Mabur.co- Keris, senjata tradisional khas Indonesia, bukan hanya sekadar pisau tajam, tetapi juga sebuah karya seni yang sarat makna simbolis dan nilai sejarah. Dengan bilah yang melengkung, gagang yang indah, dan pamor yang unik, keris menjadi lambang keberanian, keindahan, dan warisan budaya yang kaya.
Keris telah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, dan sejak itu, senjata ini menjadi bagian integral dari budaya dan sejarah Nusantara. Terdapat berbagai teori mengenai asal usul keris, tetapi sebagian besar setuju bahwa keris muncul di wilayah ini sekitar abad ke-9 hingga ke-10 Masehi.
Aneka Simbol
Keris menjadi simbol kekuatan, keberanian, dan spiritualitas, dan digunakan oleh raja, ksatria, serta tokoh-tokoh terkemuka. Sarung atau wadah tertentu untuk menyimpan bilah keris. Komponen ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung fisik agar keris tetap aman, tetapi juga memiliki nilai seni, estetika, dan filosofi yang tinggi di mata masyarakat.
Dilansir dari Kemendikdasmen, Minggu (21/6/2026), Surakarta dan Yogyakarta memiliki pakem tersendiri untuk bentuk dan bahan warangka keris yang menjadi pilihan.
Keraton Jawa memilih kayu yang istimewa untuk bahan warangka, berbeda dengan keraton Bali, misalnya, yang gemar memakai warangka gading.
Urutan bahan kayu yang menjadi pilihan utama bahan warangka di Surakarta adalah: cendana wangi (Santalum album), timaha (Kleinhovia hospital), trembalo (Dysoxylum acutangulum), mentaos (Drypetes ovalis), dan kayu mindi (Melia azedaracti).
Dua kayu yang terakhir khusus dipakai untuk warangka sunggingan (dilukis). Ada pun di Yogyakarta, urutan bahan kayunya adalah: timaha, trembalo, cendana wangi, dan kemuning.
Bahan Kayu
Keris Jawa, selain menggunakan bahan kayu sebagai bahan warangka, juga terkadang menampilkan bahan lain untuk warangka klan hulunya. Ada juga bahan gading, barn (rahang geraham gajah), logam mulia, klan tanduk hewan kerbau, badak atau rusa.
Namun penggunaan gading, misalnya, nilai sosialnya tetap di bawah penggunaan kayu timaha clan cendana untuk warangka serta kayu tayuman untuk hulu keris. Hal itu disebabkan karena ketinggian keluhuran kebangsawanan Jawa disimbolkan dengan kesederhanaan yang dalam, sarat makna yang tinggi, bukan dengan kemewahan yang glamor.
Walau nilai ekonomis gading jauh di atas nilai harga hulu kayu tayuman, tapi nilai prestise sosial budaya hulu tayuman jauh lebih tinggi. Walau nilai ekonomis bahan kayu tetap di bawah harga gading gajah.
Keris Jawa kebanyakan memakai warangka berbahan kayu. Pemilihan khazanah kayu ada yang mengedepankan pola belang pada kayu, dan ada pula yang mencari pola guratan urat kayu nganam seperti membentuk hologram (mberut nginden).
Jenis warangka yang pertama adalah sandhang walikat, dipakai untuk keris yang dibawa tersembunyi di balik baju. Hal itu disengaja untuk keperluan perjalanan jauh, atau mengharap daya kesaktian keris tanpa ingin terlihat oleh orang lain.
Disebut sandhang walikat karena dipakai (disandhang) di pinggang samping, di bawah tulang belikat. Zaman sekarang, hanya keris-keris berbilah pendek yang memakai warangka sandhang walikat.
Dahulu hampir semua keris diwayuh (dibuatkan warangka lebih dari satu yang diibaratkan seperti poligami), dengan warangka ladrang, gayaman, dan sandhang walikat sekaligus.
Warangka penanggalan (wulan tumanggal) adalah jenis kedua, yang diyakini sebagai warangka resmi pada zaman awal Mataram Islam.
Bentuk warangka ini diambil dari penampakan bulan sabit tepat pada tanggal satu (nanggal sapisan) dalam penanggalan Qomariyah (kalender lunar). Bentuk warangka yang ketiga adalah ladrang (versi Surakarta) atau branggah (versi Yogyakarta).
Bentuk warangka ini adalah yang paling indah dan paling populer. Jejeran keris yang dipasang dengan warangka ini, terlihat seperti orang yang sedang mengendarai sebuah perahu, dan dipercaya melambangkan manusia yang sedang mengarungi lautan kehidupan.
Warangka gayaman adalah bentuk warangka yang ketiga dan memang diambil dari stilasi buah pohon gayam (Inocarpus fagiferus).
Warangka gaya Branggah Yogyakarta memiliki wanda tersendiri, yang mengikuti nama wanda deder, yaitu: wanda Mangkuratan, Pakubuwanan, Banaran, Mangkubumen, Krajan, dan Taman Ngabeyan.
Pada pementasan wayang orang, pemakaian wanda warangka ladrang I branggah ini, juga harus disesuaikan dengan postur dan watak tokoh wayang yang dimainkan. ***

