Seperti Air Selokan Mataram, Biaya Kuliah Winda Mengalir hingga ke Kampus

4 Min Read
Group of people in blue shirts and hats pose with a large banner outdoors in front of an intricate blue gate backdrop.
Rombongan Telusur Sejarah #6 saat tiba di Pintu Bagi Air hulu selokan Van Der Wijk. (Foto: BB Maras)
4 dari 4 Series - Menemukan Catatan Sejarah di Arus Air Selokan Mataram

Mabur.co – Ada lima anak muda sekaligus mahasiswa penerima Beasiswa Sleman Pintar yang ikut dalam Jelajah Sejarah yang selama ini dilaksanakan Disbud Sleman.

Jadi telusur sejarah bukan hanya diikuti komunitas dan kalangan usia paruh baya atau generasi senior, tetapi juga diikuti sejumlah anak muda, baik dari Historian Muda maupun dari sejumlah mahasiswa penerima beasiswa Sleman Pintar.

Kemarin, Selasa 21 Oktober 2026, salah satunya Winda Hermastuti, mahasiswi Manajemen Informatika Amikom Yogyakarta, asal Ngemplak yang juga ikut magang di Disbud Sleman, beberapa waktu terakhir.

Winda bukan anak sejarah. Kuliahnya coding, database, jaringan. Tapi kemarin ia berdiri di atas Bendung Karangtalun, melihat langsung Buk Renteng, tempat air Selokan Mataram mengalir di atas jalan, sambil mencatat, memotret dan merekam dengan kamera video.

“Saya baru tahu, selokan ini dibangun Sultan untuk selamatkan rakyat dari romusha,” katanya sambil tertawa memutar kamera videonya yang menangkap lanskap di sekeliling.

Berkat Beasiswa Sleman Pintar

Winda adalah bagian dari Program Sleman Pintar, program Beasiswa Pemkab Sleman untuk memutus rantai kemiskinan melalui akses pendidikan, dengan memastikan setiap keluarga kurang mampu atau rentan miskin, memiliki kesempatan melahirkan minimal satu sarjana.

“Aku salah satu pemilik kartu putih, Mas, jadi bisa dapat beasiswa itu dan kuliah” kata Winda, saat berbincang dalam bus menuju Pintu Bagi Air Van Der Wijk.  

Five women wearing hijabs pose for a selfie outdoors near a white gate and a parked bus.
Winda, paling depan (kanan) bersama beberapa temannya sesama penerima Beasiswa Sleman Pintar yang magang di Disbud Sleman. (Foto: BB Maras)

Program ini didesain bukan sekadar program bantuan sosial biasa, melainkan instrumen vital untuk melahirkan generasi muda Sleman yang cerdas, kritis, kreatif, sekaligus inovatif, tulis mediacenter.slemankab.go.id saat peluncuran kerja sama dengan 34 perguruan tinggi, 22 Mei 2026, dikutip mabur.co, Kamis (22/10/2026).

Dengan beasiswa ini, generasi muda Sleman yang kurang mampu Bisa Kuliah Gratis di UPN Veteran Yogyakarta, misalnya, melalui Beasiswa Sleman Pintar dengan pembiayaan gratis pendidikan hingga 100 persen, tulis upnyk.ac.id.

Program ini pastinya menyasar keluarga kurang mampu, rentan miskin, PKH, anak dari orang tua disabilitas tidak mampu, dan sejenisnya.

Patah Tumbuh Hilang Berganti

Winda cerita, “Kalau bukan karena Beasiswa Sleman Pintar, mungkin saya belum bisa kuliah, Mas. Ini sangat membantu. Beasiswa ini bukan cuma bayar UKT, tapi kasih magang, pelatihan AI, bahkan bekal dan kesempatan untuk berkompetisi di dunia kerja di masa depan”.

Di Bendung Karangtalun, Winda mendengar mitos bisikan Sunan Kalijaga kepada Sultan HB IX untuk menyatukan Progo-Opak.

Di Van Der Wijk, ia lihat langsung pintu bagi yang mengalirkan air ke 5.159 hektare sawah.

“Saya anak Ngemplak, Mas,” akunya. Mungkin sawah orang tua dan keluarga Winda di Ngemplak juga ikut mendapat berkah dari Selokan Mataram dan Van Der Wijk.

Bisa juga Winda akhirnya memahami, bagaimana Selokan Mataram bekerja mengaliri sawah-sawah petani termasuk keluarganya dan menghasilkan beras yang mereka konsumsi setiap hari.

Kepala Dinas Sosial Sleman, Wawan Widiantoro, pernah bilang: “Kami meyakini bahwa kemajuan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusianya,” dikutip kabarjawa.com.

Kemarin, kualitas itu terlihat. Anak Manajemen Informatika mengerti sejarah irigasi, bukan karena ujian, tapi karena diajak jalan Disbud Sleman, menelusuri peradaban Tanah Sembada yang subur ini.

Seperti lirik lagu Banda Neira: “Yang patah tumbuh, yang hilang berganti.”

Winda pulang dengan tugas baru, mungkin membuat peta digital dan video dokumenter tentang Selokan Mataram, termasuk dokumen untuk Disbud Sleman.

Tempat ia magang, mengenal dunia kerja lebih dini seperti selama ini. Jika dulu air digali dengan romusha, kini dirawat dengan data digital. Lewat refleksi dokumenter sejarah yang mengharu biru generasi muda. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar