2 dari 2 Series - Menemukan Catatan Sejarah di Arus Air Selokan Mataram
Mabur.co – Bendung Karangtalun sering disebut Bendungan Ancol. Letaknya di Desa Bligo, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tepat di perbatasan dengan Banjaroyo, Kalibawang, Kulon Progo, DIY.
Koordinat 7°39’56″S, 110°15’51″E. Orang Magelang bilang Bligo, orang Kulon Progo bilang Ancol, padahal bendungnya satu.
Ini salah satu bendung tertua di Indonesia, dibangun 1909, tulis budaya.jogjaprov.go.id. Dikutip mabur.co, Rabu (21/10/2026).
“Awalnya untuk tebu,” kata Tyas, penulis buku “Napak Tilas Selokan Mataram Kelok yang Bersatu” saat memandu rombongan penelusuran sejarah selokan Mataram.
Ketika Belanda mulai menerapkan sistem tanaman satu jenis saat itu 17 pabrik gula berdiri di Yogyakarta, butuh air.
“Belanda bangun bendung ini untuk menyediakan kebutuhan air bagi perkebunan tebu,” lanjut Tyas.
Seperti Damar, Satu Sumber, Banyak Membagi
Fungsinya sederhana tapi vital: menaikkan muka air Sungai Progo, lalu memecahnya. Bendungan Karangtalun memiliki empat pintu air yang berfungsi memecah arus Kali Progo yang masuk di saluran irigasi tersebut, juga sebagaimana dilansir budaya.jogjaprov.go.id.
Dari empat pintu itu, air dibagi ke tiga saluran induk: Saluran Induk Karangtalun 3,28 km, Selokan Mataram 30,98 km, dan Van der Wijck 3,57 km, ditambah sekunder 42,81 km.
Debit intake 12,502 m3/detik untuk 5.159 hektare sawah di Sleman, Bantul, Magelang, tulis Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak.

Konsepnya seperti damar, satu sumber, banyak bagi. Sistem bagi ada di Pogung, Kali Code, dan seterusnya. Hulunya jauh. Sungai Progo memiliki daerah aliran seluas 2.380 km2 dengan panjang sungai 140 kilometer.
Sungai Progo melintas dari bagian tengah Jawa Tengah yang berhulu di Gunung Sumbing-Sindoro, tulis scribd morfologi Progo yang juga ditegaskan oleh Tyas pada semua rombongan.
Gunung Sumbing-Sindoro itu di Temanggung-Wonosobo, jarak dari puncak ke Ngluwar sekitar 65-70 km lurus, tapi kalau ikut alur sungai bisa 90 km lebih.
Hulu kedua dari Gunung Sumbing, ketiga Merbabu, keempat Merapi. Jadi air yang sampai di Karangtalun sudah mengumpulkan air dari empat gunung.
Pesan Sunan Kalijaga
Mitosnya, konon setelah mengunjungi Bendungan Karangtalun, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mendapatkan bisikan dari Sunan Kalijaga untuk menyatukan Kali Progo dan Opak yang jaraknya sangat jauh sekali, tulis budaya.jogjaprov.go.id.
Sabda Sunan Kalijaga itu dianggap mustahil, Progo di barat, Opak di timur. Legenda di Jawa selalu menceritakan bahwa Sunan Kalijaga pernah menyampaikan secara turun temurun pada anak cucunya; “Yogyakarta akan makmur kalau Sungai Progo dan Kali Opak bersatu”. Tapi sekarang jadi nyata lewat Selokan Mataram.
Hari ini, setelah revitalisasi 2024 oleh BBWS Serayu Opak, kawasan Bendung Karangtalun jadi cantik, gapura seperti candi, ada gazebo, panggung.
Bendungan ini kondisinya semakin bagus dan menarik. Bangunan gapura di pintu masuk begitu indah.
Seorang pedagang, Yani namanya, bilang: “Dulu katanya akhir Desember 2024 dibuka, namun hingga kini belum diresmikan. Padahal banyak wisatawan domestik yang datang terutama Sabtu dan Minggu,” ujarnya dikutip beritamagelang.id.
Tapi kini, bendung Karangtalun-Ancol, airnya terus mengalir, membelah Jateng dan DIY, dari Wonosobo sampai Samudra Indonesia di Kulon Progo.
Bendung air yang mengatur hidup ribuan hektare padi, lahan pertanian, perikanan air tawar bahkan mengatur ritme hidup manusia di sekitarnya.
