Perkuat Kerja Sama Budaya, Indonesia dan Cina Siap Kembangkan Pusat Pengobatan Tradisional

3 Min Read
Officials seated around a conference table in a formal meeting room, Indonesian flag in the background.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon bersama perwakilan Cina bertemu akrab. (Foto: Dok Kemenbud)

Mabur.co – Pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mulai menjajaki kerja sama yang lebih luas di bidang kebudayaan.

Tidak hanya penguatan infrastruktur, kedua negara juga mendorong pembangunan yang berakar pada kearifan lokal, mulai dari revitalisasi kawasan bersejarah hingga pengembangan pusat pengobatan tradisional

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dengan Chairman China State Construction International Holdings Limited (CSCI), Gao Bo, di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Pertemuan itu merupakan tindak lanjut dari pembahasan strategis antara Kementerian Kebudayaan dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas.

Dalam pertemuan tersebut, Fadli Zon menyampaikan bahwa hubungan Indonesia dan Cina selama ini telah berkembang melalui berbagai proyek kerja sama. Selain sektor transportasi dan pembangunan fisik, kedua negara kini berupaya memperkuat ekosistem kebudayaan sebagai fondasi pembangunan masa depan.

Pusat Pengobatan Tradisional

Salah satu gagasan yang mendapat perhatian adalah rencana pembangunan pusat pengobatan tradisional di Indonesia. Menurut Fadli, fasilitas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana kesehatan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan dan mengembangkan ekspresi budaya.

“Kami menyambut baik gagasan pembangunan pusat pengobatan tradisional di Indonesia. Jamu atau wellness culture merupakan bagian dari ekspresi budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda,” ujar Fadli sebagaimana dikutip dari rilis resmi Kemenbud yang diterima Mabur.co, Kamis (18/6/2026).

Selain itu, Menteri Kebudayaan menilai peluang kerja sama kedua negara di bidang konstruksi sangat terbuka, terutama dalam upaya pelestarian bangunan bersejarah dan penataan kawasan kota lama di berbagai daerah di Indonesia.

“Revitalisasi kawasan bersejarah dan penataan kota tua memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Gagasan ini bisa dieksplorasi lebih lanjut bersama kementerian dan lembaga terkait,” katanya.

Sementara itu, Chairman CSCI, Gao Bo, menegaskan bahwa pembangunan tidak semata berorientasi pada aspek fisik, melainkan juga harus memperhatikan karakter budaya masyarakat setempat.

Menurutnya, pemahaman terhadap nilai dan tradisi lokal menjadi bagian penting dalam setiap proses perencanaan pembangunan.

“Selain desain dan konstruksi, sebuah pembangunan juga harus memahami karakteristik budaya lokal di kawasan tersebut,” ujar Gao Bo.

Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dari Kementerian PPN/Bappenas serta jajaran pimpinan CSCI.

Dari pihak Kementerian Kebudayaan hadir Direktur Jenderal Pelestarian Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Staf Ahli Menteri Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan Masyitoh Annisa Ramadhani Alkitri, Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual I Made Dharma Suteja, serta Direktur Kerja Sama Kebudayaan Mardisontori.

Menutup pertemuan tersebut, Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat ekosistem budaya melalui pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dan pelestarian warisan sejarah bangsa.

Menurutnya, kolaborasi ini tidak hanya menjadi bagian dari hubungan diplomatik Indonesia dan Cina, tetapi juga menjadi langkah penting untuk memastikan nilai-nilai budaya tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment