Mabur.co – Desas-desus mengenai penyelenggaraan liga sepak bola putri akhirnya mulai terjawab.
Setelah melakukan kongres pada Senin ini (3/8/2026), PSSI secara resmi mengumumkan penyelenggaraan liga sepak bola putri akan dimulai pada bulan Oktober tahun ini.
Meski sudah memiliki talenta-talenta pesepak bola putri dari berbagai daerah, namun PSSI tetap memastikan bahwa keberadaan liga atau kompetisi reguler tetap diperlukan, sebagai bagian dari pembibitan jangka panjang, dan juga pertumbuhan ekosistem sepak bola putri di tanah air.
“Saya sampaikan bahwa kompetisi pembinaan putri sudah berjalan di 16 provinsi, bahkan sudah mendeteksi data hampir 50 ribu talenta (pemain sepak bola putri). Dan untuk liga putri akan berjalan pada bulan Oktober (2026), dan diikuti oleh enam klub, untuk kalender dan lain-lain ada semua di (PT) Liga,” ucap Ketua Umum PSSI yang juga Menpora di Kabinet Merah Putih, Erick Thohir, usai menjalani Kongres PSSI di Jakarta, sebagaimana dikutip dari laman Okezone, Senin (3/8/2026).
Menyiapkan Talenta Terbaik untuk Tim Nasional
Selain itu, Erick menyampaikan bahwa kehadiran liga putri akan sangat membantu tim nasional putri, untuk dapat menjaring pemain-pemain terbaik, yang berasal dari jenjang kompetisi reguler dan berskala nasional.
“Kita melihat bahwa prestasi tim nasional putri saat ini yang sudah mulai terlihat, tapi baru di level dua. yaitu juara (Piala) AFF dua kali berturut-turut. Sehingga ke depannya punya kesempatan untuk berkompetisi di level tertinggi di Asia Tenggara, yang mana di situ ada Thailand, Vietnam, dan juga Filipina. Apalagi ketiga-tiganya sudah masuk ke Piala Dunia (wanita). Artinya kita harus mulai berani meningkatkan performa, agar bisa segera bersaing dengan negara-negara yang saya sebutkan tadi,” lanjut mantan Presiden Inter Milan tersebut.
Dengan hadirnya liga putri, tentu saja diharapkan agar Indonesia bisa segera memiliki ekosistem sepak bola yang konsisten dan berkelanjutan.
Sekaligus menghasilkan talenta-talenta terbaik bagi tim nasional putri dari segala kelompok umur, serta menghindari program naturalisasi secara terus-menerus, yang tentu saja tidak baik untuk perkembangan pemain lokal ke depannya. (*)
