Mabur.co- Sarung merupakan salah satu elemen pakaian tradisional yang memiliki kedudukan penting dalam budaya masyarakat Nusantara, khususnya di Indonesia. Berkembang juga di negara lain seperti Malaysia, Brunei, dan sebagainya.
Lebih dari sekadar kain yang melilit tubuh, sarung menyimpan beragam makna dan filosofi yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat yang menggunakannya.
Wakil Ketua 1 Takmir Masjid Jami Pathok Negoro Mlangi, Muhammad Mustafid, mengatakan, sarung santri merupakan salah satu ekspresi kesederhanaan, kesetaraan, kepatuhan, dan kesalehan.
Jadi, bagi pesantren, sarung adalah identitas sosial. Sarung memiliki fungsi syariat menutupi aurat, fungsi ibadah, fungsi kepraktisan, dan fungsi sosial budaya.
“Dalam konteks Islam-Jawa, secara historis struktural, sarung juga menjadi bahasa perlawanan kebudayaan,” ujarnya saat diwawancarai via telepon, Sabtu (20/6/2026).

Muhammad Mustafid, mengatakan pula, Ricklefs membaca Islamisasi Jawa sebagai proses panjang, penuh negosiasi antara syariat, istana, desa, dan kebudayaan lokal.
Pesantren dan Budaya Jawa
Kajian tentang pesantren dan kebudayaan Jawa mencatat bahwa pada masa awal, santri akrab dengan busana Jawa, teks Islam berbahasa Jawa, suluk, wirid, dan macapat.
Lalu datang kolonialisme. Datang jas, celana, mode Eropa. Pesantren memilih sarung. Bukan karena miskin atau tidak bisa memakai. Namun karena punya garis. Peci dan sarung disebut para peneliti sebagai pakaian ibadah, identitas santri, identitas masyarakat, sekaligus pembeda pribumi dari penjajah. Maka sarung bagi pesantren adalah artefak hidup yang berjalan.
“Di dalamnya ada pesantren, Jawa, kiai, ibadah, rakyat kecil, dan sikap menolak tunduk pada modernitas kolonial. Pesantren memiliki prinsip, man tasyabbaha biqoumin fahuwa minhum,” katanya.
Muhammad Mustafid, mengatakan lagi, sarung sebagai kain pakai sudah masuk dan beredar di kawasan pesisir Sumatra, Madura, dan pantai utara Jawa lewat dunia niaga Muslim sejak kira-kira abad ke-14.
Encyclopedia of Clothing and Fashion mencatat sarung sebagai busana masyarakat pelaut Melayu dekat Sumatra-Jawa, lalu masuk ke Madura dan pesisir utara Jawa.
“Saat itu sarung belum menjadi tradisi merata di pedalaman Jawa. Artinya, mula-mula sarung adalah budaya pesisir, niaga, dan Islam maritim. Bukan langsung seragam santri sejak awal. Kecuali sedikit masyarakat yang memang sudah mengalami proses santrinisasi,” katanya.
Muhammad Mustafid menjelaskan pula, sarung mulai benar-benar melekat pada santri ketika pesantren Jawa menguat sebagai ekosistem sosial pada abad awal ke-19 sampai sekarang.
Di masa itu, jaringan haji, kitab kuning, kiai, pondok, dan desa santri makin padat. Martin van Bruinessen menulis bahwa kurikulum pesantren modern-tradisional yang dikenal sekarang sebagai formasi kuat sejak awal abad ke-19. Sementara kajian pesantren menyebut Tegalsari, Tebuireng, dan jaringan pesantren Jawa sebagai pusat penting sejak abad ke-18 hingga awal abad ke-20.
“Pada fase kolonial inilah sarung berubah status. Dari kain harian menjadi identitas,” katanya.
Muhammad Mustafid mengatakan lagi, sarung dari pakaian ibadah menjadi tanda kaum pesantren. Dari busana rakyat menjadi batas kultural, reaksi terhadap jas, celana, dan mode Eropa, yang dipakai kaum penjajah dan komprador.
“Sarung mulai masif dan melekat kuat pada santri sejak awal abad ke-19, lalu menjadi identitas nasional pesantren pada awal abad ke-20,” katanya.
Simbol Perlawanan Hegemoni Kultural Barat
Menurut Muhammad Mustafid pula, tidak ada perbedaaan antara sarung santri dengan sarung pada umumnya. Hanya saja, di pesantren, varian motif, kain, bahan, sangat beragam. Sarung merupakan simbol perlawanan hegemoni kultural Barat tetapi bukan sekadar perlawanan simbolik. Sarung bekerja sebagai perlawanan kultural. Pada masa penjajahan, kolonialisme Barat datang lewat sekolah, birokrasi, jas, celana, sepatu, dan ukuran manusia modern.
“Pesantren menjawab dengan tetap bersarung. Kiai tetap bersarung. Masjid, langgar, bilik pondok, dan forum mengaji menjadi ruang counter hegemony. Peci dan sarung menjadi identitas pembeda pribumi dan penjajah, sekaligus bentuk resistensi terhadap mode Eropa kolonial,” tegasnya.
Di mata Muhammad Mustafid juga, di kalangan pesantren, sarung juga menjadi garis kebudayaan. Garis kultural antara pesantren dan hegemoni kolonial. Garis antara tubuh yang tunduk pada kiai dan tubuh yang dihegemoni oleh kolonial. Karena itu sarung memuat pesan politik kuat.
“Arsip perjuangan juga menyebut sarung pada zaman penjajahan identik dengan perjuangan melawan budaya Barat, terutama karena masyarakat santri konsisten memakainya ketika kelompok lain mulai beralih ke celana formal,” pungkasnya. ***

