Mabur.co – Sejak bertahun-tahun lamanya, pasar tradisional begitu identik dengan lokasi yang terlihat kotor, penuh bau tidak sedap, kumuh, dan sebagainya.
Semua itu seolah menjadi pemandangan lazim di setiap pasar tradisional. Dan anehnya, hal itu seperti terus-menerus dibiarkan sampai saat ini.
Dilansir dari laman Disperindagkop Kota Yogyakarta, Kamis (18/6/2026), pasar tradisional umumnya memiliki manajemen pengelolaan sampah yang kurang baik, kerap menghadapi keterbatasan fasilitas, dan sulitnya menata pedagang-pedagang kecil yang hendak berjualan.
Sayangnya memang kondisi-kondisi semacam itu terus dibiarkan begitu saja, sehingga tercipta stigma negatif bahwa pasar tradisional memang berbentuk seperti itu.
Meskipun beberapa pasar tradisional sudah ada yang direvitalisasi, direnovasi, dan lain sebagainya, namun tetap saja, pandangan negatif masyarakat terkait pasar tradisional tidak bisa lenyap begitu saja.
Untuk penjelasan selengkapnya terkait mengapa pasar tradisional sering terlihat kumuh, Anda bisa menyimak dalam uraian di bawah ini.
1. Buruknya Sistem Pengelolaan Sampah
Seperti yang kita ketahui, seringkali Tempat Pembuangan Sampah (TPS) berada di dekat, atau bahkan berlokasi langsung di dalam kawasan pasar tradisional. Tentu saja hal ini secara tidak langsung sudah menjadi identitas tersendiri bagi pasar tradisional, yang memang seringkali menimbulkan bau yang tidak sedap.
Hal itu semakin diperparah dengan lemahnya kesadaran para pedagang maupun pembeli untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga membuat sampah-sampah tersebut menumpuk di titik-titik tertentu, yang pastinya membuat lingkungan dan suasana di sekitarnya menjadi tidak nyaman.
Alhasil, pasar tradisional juga kerap menjadi “sarang baru” bagi lalat maupun serangga-serangga lainnya, untuk hinggap di tempat ini dalam waktu lama.
2. Buruknya Sistem Drainase dan Sanitasi
Selain tentang sampah, pasar tradisional juga kerap mengalami masalah kurangnya saluran air yang memadai, atau mampetnya gorong-gorong di sekitarnya, sehingga menyebabkan air limbah tergenang, yang membuat lantai pasar menjadi becek, licin, dan kotor.
Dan lagi-lagi, pemandangan seperti itu seolah-olah terus dibiarkan begitu saja, tanpa ada penanganan berarti dari para pedagang, pembeli, maupun manajemen dari pasar itu sendiri.
3. Keterbatasan Fasilitas Dasar
Di banyak daerah (terutama daerah terpencil), pasar tradisional kerap menghadapi kendala fasilitas dasar, seperti kurangnya pasokan air bersih, dan minimnya fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus). Dengan begitu, tentu saja tingkat kebersihan harian pasar menjadi tidak optimal.
4. Penataan Kurang Teratur
Banyak pasar tradisional juga tidak melakukan pemetaan atau zonasi yang baik, terkait lokasi yang digunakan oleh para pedagang untuk berjualan. Karena semua pedagang pastinya menginginkan lokasi berjualan yang ramai dan sering dilewati orang, sehingga membuat persaingan di titik tertentu menjadi sulit dihindari.
Lebih dari itu, pasar tradisional juga kurang memiliki sirkulasi udara yang memadai, apalagi untuk menyimpan atau meletakkan jenis dagangan tertentu, seperti daging basah, sayuran kering, dan seterusnya, sehingga produk yang dijual pun menjadi kurang higienis, dan sulit menarik pehatian pembeli.
***
Tak bisa dipungkiri, isu semacam ini sudah berlangsung sejak bertahun-tahun lamanya, namun kesadaran dari berbagai pihak dinilai masih kurang, untuk dapat mengatasi masalah yang satu ini.
Maka wajar saja, ketika banyak orang mulai beralih ke pasar yang lebih modern, seperti supermarket, minimarket, pasar malam, hingga mall di tengah kota, untuk memperoleh barang-barang kebutuhan mereka sehari-hari.
Karena di pasar modern, produk yang sama tetap bisa diperoleh dengan harga yang tidak jauh berbeda (meskipun tidak bisa ditawar), dikemas dengan lebih modern dan profesional, serta keamanannya juga lebih terjamin, ketimbang produk yang sama yang dijajakan di pasar tradisional.
Tentu saja pihak pengelola pasar tradisional harus kembali berbenah, agar napas utama perekonomian nasional tetap terus tumbuh. Sehingga para pedagang maupun pembeli juga tetap mampu memperoleh apa yang mereka butuhkan, tanpa harus mengorbankan hal-hal lainnya. (*)

