Pentingnya Membangun Branding di Tempat Lain Selagi Masih Populer

9 Min Read
Transformasi Raffi Ahmad, dari seorang model dan pemain sinetron sejak usia remaja, kini menjadi pemilik RANS Entertainment serta bagian dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sehingga popularitasnya terus awet hingga saat ini. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Nama-nama artis seperti Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, Andre Taulany, Sule, dan Ruben Onsu merupakan deretan artis yang mulai melejit sejak akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an.

Namun hingga dekade kedua di milenium kedua ini, nama-nama tersebut masih saja menghiasi layar kaca, baik di televisi maupun media sosial serta media digital di mana-mana.

Seolah nama-nama tersebut masih menjadi daya tarik utama bagi setiap media dan dunia hiburan tanah air, sekalipun usia mereka bisa dikatakan sudah tidak muda lagi.

Awetnya popularitas mereka saat ini bukannya tanpa usaha sama sekali. Selain membangun karier lewat dunia hiburan (dengan menjadi artis), mereka juga banyak mencoba hal-hal baru ke bidang-bidang lainnya, untuk dapat mempertahankan eksistensi mereka di panggung hiburan.

Seperti yang diketahui, dunia hiburan atau keartisan adalah sesuatu yang sifatnya momentum, alias bisa datang dan pergi begitu saja, tergantung selera masyarakat dan bagaimana perkembangan dunia sedang berjalan.

Contohnya, ketika dekade 2010-an sempat booming grup musik boy band dan girl band yang berasal dari Korea Selatan (K-Pop), yang kemudian ikut diadopsi di Indonesia, seperti yang pernah dilakukan oleh SMASH (boy band), dan 7 Icons (girl band).

Meskipun era boy band dan girl band pada saat itu pernah mencapai masa puncaknya (diundang mengisi berbagai acara dan talk show), namun pada akhirnya, grup musik khusus pria dan wanita semacam itu juga tidak mampu bertahan lama, karena selera pasar yang terus berubah dengan sangat cepat.

Dalam konteks tersebut, kreativitas dan koneksi yang dimiliki setiap artis begitu diuji. Karena mereka pasti menyadari, jika hanya sibuk pada satu bidang saja, karier mereka bisa-bisa tamat, dan terancam tidak lagi mendapat penghasilan di masa depan.

Menciptakan Karier “ke Samping”

Raditya Dika saat tampil di salah satu acara stand up comedy tunggal miliknya. Radit juga dikenal memiliki beberapa bisnis di bidang industri kreatif, produksi hiburan digital, dan investasi. (Foto: Instagram@raditya_dika)

Salah satu komika atau stand up komedian, Raditya Dika, pernah mengungkapkan pada 2018 lalu, bahwa karier para seniman atau para artis panggung hiburan tidak seperti pekerja kantoran pada umumnya. Memiliki jenjang karier jelas di satu perusahaan, mulai dari staf, kepala divisi/bidang, manajer, hingga direktur. Atau jika beruntung (dan punya orang dalam) bisa saja naik lagi menjadi komisaris dan seterusnya.

Alih-alih memiliki karier yang terus menanjak naik di satu tempat, Radit lebih melihat bahwa karier seorang seniman itu lebih condong bergerak “ke samping”, alias berkembang secara horizontal.

Hal ini ditandai dengan banyaknya job desk di dunia entertainment yang bisa digeluti sekaligus oleh seorang seniman, baik di depan maupun di belakang layar.

Radit sendiri mengawali kariernya menjadi seorang penulis buku, di mana ia kerap menceritakan pengalaman pribadi (terutama percintaan) secara jenaka.

Kemudian ia mulai merambah ke dunia seni peran, dan mulai terlibat dalam sejumlah sitkom atau web series yang ia buat sendiri di kanal YouTube pribadinya, salah satunya adalah “Malam Minggu Miko” (2012).

Dengan memiliki segudang pengalaman di bidang yang cukup linier, baik di depan maupun di balik kamera, hal itu akan meningkatkan kemampuan para pekerja seni untuk dapat merambah bidang-bidang lainnya, tanpa harus takut posisinya (di depan layar) akan digantikan oleh artis-artis muda di masa depan.

Selain itu, kemampuan untuk mengolah konten hiburan dari berbagai sisi, mulai dari versi tulisan hingga audiovisual — seperti yang dilakukan oleh Raditya Dika — merupakan aset yang sangat berharga, untuk dapat mempertahankan eksistensi di dunia hiburan, meskipun dengan cara yang sedikit berbeda.

Memanfaatkan Media Digital untuk Tetap Eksis

Two men smiling for a selfie in a room with shelves, books, and audio gear (speaker) in the background; one wears glasses on the left.
Stand Up Comedian, Soleh Solihun, merambah ke YouTube dengan membuat serial “Soleh Solihun Interview” dengan mewawancarai rekan sesama artis (Foto: kanal YouTube Soleh Solihun)

Kehadiran media digital seperti media sosial dan website di masa kini, sebenarnya menjadi dua sisi mata uang bagi para pekerja seni atau artis.

