Mabur.co – Batik yang kini identik dengan Indonesia ternyata pernah menjadi tren di berbagai negara Eropa pada awal abad ke-20.
Popularitas batik di Eropa bahkan mencapai puncaknya sekitar 1918 hingga 1925. Saat itu, teknik membatik digunakan tidak hanya untuk membuat kain, tetapi juga dikembangkan sebagai karya seni, dekorasi interior, perabotan hingga busana.
Dikutip dari The Batik Guild, Senin (28/9/2026), ketertarikan masyarakat Eropa terhadap batik mulai berkembang pada akhir abad ke-19. Di Amsterdam, Belanda, sekelompok seniman muda pada 1890-an mulai memperkenalkan teknik batik untuk kebutuhan dekorasi.
Eksperimen tersebut kemudian terus berkembang. Batik tidak lagi sekadar dipandang sebagai teknik menghias kain, tetapi menjadi bagian dari perkembangan seni dekoratif dan desain di Eropa.
Memasuki awal abad ke-20, ribuan seniman dan perajin di Eropa serta Amerika bahkan mulai mempraktikkan teknik batik.
The Batik Guild mencatat, popularitas batik mencapai puncaknya pada periode 1918-1925. Batik saat itu berkembang di sejumlah negara, antara lain Belanda, Jerman, Prancis, Polandia, dan Inggris.
Ketertarikan Eropa terhadap batik tidak bisa dilepaskan dari perdagangan tekstil dan hubungan dagang dengan Asia termasuk Indonesia.
Jauh sebelum populer di Eropa, teknik pewarnaan dengan metode semacam ini telah dikenal di berbagai wilayah dunia. Selain di Indonesia, teknik pembuatan kain batik juga ditemukan di Timur Tengah, Asia Tengah hingga India.
Di wilayah Nusantara khususnya Jawa, batik memiliki akar budaya sangat kuat dan memiliki kekhasan tersendiri.
Para pedagang Tionghoa, Arab, India dan Eropa turut terlibat dalam perdagangan batik di wilayah Jawa pada pertengahan abad ke-17.
Jejak perkembangan batik juga terlihat dalam peninggalan budaya Jawa. Seperti relief atau ukiran batu dari abad ke-13 di Jawa Timur menampilkan pola yang menyerupai batik.
Sementara itu, figur pada relief Candi Borobudur dan Prambanan juga digambarkan mengenakan pakaian dengan pola yang disebut menyerupai motif batik.
Eropa Mencoba Memproduksi Batik
Popularitas batik kemudian mendorong industri tekstil Eropa mencoba memproduksi kain dengan teknik serupa.
Sekitar 1835, produsen tekstil di Belanda bahkan mulai berupaya melakukan mekanisasi produksi batik. Mereka menggunakan rol tembaga dan bahan tahan pewarna untuk membuat kain bermotif menyerupai batik.
Namun, produk tersebut tidak mendapat respons seperti yang diharapkan dari masyarakat Jawa. Sehingga kain hasil produksi industri Eropa itu kemudian justru dipasarkan ke Afrika Barat.
Di Jawa, perkembangan industri tersebut juga mendorong perajin mencari cara agar proses pembuatan batik lebih cepat.
Salah satunya dengan mengadaptasi teknik cetak blok menggunakan stempel tembaga atau tjap untuk mengaplikasikan lilin panas pada kain.
Batik Masuk ke Dunia Seni Eropa
Batik tidak berhenti sebagai barang dagangan. Di tangan seniman Eropa, teknik tersebut berkembang menjadi medium untuk bereksperimen dengan karya seni.
Di Amsterdam pada 1890-an, para seniman mulai menggunakan batik untuk dekorasi interior dan perabotan. Teknik tersebut kemudian merambah dunia mode.
Perkembangan itu membuat batik semakin dikenal di kalangan seniman dan perajin Eropa. Karya batik bahkan juga muncul dalam gaya seni yang berkembang pada masa tersebut. Salah satunya adalah selendang batik sutra bergaya art deco karya Ragnhild d’Ailly pada 1928.
The Batik Guild mencatat, sepanjang abad ke-20 kain imitasi batik juga diproduksi oleh sejumlah perusahaan percetakan tekstil Eropa, terutama di Inggris dan Belanda.
Salah satu perusahaan yang masih membuat kain dengan teknik cetak lilin tersebut hingga kini adalah Vlisco di Helmond, Belanda.
Setelah mengalami masa kejayaan pada awal abad ke-20, popularitas batik di negara-negara Barat kemudian menurun.
Memasuki 1960-an, batik kembali menarik perhatian seniman Barat. Teknik tersebut mulai digali, dieksplorasi dan disesuaikan dengan perkembangan seni kontemporer hingga saat ini.
