Mabur.co – Acara sebar udhik-udhik menjadi salah satu ritual tahunan yang selalu ditunggu masyarakat setiap momen Maulid Nabi Muhammad SAW tiba, seperti tercatat dalam penanggalan Jawa, tak terkecuali pada Selasa (25/8/2026) malam.
Ratusan masyarakat mengikuti pembagian udhik-udhik yang merupakan bagian prosesi Kondur Gangsa dalam rangkaian Hajad Dalem Sekaten memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dua Perangkat Gamelan
Setiap tahun dalam rangkaian Hajad Dalem Sekaten Keraton Yogya mengeluarkan dua perangkat Gamelan Kanjeng Kiai Sekati yakni Kanjeng Kiai (KK) Gunturmadu dan KK Nagawilaga dari dalam keraton.
Kedua perangkat gamelan ini akan diletakkan masing-masing di Pagongan Lor dan Kidul Masjid Gedhe. Gamelan ditabuh bergantian selama kurun waktu tertentu.
Ada pun prosesi Kondur Gangsa yakni prosesi Gamelan Sekati dikembalikan ke dalam keraton selepas prosesi penyebaran udhik-udhik dan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di hadapan Ngarsa Dalem. Prosesi ini menjadi penutup Sekaten.
Tak Digelar Acara Rayahan Gunungan
Prosesi Kondur Gangsa ini menjadi puncak acara yang bisa dihadiri masyarakat. Pasalnya, tahun ini tidak digelar acara rayahan gunungan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Carik Kaprajuritan, Jajar Yuda Kawindra menuturkan, udhik-udik merupakan budaya luhur kerajaan dalam usaha mensejahterakan warganya.
“Udhik-udhik ini budaya nenek moyang, dadi pemimpin kudu gawe (harus membuat) kesejahteraan rakyat. Isinya udhik-udhik untuk membuat kesejahteraan rakyat,” jelasnya.
Jajar Yuda Kawindra mengatakan, dalam pembagian udhik-udhik Sri Sultan Hamengku Buwono X, didampingi empat orang putri dalem serta para mantu, yakni GKR Mangkubumi, GKR Bendara, KPH Purbodiningrat, dan KPH Wironegara.

“Begitu Ngarsa Dalem miyos dalem (datang) lalu ke Pagongan Kidul bersama putri dalem dan mantu. Di sana membagi udhik-udhik ke wiyogo dan masyarakat. Setelah itu ke Pagongan Lor, sama membagi udhik-udhik,” terangnya.
Isi Udhik-udhik Dipertahankan
Menurut Jajar Yuda Kawindra, walaupun zaman sudah bergeser dan banyak yang sudah berubah, namun isi udhik-udhik tetap dipertahankan.
Dalam udhik-udhik ini Keraton Yogyakarta membagikan uang koin atau receh, beras bercampur bunga dan diberi kunyit atau beras kuning. Walaupun untuk masa kini uang tersebut memang tidak seberapa namun nilai dan manfaatnya tetap tidak tergantikan.
“Jangan hanya dilihat jumlahnya, arto (uang) udhik-udhik manfaatnya tinggi karena sudah didoakan ngarsa dalem (Sri Sultan HB X, Raja Yogyakarta) supaya bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” katanya.
Salah seorang warga, Wagiyem, mengaku sangat senang bisa mendapatkan 4 buah koin dalam udhik-udhik tahun ini.
“Buat penenang hati dapat barang dari keraton, disimpan saja tidak untuk dibelanjakan,” ujarnya. ***
