Mabur.co — Ubud Village Jazz Festival (UVJF) kembali hadir tahun ini dengan membawa semangat baru. Tak hanya menghadirkan nama-nama besar jazz dunia, festival yang akan berlangsung pada 7–8 Agustus 2026 di STHALA Ubud, Gianyar, juga memberi panggung bagi musisi-musisi muda berbakat dari berbagai negara.
Penyelenggara menilai festival tahun ini menjadi bukti semakin kuatnya peran UVJF sebagai ruang pertemuan lintas budaya sekaligus wadah lahirnya generasi baru musisi jazz internasional.
Co-Founder Ubud Village Jazz Festival, Yuri Mahatma, mengatakan banyak negara kini memiliki komitmen besar mendukung musisi mudanya tampil di festival-festival dunia.
Dukungan tersebut tidak hanya diberikan kepada musisi yang sudah memiliki nama besar, tetapi juga kepada talenta-talenta baru yang dinilai memiliki kualitas dan potensi.
“Selama mereka memiliki kualitas dan portofolio yang baik, pemerintah maupun lembaga kebudayaan di negara mereka bersedia membantu agar mereka bisa tampil di berbagai festival internasional,” kata Yuri dilansir Antara, Jumat (31/7/2026).
Musisi Berbagai Negara
Beberapa penampil tahun ini hadir berkat dukungan lembaga budaya dari negara asalnya. Pianis Simon Trpčeski, misalnya, datang dengan dukungan negaranya.
Sementara Jade & Paperstock difasilitasi Pemerintah Belanda, sedangkan grup Watchdog memperoleh dukungan dari Prancis.
Menurut Yuri, pola dukungan seperti itu diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk semakin memperkuat ekosistem musik, sehingga lebih banyak musisi jazz Tanah Air mampu menembus panggung internasional.
Festival tahun ini menghadirkan beragam warna musik jazz, mulai dari jazz kontemporer, straight ahead jazz, big band, hingga kolaborasi yang memadukan unsur musik tradisional dengan improvisasi modern.
Salah satu penampil yang paling dinanti adalah trio asal Jepang, H ZETTRIO, yang dikenal dengan permainan piano enerjik, groove yang kuat, dan penampilan panggung yang atraktif.
Musisi asal Italia, Simone Prattico, juga kembali tampil di Ubud melalui kolaborasi bersama Sri Hanuraga dan Kevin Yosua dalam Simone Prattico Java Collective. Trio tersebut akan memadukan nuansa Mediterania dengan warna musik Jawa dalam balutan jazz kontemporer.
Dari Indonesia, festival menghadirkan Straight and Stretch Quartet, Salamander Big Band, hingga sejumlah kelompok muda seperti Rason Trio, JZKA Trio, LaDju, dan Michael Ananda Trio.
Yuri menegaskan, memberi ruang kepada musisi muda menjadi salah satu fokus utama festival tahun ini. Menurutnya, Indonesia memiliki banyak talenta yang layak dikenal dunia, tidak hanya bergantung pada nama-nama besar seperti Joey Alexander.
Ia mencontohkan Rayson, gitaris berusia 14 tahun, serta personel JZKA Trio yang masih berusia belasan tahun namun telah menunjukkan kemampuan bermain di level internasional.
“Bakat mereka luar biasa. Mereka membutuhkan panggung internasional untuk berkembang, membangun jaringan, sekaligus menjadi duta budaya Indonesia melalui musik,” ujarnya.
Pertukaran Budaya dan Galakkan UMKM
Selain konser musik, Ubud Village Jazz Festival juga menjadi ruang bertemunya musisi, penonton, dan komunitas kreatif dari berbagai negara. Festival ini diharapkan terus mendorong pertukaran budaya sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta jazz dunia.
General Manager STHALA, a Tribute Portfolio Hotel Ubud Bali, Lasta Arimbawa, mengatakan penyelenggaraan festival sejalan dengan semangat hotel dalam merayakan keberagaman budaya sekaligus mendukung pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di sekitar kawasan Ubud.
Dengan latar alam Ubud yang asri, festival tahun ini diharapkan menghadirkan pengalaman berbeda. Penonton tidak hanya menikmati pertunjukan musik berkualitas, tetapi juga merasakan suasana yang lebih intim, kolaborasi lintas budaya, serta keindahan alam yang menjadi ciri khas Ubud.
