Rayakan Hari Pendidikan Nasional, Universitas Syiah Kuala Gelar Diskusi Nasional - Mabur.co

Rayakan Hari Pendidikan Nasional, Universitas Syiah Kuala Gelar Diskusi Nasional

Mabur.co – Memperingati Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026, Inkubator Seni Universitas Syiah Kuala (USK) menyelenggarakan Diskusi Nasional Pendidikan Seni se-Indonesia.

Dalam rilis yang diterima mabur.co, Kamis (30/4/2026), dijelaskan, kegiatan ini akan berlangsung di Ruang Teater Mini Adnan Ganto, Perpustakaan Abdullah Ali, USK, Banda Aceh, dalam format hybrid dengan kapasitas luring terbatas dan partisipasi daring yang terbuka secara luas.

Infographic poster for a national discussion on art education in Indonesia, with performers, venue, date, speakers, and sponsor logos.
Poster Diskusi Nasional “Menjaga Masa Depan Pendidikan Seni di Tengah Transformasi Pendidikan Tinggi Nasional”. Foto: Istimewa

Mengusung tema “Menjaga Masa Depan Pendidikan Seni di Tengah Transformasi Pendidikan Tinggi Nasional”, forum ini dihadirkan sebagai ruang dialog akademik yang menempatkan pendidikan seni dalam konteks yang lebih luas, yakni mandat konstitusional pendidikan di Indonesia.

Menurut Ari Pahlawi Jauhari, salah seorang dosen USK, dalam berbagai perbincangan publik mutakhir, arah kebijakan pendidikan tinggi menunjukkan penekanan yang semakin kuat pada efisiensi tata kelola, penguatan indikator kinerja, serta keterkaitan dengan kebutuhan industri.

“Perkembangan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara tuntutan pembangunan ekonomi dan fungsi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia yang utuh,” tutur Ari kepada mabur.co.

Lebih jauh dijelaskan Ari, dalam kerangka tersebut, pendidikan seni memiliki posisi yang penting. Selain berkontribusi pada pengembangan kreativitas, kepekaan, dan daya reflektif, pendidikan seni juga berperan dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan sebagai bagian dari identitas bangsa.

“Secara nasional, program studi seni tersebar di berbagai perguruan tinggi, baik dalam lingkungan FKIP, Fakultas Bahasa dan Seni, maupun institusi khusus seperti Institut Seni Indonesia (ISI) dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), dengan ragam bidang keilmuan yang terus berkembang,” tutur Ari.

Menurut Ari pula, di Aceh, penyelenggaraan pendidikan seni berlangsung melalui beberapa jalur, terutama di lingkungan FKIP Universitas Syiah Kuala serta program berbasis seni dan budaya di perguruan tinggi lainnya.

“Dinamika yang terjadi secara nasional turut dirasakan di tingkat daerah, sehingga diperlukan ruang bersama untuk membahas arah pengembangan yang relevan dan berkelanjutan,” ujar Ari.

Diskusi nasional ini dirancang sebagai forum yang terfokus, dengan menghadirkan pandangan dari berbagai perspektif akademik.

Empat pemrasaran utama dijadwalkan hadir, yaitu Prof. Dr. Khairul Munadi, S.T., M.Eng., Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia; Prof. Dr. Bahrun, M.Pd., Guru Besar Filsafat dan Pendidikan FKIP USK; Prof. Melani Budianta, M.A., Ph.D., Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia; serta Prof. Drs. Triyono Bramantyo PS., M.Ed., Ph.D., Guru Besar Pendidikan Musik ISI Yogyakarta.

Format kegiatan disusun secara ringkas dan substantif. Setiap pemrasaran akan menyampaikan pandangan awal selama 10 menit, dilanjutkan dengan diskusi terbuka yang melibatkan partisipan dari berbagai institusi, baik secara luring maupun daring. Pada sesi penutup, simpulan dan rekomendasi forum akan dirumuskan sebagai naskah akademik bersama.

Sambutan pembukaan akan disampaikan oleh Rektor Universitas Syiah Kuala. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem seni di lingkungan USK melalui Inkubator Seni, yang sejak awal dikembangkan sebagai ruang kolaborasi akademik dan kultural.

Diskusi ini melibatkan partisipasi dari berbagai kampus di Indonesia, termasuk institusi seni, universitas negeri, serta perguruan tinggi berbasis keagamaan yang memiliki perhatian terhadap pendidikan seni dan kebudayaan. Keterlibatan lintas wilayah ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi akademik dalam merespons perkembangan kebijakan pendidikan tinggi secara konstruktif.

Kegiatan ini terselenggara dengan dukungan Perpustakaan Universitas Syiah Kuala serta partisipasi dan donasi dari berbagai pihak.

Melalui forum ini, diharapkan lahir rumusan yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kebijakan pendidikan tinggi yang tetap memperhatikan dimensi kebudayaan dan pembangunan manusia.

Diskusi akan dilaksanakan pada Sabtu, 2 Mei 2026, pukul 10.00 WIB, dan dapat diikuti secara daring melalui Zoom Meeting (ID: 947 8443 9819 | Passcode: 081275).

Informasi lebih lanjut tersedia melalui kontak Mukhsin di nomor +62 812-6915-732.

Forum ini terbuka bagi pimpinan perguruan tinggi, dosen, seniman, peneliti, mahasiswa, serta seluruh pemangku kepentingan pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *