan antar-manusia dengan alam, manusia dengan Sang Hyang, serta interkoneksi di antara ketiganya yang biasa disebut dengan Trihita Karana, Triloka, Trimina, Tri Mangkurat, Tri Bhuwana, Bhur, Bvah, Svah.

Lebih lanjut, mewakili panitia, Ki Gde Mahesa menjelaskan, bahwa pilihan tempat di pantai selatan dengan maksud mengambil energi feminin. Seiring dengan dominasi sifat maskulin yang mendominasi seluruh tatanan pengetahuan yang berkembang saat ini.

Filosofi Sifat Samudra

Diharapkan dengan sifat feminin yang direpresentasikan oleh sifat samudra dan Ratu Kidul, tatanan sosial yang maskulin/rasional, bisa menjadi seimbang dengan olah rohani/olah rasa dalam perspektif kawruh ketimuran.

Ada pun pantai pelangi atau pantai selatan sebagai simbol, berwarna-warninya pengetahuan manusia tidak menjadikan perseteruan, melainkan menghasilkan keindahan.

“Keindahan itu akan tercipta jika kita mengetahui bahwa keindahan yang sejati bersumber pada Samudra Kehidupan, di mana indah-jelek, benar-salah, baik-buruk adalah bumbu yang membuat nikmatnya masakan kehidupan,” tutur Ki Gde Mahesa dalam rilis yang dikirim ke mabur.co, Senin (12/10/2026).

Acara ini sebenarnya merupakan agenda rutin yang dilaksanakan selama selapan sekali. Acara ini diadakan di tempat terbuka, pertimbangan kepentingan dan keprihatinan atas kondisi zaman.

Menurut Ki Gde Mahesa pula, di tengah pusaran zaman yang kian riuh, peradaban manusia tampak tengah kehilangan arah pandangnya.

“Manusia hari ini tak lagi memiliki kebebasan autentik dalam menentukan pilihan hidupnya, sebab seluruh gerak dan keputusannya telah disetir oleh sistem besar yang mengepung dari segala penjuru. Lewat gempuran media mainstream yang sarat kepalsuan dan nilai-nilai profan, ilusi diciptakan hingga dunia maya dianggap sebagai kenyataan, sementara hakikat dunia nyata justru terlempar dan terabaikan di tempat sampah peradaban. Ada baiknya berita-berita kehilangan mulai kita dengar,” papar Ki Gde Mahesa lagi.

Kali ilang kedhunge / Pasar ilang kumandhange / Papan pangibadahan ilang kesuciane / Para Manggala ilang adil lan kawicaksanane / Brahmana/ resi / ulama ilang mesu budine / Wong Wadon Ilang Wirange / Wong lanang ilang kaprawirane / Wong miskin ilang kesabarane /

(Kali kehilangan kedalamannya / Pasar kehilangan riuhnya/ Para pemimpin kehilangan adil dan kebijaksanaannya/ Brahmana/Resi/ Ulama kehilangan laku sucinya/ Perempuan kehilangan rasa malunya / Laki-laki kehilangan kegagahannya/ Orang miskin kehilangan kesabarannya)

Kontribusi Menata Zaman

Dalam keprihatinan seperti ini, Srawung Paseduluran Anggara Kasih berupaya untuk turut berkontribusi dalam mencari solusi atas masalah-masalah mendasar yang dihadapi oleh manusia, setidaknya dalam lingkup dan kemampuan yang bisa dijangkau.

Gerakan pemikiran sudah bergulir, gerakan sosial sudah berjalan, alam pun sudah merespons atas energi Asura (baik dari Durga dan Kala), namun harmoni belum juga tercipta. Keretakan sistem diri, keretakan sistem sosial, keretakan keseimbangan alam sampai pada titik nadir.

Setiap niatan baik dan diwujudkan dalam sebuah laku akan melahirkan energi positif bagi sebuah kebangkitan peradaban. Mulat sarira hangrasa wani, wani hangrasa mulat sarira. ***

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar