Mabur.co – Di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat seperti saat ini, menerbitkan sebuah buku, apalagi dalam versi cetak, tentunya menjadi semakin menantang, dan tidak semudah belasan hingga puluhan tahun sebelumnya, ketika pasar penerbitan maupun penjualan buku cetak masih tinggi-tingginya.
Bagi para sastrawan muda yang hendak mendokumentasikan karya-karyanya dalam bentuk buku, terutama cetak, mereka butuh terobosan baru dan unik, agar bisa berkarya di bidang ini, serta bertahan di dalamnya dalam waktu lama.
Hal itulah yang turut didiskusikan dalam acara Selasa Sastra edisi Mei 2026 bertajuk “Batas Asa, Ruang Harap” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (5/5/2026).
Meskipun telah tergerus zaman dan piranti digital (ponsel, tablet, laptop, dan lain-lain), namun tak bisa dipungkiri, bahwa pesona buku cetak tetap tak pernah tergantikan. Karena kepuasan menghasilkan karya yang dicetak rapi sedemikian rupa (dengan prosesnya yang begitu rumit) merupakan bentuk kepuasan tersendiri bagi setiap orang, termasuk bagi sastrawan muda sekalipun.
Menurut Anastasya Arsiwi Anggita Dewi (Gita), yang berasal dari pihak penerbit Ananta Vidya, jika sastrawan generasi muda bermimpi menerbitkan karya-karya sastranya ke dalam buku versi cetak, serta memperoleh penghasilan tetap dari bukunya tersebut, ia setidaknya harus memiliki basis followers (di media sosial) yang memadai, sekurang-kurangnya mencapai sepuluh ribu (di Instagram).
Dengan begitu, kemungkinan bukunya akan terjual (ada followers-nya yang membeli buku tersebut) menjadi lebih besar.
“Bagaimanapun juga, penerbit itu melihat penulis sebagai bagian dari project. Artinya si penulis ini punya nilai apa sih, apakah dia terkenal di media sosial. Jadi mungkin tulisannya biasa aja, tapi mungkin pasarnya bisa sampai puluhan juta orang. Dia bikin satu buku, dijual, pasti ada yang beli (profit), sehingga ada nilai ekonominya disitu. Nah ini akan jadi nilai bagi penerbit untuk mengambil karya dari si penulis (yang terkenal di media sosial) tersebut,” ungkap Gita, dalam sesi diskusi bertema “Sastrawan Muda Menembus Dunia Penerbitan” yang merupakan rangkaian dari kegiatan Selasa Sastra, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Bang Tedi Way, Selasa (5/5/2026).
Gita pun menawarkan dua opsi praktis (namun sulit) bagi para sastrawan muda, agar karyanya bisa diterbitkan oleh penerbit tanpa memerlukan modal sama sekali (kecuali modal niat serta naskah).
“Poin kedua, kira-kira tulisannya ini, penerbitnya nggak terkenal, dia (penulis) nggak punya followers (dengan jumlah yang memadai), nggak suka nulis juga, tapi kok ternyata bukunya cocok buat project negara, misalnya. Maka penerbit akan mempertimbangkan, ‘oh si penulis ini ada nilai ekonominya’, dan seterusnya.”
“Jadi bagi para penulis yang ingin menerbitkan buku tanpa modal sama sekali (kecuali modal niat dan naskah), untuk bisa masuk ke penerbit mayor, kalian cuma punya dua pilihan. Satu, kalian (penulis) sudah membangun pasar (basis followers yang kuat). Yang kedua, kalian punya naskah yang pasti akan dibeli oleh pasar,” tambah Gita.
Sementara menurut penulis kawakan seperti Tedi Kusyairi, menghidupkan kembali semangat penerbitan bagi sastrawan generasi muda sebenarnya susah-susah gampang. Karena dalam pemilihan penerbit pun, penulis harus cermat dalam memutuskan, kira-kira karyanya akan diterbitkan di penerbit mana, dengan segala pertimbangan dan risiko yang harus bisa diantisipasi dengan sebaik mungkin.
“Saya kira impian semua penulis muda itu kan rata-rata ‘aku pengin nerbitkan buku, dan langsung best seller, lalu terkenal, aku dapet duit dari bukunya,’ dan seterusnya, kan seperti itu. Ya itu mimpi semua orang sih ya. Tapi sayangnya para penulis ini seringkali kurang memetakan penerbit yang ingin dituju. Karena saya pikir mereka juga harus sering-sering datang ke pameran buku. Karena disitu akan kelihatan, mana penerbit yang representatif dan tidak, begitu. Jadi kalau ada penerbit tapi nggak pernah ikut pameran, ya bisa dibilang itu juga penerbit ‘bodong’, begitu,” ujar Tedi Kusyairi, yang juga pemilik dari lokasi acara ini berlangsung, yakni Kelingan Garden & Cafe, pada kesempatan yang sama.
Sesi diskusi ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Selasa Sastra edisi Mei 2026 bertajuk “Batas Asa, Ruang Harap”.
Selain sesi ini, ada pula sesi bedah dua buku antologi puisi dari peserta lulusan program Temu Karya Sastra “Daulat Sastra Jogja”, yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY.
Ada pula performance sastra spesial dari beberapa sastrawan ternama, diantaranya dari Tedi Kusyairi, Fitria Eranda, Sunawi, Nur Budi, Singgih Indarta, dan masih banyak lagi. (*)