Di satu sisi, kehadiran media-media tersebut mampu membuat nama mereka semakin populer, karena mereka ikut merambah ke lokasi yang kini menjadi konsumsi utama masyarakat sehari-hari, terutama dari kalangan generasi muda.

Namun di sisi lain, kemunculan media-media digital juga mampu menenggelamkan nama besar mereka, manakala mereka tidak mampu beradaptasi dengan perubahan yang ada. Apalagi jika misalnya mereka enggan ikut bermigrasi ke media digital tersebut, guna membangun branding baru di tempat yang selama ini belum pernah digelutinya.

Di saat media-media konvensional seperti televisi, koran, atau majalah sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat, maka keputusan untuk ikut bermigrasi ke media digital merupakan suatu keharusan bagi seluruh pekerja seni, untuk dapat menyelamatkan popularitas mereka, sekaligus menyelamatkan kondisi finansial mereka.

Apalagi ketika seorang artis (yang biasanya ngetop di televisi) tiba-tiba merambah masuk YouTube dan semacamnya, maka engagement untuk kanal yang dikelolanya biasanya akan lebih mudah melejit dalam waktu singkat, karena popularitasnya masih tetap terpelihara, dan publik pun masih mengenalnya dengan baik.

Meskipun hal itu tetap saja menimbulkan perdebatan tersendiri, karena masuknya artis ke bidang atau platform lain seolah dianggap menghilangkan “ladang penghasilan” bagi orang-orang biasa, yang juga berkecimpung di media digital seperti YouTube tersebut.

Karena artis memang dikenal seringkali masuk (ke sebuah platform baru) tanpa diminta, lalu tiba-tiba langsung “mengambil alih panggung” yang sudah dimiliki oleh orang lain (yang bukan artis), dan seterusnya.

Membangun Bisnis Baru

Five people smiling and posing with banana-leaf plates of food in a colorful restaurant, a large flame-logo with a chicken behind them.
Artis Ruben Onsu (dua dari kanan) pernah mendirikan bisnis bernama “Geprek Bensu” yang sempat populer di tahun 2017, sekaligus memanfaatkan popularitasnya sebagai artis. (Foto: Instagram @geprekbensu)

Nama-nama artis yang disebutkan di atas tentunya bukanlah orang-orang yang hanya hidup dari penghasilan di dunia hiburan.

Karena sekali lagi, dunia hiburan adalah sesuatu yang sangat dinamis dan cepat berubah, sehingga ketika popularitas itu tidak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin (dengan membangun koneksi baru serta merambah ke bidang-bidang lainnya), maka siap-siap saja artis tersebut menjadi pengangguran baru berikutnya, ketika popularitas itu tidak lagi berada dalam genggaman.

Belum lagi jika misalnya artis tersebut terjerat kasus-kasus kriminal tertentu, seperti narkoba, kekerasan, dan sebagainya. Di mana kasus-kasus semacam itu juga cukup lekat dengan dunia keartisan tanah air, yang dikenal mempunyai pergaulan yang cukup bebas.

Hal itu tentu saja akan membuat popularitas sang artis langsung merosot tajam, sehingga citranya akan selalu dipandang negatif oleh masyarakat, termasuk dari kalangan penggemarnya sendiri.

Banyak artis yang kini memanfaatkan ketenaran mereka untuk membuat ladang bisnis baru, seperti Raffi Ahmad-Nagita Slavina dengan RANS Entertainment, Atta Halilintar dengan produk clothing AHHA, Andre Taulany dengan Warung Kondre, Deddy Corbuzier dengan Osbond Gym, dan masih banyak lagi.

Jangan lupakan juga bahwa nama-nama tersebut juga memiliki kanal YouTube-nya masing-masing, dengan jumlah subscriber mencapai puluhan juta.

Dengan begitu, mereka tetap bisa hidup dari dua platform sekaligus, baik di dunia digital (online), serta dunia nyata (offline), apalagi beberapa di antaranya juga ada yang berkecimpung di bidang politik, dan ikut menjadi bagian dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Padahal jika ditelusuri jejak kariernya sejak usia muda, mereka hanyalah artis dunia hiburan yang kerap mondar-mandir dari satu panggung ke panggung lainnya, dan dari satu stasiun televisi ke stasiun televisi berikutnya.

Namun ketika popularitas itu terus dijaga dan dipelihara dengan baik serta konsisten, maka jalur yang diperoleh akan selalu datang dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.

Karena menjadi orang terkenal itu memang sungguh nikmat, dan sanggup menguasai semua panggung yang diikutinya, asalkan nama baiknya selalu terjaga di hadapan publik dan penggemar setianya. (Berbagai sumber)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar