Mabur.co – Pernah mendengar nama Minke? Nama ini mungkin terdengar asing di telinga. Tapi bagi para penikmat sastra, nama Minke pasti pernah terngiang di telinga dan tak bisa dilupakan begitu saja.
Ya Minke adalah tokoh fiksi rekaan salah satu sastrawan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Dalam trilogi novelnya Bumi Manusia yang legendaris, sosok Minke adalah tokoh utamanya.
Meski tokoh rekaan, sosok Minke sebenarnya bukan sepenuhnya fiksi. Ia adalah refleksi dari sosok nyata dari seorang bernama Tirto Adhi Soerjo.
Lalu siapakah dia? Bagi yang pernah mendengar namanya, khususnya insan pers, sosok Tirto Adhi Soerjo adalah legenda. Ia tak hanya dikenal sebagai jurnalis pertama di Indonesia.
Tetapi juga pelopor, penggerak, sekaligus pemikir yang melihat pers sebagai alat perjuangan, jauh sebelum kata kemerdekaan menjadi cita-cita kolektif bangsa.
Tak heran, Tirto Adhi Soerjo hingga kini disebut-sebut sebagai bapak pers Indonesia.
Lahir pada tahun 1880 di Blora, Tirto hidup di masa ketika suara bumi putra nyaris tak punya ruang. Pers saat itu dikuasai orang Eropa dan Tionghoa, sementara pribumi lebih sering menjadi objek pemberitaan, bukan subjek yang berbicara.
Namun alih-alih, menerima begitu saja, Tirto menabrak batas itu. Dengan latar belajar pendidikan Barat yang ia miliki, ia menjadikan tulisan-tulisannya sebagai senjata. Bukan senjata fisik, tapi senjata kesadaran bagi rakyat di sekitarnya.
Dalam dunia jurnalistik, Tirto tercatat pernah mendirikan surat kabar Soenda Berita (1903), Medan Prijaji (1907) hingga Putri Hindia (1908). Media miliknya berbeda dari kebanyakan koran pada zamannya.
Medan Prijaji misalnya secara terbuka menuliskan berita yang membela kepentingan rakyat pribumi, mengkritik kebijakan kolonial, dan memberi ruang bagi suara yang selama ini dibungkam.
Dengan tulisan-tulisannya yang tajam, lugas, dan berani, Tirto menyuarakan ketidakadilan yang dialami rakyat dan bangsanya. Ia melawan para penjajah dengan intelektualitas.
Sebagai orang yang ‘berbahaya’, Tirto sempat berkali-kali berurusan dengan pemerintah kolonial Belanda. Ia diasingkan, diintimidasi, dan dipersempit ruang geraknya.
Usahanya di bidang pers pun terus ditekan. Namun, yang menarik, Tirto tak pernah benar-benar berhenti. Ia percaya bahwa pers bukan sekadar bisnis atau alat informasi, melainkan sarana perjuangan.
Selain sebagai jurnalis, Tirto juga aktif dalam organisasi pergerakan nasional. Ia terlibat dalam organisasi-organisasi awal yang didirikan saat masa pra kemerdekaan. Seperti Sarekat Prijaji, Budi Utomo, hingga Sarekat Dagang Islam, yang kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam.
Meski wafat pada 1918 dalam kondisi yang jauh dari gemerlap. Namun gagasan, keberanian, serta keberpihakan Tirto Adhi Soerjo pada kebenaran dan keadilan masih bisa ia warisan sampai saat ini.
Berkaca pada hal itu, momentum Hari Pers Nasional yang jatuh setiap 9 Februari, mestinya dapat menjadi refleksi bagi setiap insan pers hari ini. Yakni agar tetap memiliki keberpihakan pada siapapun yang masih tertindas, merasakan ketidakadilan, namun tak bisa bersuara.



