Festival Tong-tong Sumenep, Parade Musik Kelas Dunia dari Madura

4 Min Read
Colorful parade float with blue-purple feathered dragon shape surrounded by a crowd at night, during a festival show.
Festival Tong-tong Sumenep, Madura, yang cukup menyenangkan untuk menghibur publik. (Foto: Instagram)

Mabur.co – Festival Tong-tong Sumenep Madura 2026 yang kembali digelar akhir pekan lalu sukses mencuri perhatian publik tanah air.

Festival musik tradisional yang telah berlangsung selama puluhan tahun itu tak hanya mampu menarik puluhan ribu pengunjung, namun juga memukau setiap penonton yang hadir. 

Digelar di jalanan utama Kota Sumenep, beluma lama ini, festival tersebut menampilkan sebanyak 27 grup musik tong-tong dari empat kabupaten di Pulau Madura.

Suara tetabuhan alat musik tradisional tong-tong terdengar menggema di sepanjang rute parade, bersautan dengan iring-iringan alat musik modern lainnya.

Yang menarik, tak hanya memainkan musik dan aransemen khas yang berbeda satu sama lain, setiap peserta juga tampil dengan beragam atribut memukau. 

Perpaduan suara musik tradisional tong-tong, kostum unik yang dihias sedemikian rupa, hingga beragam atribut warna warni, menjadikan festival ini tak ubahnya parade budaya kelas dunia. 

Masuk Kalender Karisma Event Nusantara 2026

Digelar Pemerintah Kabupaten Sumenep bersama keluarga besar FKPPI Cabang 1327 Sumenep, Festival Tong-tong merupakan agenda budaya yang  masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.

Nighttime festival parade with a brightly lit, ornate float featuring a central deity head and dancers, crowds lining the street.
Suasana Festival Tong-tong Sumenep, Madura. (Foto: Instagram)

Dilansir situs resmi Pemkab Sumenep, tahun ini setiap peserta diwajibkan membawakan tembang “Guwa Pajudan”.

Lagu ini dipilih untuk memperkenalkan kembali Guwa Pajudan, salah satu destinasi wisata yang berada di ujung timur Pulau Madura.

Kembangkan Musik Tradisional

Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, mengatakan Festival Tong-tong Sumenep merupakan agenda tahunan yang rutin digelar guna memberikan ruang bagi seniman untuk mengembangkan musik tradisional tanpa meninggalkan karakter aslinya.

“Para seniman musik tong-tong agar meningkatkan kreativitas dalam setiap penampilan, melalui aransemen musik yang inovatif, menarik, dan tetap mempertahankan karakter khas musik tong-tong sebagai warisan budaya daerah,” ujarnya dilansir Sumenepkab.go.id.

Menurutnya, pengembangan aransemen diperlukan agar musik tong-tong tetap diminati, terutama oleh generasi muda. Meski begitu kreativitas tersebut tidak boleh menghilangkan identitas musik tong-tong sebagai warisan budaya takbenda Sumenep.

“Seniman tong-tong berinovasi dan mengembangkan kualitas aransemen musiknya, jangan sampai kehilangan jati diri musik tong-tong, namun kreativitasnya harus menjadi kekuatan untuk membuat budaya WBTB Sumenep semakin terkenal,” tegasnya.

Berawal dari Tetabuhan untuk Membangunkan Sahur

Jauh sebelum berkembang menjadi parade musik dan event berskala nasional, musik tong-tong khas Sumenep telah lama muncul dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat Madura.

Musik ini awalnya muncul dari tradisi patrol atau berkeliling membunyikan alat musik tradisional berupa kentongan untuk membangunkan warga saat sahur pada bulan Ramadan.

Dilansir dari situs Perpustakaan Budaya Digital Indonesia, Minggu (13/9/2026), nama “tong-tong” sendiri berasal dari bunyi yang dihasilkan alat musik tersebut. Instrumen utamanya berupa kentongan yang dibuat dari bambu atau kayu.

Nighttime parade float: an intricately lit, multicolored dragon-themed sculpture with ornate gold and blue patterns, bearing a small number 24 badge at the front.
Kemeriahan gebyar Festival Tong-tong Sumenep, Madura. (Foto: Dok Pemkab Sumenep)

Ukuran dan jenisnya pun beragam. Ada tongtong perreng dari bambu, tung-tung yang berukuran lebih kecil, hingga tongtong ta’al yang dibuat dari batok buah siwalan kering.

Dalam perkembangannya, kelompok tong-tong juga menggunakan gendang, simbal kecil, peking atau metalofon, serta kelmo’, yakni tempayan tembikar yang dimanfaatkan sebagai alat perkusi berukuran besar.

Permainan musik tong-tong biasanya mengandalkan pola ritmis pendek yang diulang-ulang dan dikombinasikan antarinstrumen. Bunyi perkusi berukuran besar membangun dasar irama, sementara kentongan mengisi pola ritme yang saling bersahutan.

Musik tong-tong juga bisa dilengkapi dengan nyanyian lagu Madura atau qasidah yang dinyanyikan secara bersama-sama.

Jika awalnya hanya digunakan sebagai sarana membangunkan orang sahur, musik tong-tong kemudian berkembang menjadi cabang musik tradisional yang kerap dimainkan di berbagai pertunjukan.

Di era tahun 1980-an musik ini bahkan pernah menjadi tren hingga muncul sejumlah festival yang rutin digelar sekaligus menjadi ruang bagi kelompok musik untuk menunjukkan kreativitasnya. Dari situlah musik tong-tong berkembang hingga menjadi seperti sekarang. *** 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar