Mengenal Mangarontas, Tradisi Masyarakat Batak Sebelum Panen Kemenyan di Hutan

3 Min Read
Ilustrasi. Petani sedang memanen kemenyan. (Foto: Kompas)

Mabur.co – Sebagian masyarakat mungkin masih menganggap kemenyan sebagai sesuatu yang identik dengan hal negatif. 

Namun tak sedikit pula masyarakat di Indonesia yang juga menganggap kemenyan sebagai sesuatu yang sakral dan dihormati. 

Salah satunya adalah masyarakat Batak yang terdapat di wilayah Sumatra Utara. Bagi masyarakat Batak, kemenyan atau haminjon bukan sekadar komoditas hutan yang bernilai ekonomi. 

Pengetahuan Tradisional

Tanaman hutan penghasil getah ini juga menyimpan pengetahuan tradisional dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Bahkan saking pentingnya kemenyan bagi masyarakat Batak, mereka memiliki tradisi unik yang biasa dilakukan sebelum menyadap getah kemenyan di hutan. Tradisi itu biasa disebut dengan mangarontas.

Dilansir mabur.co dari katakabar.com, Rabu (21/10/2026), tradisi mangarontas sudah dilakukan masyarakat Batak sejak ratusan tahun silam. Tradisi turun-temurun ini dilakukan dengan melakukan ritual doa untuk memohon perlindungan serta meminta hasil panen melimpah.

Bagi masyarakat Batak, mangarontas, yang juga dikenal dengan sebutan manghontas atau marhontas, tak bisa dilepaskan dari kegiatan persiapan petani sebelum melakukan penyadapan atau pemanenan getah kemenyan.

Dalam rangkaiannya, tradisi ini akan dilakukan dengan memanjatkan doa serta penyediaan makanan adat, seperti manuk napinadar dan itak gurgur. Petani kemudian melakukan penorehan pada batang pohon untuk memperoleh getah kemenyan.

Tata cara pelaksanaannya juga bisa berbeda menurut komunitas dan kebiasaan setempat. Namun, terlepas dari semua itu tradisi ini memperlihatkan bahwa kegiatan memanen kemenyan tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan dan penghasilan, tetapi juga memiliki makna budaya bagi masyarakat yang menjalaninya.

Pengetahuan mengenai hutan, pohon kemenyan, dan tata cara pemanenan itu selama ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Batak yakni sebagai ilmu yang diwariskan antargenerasi.

Berbagai hal itulah yang diangkat dalam kegiatan kebudayaan bertajuk “Mangarontas” yang digelar di Sanggar Maduma di Gedung Pertemuan HKBP Doloksanggul Kota, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatra Utara, akhir pekan kemarin. 

Pelestarian dan Pengembangan Budaya Kemenyan

Kegiatan ini diisi berbagai acara mulai dari bincang-bincang tentang haminjon atau kemenyan, peluncuran buku mengenai kemenyan, hingga pementasan sendratari Si Boru Haminjon.

Pembina Sanggar Maduma, Riduan Situmorang, mengatakan pentingnya upaya pelestarian dan pengembangan budaya haminjon ini. Yakni sebagai upaya memperkenalkan dan mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda.

Bupati Humbahas, Oloan Paniaran Nababan, melalui Staf Ahli Bupati, Eliapzan Sihotang, tak menampik hal tersebut.

Ia bahkan turut menyampaikan apresiasi kepada Sanggar Maduma atas upayanya melestarikan, mengembangkan, dan mempromosikan seni budaya daerah.

Melalui diskusi, peluncuran buku, dan pertunjukan seni, kegiatan ini berupaya mempertemukan perspektif budaya, pengalaman petani, dan kreativitas seniman dalam mengenalkan kemenyan kepada masyarakat.

Dokumentasi dan pengenalan tradisi mangarontas menjadi bagian penting dari upaya menjaga warisan leluhur Batak. Sehingga haminjon tidak hanya dikenal sebagai hasil hutan bernilai ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang perlu dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tidak punah. *** 

TAGGED:
Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar